Menu
Menu

Apa Kata Mereka tentang Rumah Baca Aksara dan Literasi Bergerak?

Beberapa testimoni dari Jeril dan kawan-kawan yang terlibat di Rumah Baca Aksara, baik yang mengawalinya melalui Lapak Literasi Bergerak maupun juga yang datang ketika Selengka Cama digelar telah saya himpun sebagai penutup dari tulisan ini.

Semoga kesan dan harapan mereka berikut ini, memberikan semangat sekaligus suplemen untuk kerja-kerja literasi selanjutnya.

Jeril:

Kerja literasi mestilah digerakkan secara kolektif yang selain memberikan dampak bagi orang-orang banyak, terlebih dahulu harus memberi perubahan bagi siapa pun yang terlibat di dalamnya. Di Rumah Baca Aksara, kami berupaya untuk menjaga semangat kolektif itu. Segala sesuatu dipikirkan bersama-sama, masing-masing individu mempunyai hak yang sama untuk menyampaikan pendapat, juga memutuskan.

Saya melihat, di Ruteng, orang-orang masih memiliki ego yang besar. Ketika melakukan sesuatu, jika dirasa tidak menguntungkan maka dengan sendirinya pekerjaan tersebut akan ditinggalkan. Di Rumah Baca Aksara, kami berusaha mengubah cara pandang tersebut. Setiap orang memiliki porsi yang sama dan mesti tumbuh bersama-sama.

Kawan-Kawan Pustakawan (Waldy, Arin, Luis):

Rumah Baca Aksara ibarat ruang terbuka tempat untuk berkarya, menemukan referensi hidup, maupun juga kawan berdiskusi yang hangat yang secara tidak langsung membantu kita dalam menentukan cara berpikir serta melihat hidup dari sudut pandang yang berbeda. Sebagai lulusan kepustakaan atau bahasa kerennya pustakawan, dahulu sebelum kembali ke Flores, tujuan kami kuliah hanya satu: kembali ke Ruteng lalu melamar dan bekerja di Perpustakaan Sekolah atau Perpustakaan Kampus atau Perpustakaan Pemerintah.

Pandangan tersebut drastis berubah ketika melihat Ka Jeril pertama kali menggelar buku di Taman Kota Ruteng bersama kawan-kawan Komunitas Kolektif. Kami merasa sangat terganggu. Bukankah seharusnya kegiatan seperti ini muncul dari orang-orang yang mengenyam pendidikan terkait literasi khususnya buku, seperti kami?

Kami memang pernah memiliki ide yang kurang lebih sama, sayangnya kami lama mengumpulkan niat dan semangat untuk melaksanakannya hingga akhirnya sudah keduluan orang lain. Ketika ide untuk membentuk Komunitas Pustawakan muncul, kami coba memikirkannya kembali. Untuk apa membuat komunitas lagi, jika kami bisa terlibat dan bekerja bersama kawan-kawan di Literasi Bergerak?

Kawan-Kawan di Lingkungan Rumah Baca Aksara (Dance, Riki, Vano, Tibo):

ketika diajak bergabung ke sini oleh Ka Jeril, yang sebenarnya sudah lama kami kenal sebagai kakak dan kawan baik, kami seperti mendapatkan tempat untuk berproses. Mengenal potensi yang ada pada diri kami sendiri, yang selama ini kami pikir kami tidak punya. Selain itu, jujur saja selama ini kami hampir tidak memiliki kesibukan apa pun selain bekerja, kami akhirnya bisa berkumpul dengan teman-teman untuk melakukan sesuatu yang positif dan bermanfaat.

Oces Trisaputra:

Kalau ditanya kenapa saya memutuskan bergabung di Rumah Baca Aksara dan apa yang saya dapatkan setelah bergabung di sini? Pada awalnya, saya sendiri tidak yakin bisa bergabung di sini karena saya bukan tipe orang yang mudah bersosialisasi. Akan tetapi, setelah berada di sini, saya sadar banyak sekali yang saya dapatkan di Rumah Baca Aksara.

| Salah satu kegiatan di RUmah Baca Aksara


Dari kesulitan untuk bergaul, saya kemudian mendapatkan kawan-kawan yang saling terbuka satu sama lain dan setiap saat bersedia untuk saling berbagi dan bertukar pikiran. Semua di sini sudah seperti keluarga, saling mendukung dan memberi motivasi, juga kritik yang membangun antara satu sama lain. Tidak ada aturan yang mengikat, semua orang bebas untuk berekspresi.

Saya melihat, di Rumah Baca Aksara, tidak ada pemimpin di sini, melainkan suluh – yang memberi penerangan dan rasa nyaman bagi satu sama lain.

Sony:

Sebagai lulusan Sarjana Pendidikan, bagi saya sebagian besar pengajar yang saat ini mengajar di sekolah-sekolah semata-mata karena itu merupakan profesi atau pekerjaan yang harus dijalani demi memenuhi kebutuhan hidup. Apa yang dilakukan Komunitas Literasi Bergerak, menjadi salah satu metode menarik untuk mengenalkan literasi sekaligus meningkatkan minat baca anak-anak hingga orang dewasa yang sebenarnya menjadi bagian dari keseharian para pengajar tersebut.

Indra:

Saya melihat hal positif dari Rumah Baca Aksara adalah, kegiatan yang beragam terkait literasi di sini, memberikan peluang berkembang bagi siapa pun yang ingin terlibat di dalamnya.

Nanda, dkk. (Siswa/i SMAN 1 Langke Rembong):

Kami berterima kasih sekali dengan kehadiran kakak-kakak dari Komunitas Literasi Bergerak, kami yang selama ini lapar dan haus akan bacaan-bacaan bagus dan bermutu akhirnya bisa menemukan tempat membaca dan meminjam buku yang tepat. Hasrat membaca kami terpuaskan. Mudah-mudahan segala niat baik di Program Literasi Bergerak dimudahkan dan dilancarkan ke depannya.

Chika (Siswi SMA Setia Bakti Ruteng):

Saya bersyukur bisa berkenalan dengan kakak-kakak dari Klub Buku Petra, Rumah Baca Aksara dan Literasi Bergerak. Selain mendapatkan buku-buku bacaan yang berkualitas, saya akhirnya bisa datang ke acara-acara bagus yang juga membuka wawasan saya tentang seni dan sastra. Terima kasih.

Umur panjang untuk semua gerakan solidaritas, kerja kolektif, dan tentu juga jalinan pertemanan. Salam hormat untuk semua yang dengan kesadaran penuh ingin terlibat dalam kerja-kerja sukarela. Mimpi-mimpi literasi ini masih harus menempuh jalan yang sangat panjang, maka biarkan api semangat tetap menyala.

Salam Literasi dari Ruteng!

Foto-foto: Dokumentasi Rumah Baca Aksara


  • Jadwal Literasi Bergerak: Jumat dan Sabtu, Pukul 10.00 – 15.00 wita di Taman Kota Ruteng.
  • Alamat Rumah Baca Aksara: Jl. Langgo Kopi, Gang sebelum Pertamina Langgo, Carep.
Bagikan artikel ini ke:

1 thought on “Rumah Baca Aksara; Kerja Kolektif Literasi Bergerak dan Tumbuh Bersama di Ruteng”

  1. Ino Sengkang says:

    Salam Literasi. Rumah baca Aksara Tetap Eksis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *