Menu
Menu

Si Penyu tua akhirnya memutuskan untuk merelakan cangkangnya dijadikan bakal hiasan mahkota wanita. Letih rasanya mendengar desakan kawanan penyu yang lain.


Oleh: Siswan Dewi |

Dilahirkan di Denpasar, 09 Februari 1995. Sedari tahun 2013 aktif menjadi relawan di ruang publik Bentara Budaya Bali, Kompas Gramedia, serta terlibat dalam penyelenggaraan berbagai gelaran seni budaya, program pemutaran film berkala Sinema Bentara, eksibisi seni rupa, eksibisi fotografi, diskusi sastra, lokakarya film dan sastra, serta festival film berskala nasional dan internasional, dan lain sebagainya.


Si bocah mengendap-endap masuk untuk melanjutkan membaca sebuah buku dongeng klasik yang sudah diburunya sejak bulan lalu. Ia tak lupa melepas sepasang sandal jepitnya yang semakin tipis dimakan jalanan aspal, menepikannya di paving beranda toko yang tidak berubin. Dahulu ia melakukan itu hanya karena ingat pesan Mbah—kalau mau bertamu ke tempat orang harus lepas alas kaki, tapi lambat laun hal ini menjadi bagian dari misinya untuk meredam langkah kaki dari si empu uzhur yang pandangannya mulai lamur.

Tatapannya seketika menjurus pada tumpukan buku yang diingatnya sejak malam kemarin. Biasanya ia akan meletakkan buku itu dengan kesadaran penuh, tak ingin kehilangan akibat keberadaannya yang manunggal di seantero toko buku sepuh itu. Sebelum membaca ia akan menggosok kedua telapak tangannya agar tidak meninggalkan jejak debu di antara lembaran yang sudah membuatnya kepayang beberapa waktu belakangan ini. Ia juga pernah diingatkan Mbahnya berkali-kali: “Jangan mengotori barang yang bukan kepunyaanmu!”

Segera saja si bocah memulai kembali ritusnya yang kedap itu, melumat deretan kalimat di antara relung pikir dan batinnya seorang. Hari ini ia mengawali dengan menyibak halaman buku bernomor enam puluh delapan, merapikan kembali lipatan lancip di bagian sudut yang hanya berani ia lakukan dalam ukuran yang sangat kecil, khawatir buku itu rusak, meninggalkan retakan di antara spasial narasi cerita yang kadung dicintainya. Meski napasnya masih tersengal akibat menahan suara langkah kaki yang menjengkal lebar-lebar, seketika bunyi kalimat pembuka fragmen kisah klasik itu membuatnya tenang, laiknya predator jinak ketika menatap sang pawang.

Penyu itu memilih kembali berteduh di sebalik cangkangnya, meredam amarahnya yang kian membuncah akibat perdebatannya dengan kawanan penyu lainnya. Belakangan ini si penyu hendak dihakimi massa penyu lainnya agar cangkangnya saja yang dijadikan mahkota penghias rambut wanita. Ia penyu tertua yang memiliki cangkang paling rapuh, kawanan lainnya menghendaki cangkangnya dijadikan tumbal, agar pemburu mahkota cangkang penyu di pesisir itu kecewa dengan hasil ukir mahkota yang ringkih. Sebagai penyu yang dituakan, ia tengah di persimpangan, di antara kehendak hati untuk bertahan hidup demi keluarga kecilnya atau kewajibannya sebagai tetua yang sudah sebaiknya berkorban bagi kawanan lainnya.

Si bocah membacakan narasi dengan suara hati yang dirasakannya pilu. Ia masih berdiri dengan sikap tubuh yang canggung, tungkai kakinya juga membentuk sudut yang tanggung, seperti dirundung dilema antara melenggang kabur atau bersetia dengan kisah seekor penyu yang murung. Sesekali ia menyapu pandangan ke sekitar, memastikan si empu toko buku tak menangkap keberadaanya yang tak kunjung membayar utuh buku itu. Bola matanya tertuju pada deretan kalimat yang merangkum semesta si penyu tua, lantas menjelmakan diri kembali menjadi narator bagi setapak nasib penyu itu.

Sang penyu tua memohon waktu untuk memutuskan jalan hidupnya di hadapan nasib kawanan lain yang menggantung di pundaknya. Tak pernah dirasanya bobot cangkangnya begitu berat, hingga pada hari saat para kawanan penyu membujuknya untuk mengorbankan diri demi kelestarian para penyu belia yang masih menggeliat di pesisir sekitar tempatnya tinggal. “Tapi bagaimana dua bocah penyuku sendiri? Siapa yang akan memburu santapan untuk mereka kelak? Bukankah bila cangkangku terlepas seutuhnya dari tubuhku, maka dagingku pun tak luput dari sasaran tusuk satai penyu yang kini tengah digandrungi kawanan manusia itu?” Sang penyu tua terus membatin.

Tak ada yang menjawab curahan hati si penyu, tak ada yang mampu merangkulnya, bahkan si bocah yang sedari tadi kian gelisah. Sesekali si bocah menangkap gelagat si tuan rumah yang kembali tersadar dari bunga tidur di siang bolong, lalu bergegas merapikan beberapa lembaran yang terlipat menyudut dan berserak di mejanya; ulah para pemburu buku lainnya yang tak kalah lihai mengendap-endap.

Itulah mengapa si bocah kerap mengigaukan fragmen kisah yang sempat dilahapnya saat menjelang tidur, laiknya merapal doa sebelum terlelap. Narasi kisah si penyu tua selalu membuatnya tercenung sembari menatap langit-langit gubuk tempatnya tinggal berdua dengan Mbah. Kediaman sederhana yang belakangan kerap disambangi para petugas kantor kecamatan yang hendak mendata ulang penduduk kampung. Mbah berkali-kali diingatkan untuk membuat kartu tanda penduduk dengan pilihan agama yang tersedia di dalam pilihan yang tertera. Mbah selalu menunda karena tidak ada pilihan Kejawen. Pernah Mbah berkilah bahwa umurnya sudah sangat ranum, akan sia-sia bila kartu identitas itu kelak rampung.

Si bocah kembali termenung. Dirasanya, Mbah seperti penyu tua yang bimbang. Belakangan Mbah lebih pendiam dibandingkan biasanya, ia kerap hanya memandangi liukan asap dupa setiap kali beribadah, seolah lupa dengan mantra doa yang biasa ia hapalkan di luar kepala. Adakah ritus itu kini membuatnya canggung untuk sekadar mencakapkan perasaannya seorang? Di manakah ia menepi belakangan? Di persimpangan ataukah di ujung jalan? Entah. Awalnya si bocah mengira Mbah hanya sedang murung karena asam muratnya kambuh, diurutnya sepasang kaki kurus dengan tulang kering yang kian menyembul itu sebelum Mbah tertidur.

“Kenapa Mbah tidak berobat ke dukun di dusun sebelah saja?” tanya si bocah suatu malam. “Ah…, Mbah kan bisa bikin obat yang manjur dari tanaman di halaman belakang,” tukas Mbah dengan tegas. “Oh ya..jangan lupa nanti haturkan sesajen ya, tadi sudah Mbah siapkan di dapur,” pinta Mbah sebelum akhirnya terlelap. Si bocah merasa heran. Membatin: “Kenapa pilihan berobat Mbah tidak serupa dengan caranya beribadah yang penuh liukan asap dan wewangi kemenyan itu? Bukankah Mbah pernah berkata, tanpa restu dari semesta, tubuh kita akan sedikit kaku, tidak luwes. Lalu ke semesta manakah Mbah meminta restu saat ini?”

Percoyo Marang Kepribaden Dhewe Tan Owah Gingsir!” Tiba-tiba Mbah mengigau di tengah lelapnya yang belum lama berselang.

*

Selama ini si bocah bertumbuh dari petuah-petuah Mbah yang kerap dilontarkan dalam bahasa Jawi. Meski terdengar asing, tetapi Mbah selalu memberi contoh dengan tindak tanduk yang begitu membumi. Hanya terdapat selapis tipis perbedaan kala Mbah tengah bertuah atau sedang bercanda. Biasanya Mbah akan membersihkan kerongkongannya sejenak sebelum menyampaikan sesuatu yang mendalam, selebihnya, raut wajah Mbah tetaplah tenang dan kerutan di sudut kelopak matanya yang menyipit menyiratkan bahwa hidup ini tidak ringan, tapi tidak jugalah begitu berat. “Asal kamu jangan pernah menyakiti orang lain. Makhluk lain. Ingat, kita musti bisa olah roso. Tresno Marang Sepadaning Manungso,” pernah Mbah bertuah sekali dengan jari telunjuk yang diacungkannya ke wajah si bocah. Pasti Mbah kala itu sedang serius.

Sudah cukup bagi si bocah untuk menjalani hari dengan mengurai petuah Mbah yang beragam bunyinya. Ia memang sudah putus sekolah sejak tahun pertama di sekolah dasar. Kemampuan membacanya juga belumlah rampung, akan tetapi ia kerap membaca buku dongeng bekas yang diperoleh Mbah. Sudah tertancap dalam rasanya rangkaian kata yang tertulis di buku bekas itu dalam ingatan si bocah akibat kegemarannya membaca berulang. Kerinduan akan buku-buku kisah telah memantik keberanian si bocah untuk mampir barang sejenak di sebuah toko buku sepuh itu, tempatnya memadu simpati dengan kisah si penyu renta. Sembari melihat sekilas ke arah penjaga toko buku yang tengah melanjutkan lelap, fragmen hidup si penyu pun kembali memainkan lakonnya.

Si Penyu tua akhirnya memutuskan untuk merelakan cangkangnya dijadikan bakal hiasan mahkota wanita. Letih rasanya mendengar desakan kawanan penyu yang lain. Mereka berkilah si penyu tua sudah seharusnya mengorbankan diri. Beberapa tahun lalu si penyu tua tak kuasa menyelamatkan seekor anak penyu, putra dari kepala kawanan yang mati dipatok lugas oleh sang predator berparuh tajam. Selama ini, ia bertugas mengawal kepala kawanan beserta keluarganya, si penyu tua dikenal berwibawa dengan kecepatan merangkak yang di atas rata-rata. Entah mengapa, sore hari itu ia tak mampu mencegah maut yang mendatangi keluarga penyu yang paling dihormati seantero pesisir.

Sebelum tirai malam menutup hari ini, ia sempatkan diri menepi di sisi batuan besar, tempat dirinya biasa berteduh seusai mencari pangan. “Apabila kelak aku dilahirkan kembali menjadi manusia, maka aku akan belajar cara menghadapi predator tanpa menyisakan bercak darah atau garis kematian yang menyandera sekian lama,” batin si penyu tua di senja terakhirnya. Esok pagi ia akan menyerahkan diri dengan menghampiri lingkaran pemburu penyu.

**

Mbah… Mbah… Tolong dibuka pintunya! Pak Camat mau bicara lho ini, Mbah…,” teriak tetangga sebelah keesokan pagi. Si bocah terkesiap tanpa sempat meregangkan otot-otot tubuhnya barang sejenak. Dilihatnya ranjang milik Mbah hanya menyisakan kerutan seprai yang belum sempat dirapikan. Tak biasanya Mbah bergegas dari ranjang tanpa membenahi tempat tidur sederhananya. Ke manakah Mbah? Di mana ia mengadukan sorak-sorai tetangga yang mempermasalahkan keyakinannya? Salahkah bila Mbah lebih khusuk meratapi liukan asap dupa dibandingkan merapalkan ayat suci yang serentak diucapkan oleh umat tetangga kebanyakan?

Batin si bocah kian riuh sebab sejak minggu lalu para tetangga semakin mempermasalahkan pilihan Mbah. Akibat Mbah yang menunda pembuatan KTP, proses pencetakan KTP seluruh tetangga pun tersendat. Kasak-kusuk kian terdengar mulai dari warung-warung kopi, Poskamling, hingga beranda-beranda tempat para ibu biasa bertegur sapa di antara pagar rumah yang membentang. Lamat-lamat, kasak-kusuk itu menembus pintu rumah si bocah yang sedari tadi diteriaki ibu tetua yang paling nyaring. “Di mana Simbahmu? Sudah buat keputusan soal KTP belum?” tegurnya dengan urat leher yang nampak menyembul.

Si bocah hanya membisu sembari menyapukan pandangannya ke seluruh bagian rumahnya yang tak banyak bersekat itu. Tak didapatinya Mbah di sana, hanya tersisa gelas kopi dengan ampas yang memenuhi spasial dasar, serta puntung rokok yang berbatang leher sangat pendek tanpa kepulan asap yang tersisa; itu berarti Mbah sudah cukup lama pergi. Barangkali ia hanya ingin menepi, batin si bocah menenangkan diri yang semakin diburu oleh para tetangga yang kian ramai di beranda rumahnya. Rupanya hari ini adalah tenggat pengumpulan data penduduk oleh petugas. Hanya Mbah yang masih menyisakan kolom agama dengan kotak-kotak kecil tak berpenghuni abjad. Seolah hidup mati Mbah ditentukan oleh suara yang terdengar ketika huruf-huruf tersebut dieja.

“Sudahlah… Ditulis saja sesuai agama yang paling banyak dianut di kampung sini. Gitu aja kok repot!” Celetuk salah seorang kepala keluarga yang usianya tak terpaut jauh dari Mbah. “Simbahmu itu sedang ke mana? Sedang mencari pawisik sampai ke laut ya?” Lanjut seorang pemuda, pemimpin Karang Taruna. Segera terdengar suara tenggorok yang bergetar dari ibu-ibu yang menahan gelak tawa. Si bocah kian merasa terintimidasi dengan bahasa tubuh serta kata-kata kawanan manusia yang berkumpul di depan pintu rumahnya. “Nanti Mbah yang akan datang ke kantor camat untuk melengkapi kertasnya,” jawab si bocah menenangkan warga. “Semoga Gusti memberikan ridho ya, Nduk,” pungkas sosok wanita paruh baya yang air mukanya tak mudah ditebak. Pak Camat sendiri hanya berdehem seolah memberi komando bagi seluruh warga untuk segera bubar, sedari tadi dirinya hanya mendengarkan kicauan warga tanpa melontarkan kata kepada si bocah.

Setelah hiruk pikuk di beranda rumahnya mulai meredam, si bocah pun mulai mencari-cari Mbahnya. Tiba-tiba sosok penyu tua dan Mbah berkelindan di benaknya, sama-sama mencari harapan di tengah sandera para kawanan. Bila si penyu tua berdoa di sisi batu agar kelak terlahir menjadi manusia yang ternalurikan jernih, akankah ia kecewa ketika mengetahui bahwa kawanan manusia pun tak kalah menorehkan luka satu sama lain?

Si penyu tua telah terbebas dari igauannya sehari-hari, kembali rekah dengan takdir yang mungkin berbeda atau barangkali tak lepas dari kehidupan di pesisir laut dan kawanan penyu. Satu yang pasti, bahwa cangkangnya telah hinggap di mahkota salah seorang wanita Sumba yang bertakhta, dan garis-garis riaknya tak juga membelah pola ukiran. Sementara daging si penyu tua telah menjadi santap malam para kawanan manusia di pinggiran kota yang lelah bekerja. Si penyu tua tidak menyesal, sebab ia mengamini bahwa keping demi keping tubuhnya akan menemukan nasibnya sendiri, begitu pun dengan jiwanya”.

***

“Mbahhh….,” seru si bocah yang melihat Mbahnya tengah duduk bersila di sisian pematang, “tadi banyak warga yang cari Mbah, juga Pak Camat. Sampai kapan Mbah mau menghindar?” Mbah hanya tersenyum tipis sembari mengelus kepala si bocah. “Entah kenapa, Mbah tiba-tiba buta huruf, Nduk,” jawab Mbah tenang dengan kedipan salah satu kelopak matanya. Mereka pun tertawa ringan di antara galengan sawah yang membentang. Entah bagaimana si bocah mengartikan ucapan Mbah. Simbah dan dirinya barangkali sosok yang bebas melayang dan meliuk-liuk seperti kepulan tipis asap dupa yang bersaksi bagi batin- batin yang berserah dengan cara yang indah. (*)


Ilustrasi: Oliva Sarimustika Nagung (edited)

Baca juga:
Puisi-Puisi Catullus
Esai Alberto Manguel – Suara Kassandra

Bagikan artikel ini ke: