Menu
Menu

Segera kepala sekolah mengajak Sulis menuju salah satu meja dan mempersilakannya duduk di kursi.


Oleh: Fadilah Karsono |

Lahir tahun 1992. Sekarang tinggal di pedalaman Cilacap, Jawa Tengah. Pernah aktif menulis cerpen dan esai di website kintaka.co yang kebetulan sudah tutup sejak 2019. Pernah berkolaborasi menulis lima cerpen dengan seorang rekan komunitas Rumah Budaya Akar di Kairo menerbitkan buku kumpulan cerita Orang-orang Kairo akhir tahun 2019. Saat ini mengajar di sebuah SMP swasta, membaca buku, dan sedang menyelesaikan sebuah novel.


1.

Pagi itu, di luar rutinitas memberi makan ayam dan membersihkan kotoran mereka, Sulis mengarahkan mesin cukur yang menyala ke rambut kepala sekolah anaknya. Desing mesin di atas kepala yang tak berdaya memanggil-manggil dan menimbulkan keributan di kantor kecil itu. Salah seorang guru berpakaian olahraga menangkap Sulis dari belakang dan menariknya dengan cepat. Hentakannya membuat kepala sekolah yang sedari tadi diam mengaduh. Tidak jelas, disebabkan pisau mesin cukur mengenai kulit kepalanya atau rambutnya tercabut. Sulis tidak memberontak dan hanya berdiri mematung setelah guru tadi meminta mesin cukur dari tangannya dan mematikannya. Kepala sekolah dengan rambut tercukur acak terdiam seribu bahasa. Kedua matanya menatap Sulis tak percaya.

“Untuk anakku.”

Sulis berkata tajam sebelum berbalik badan dan pergi meninggalkan pria paruh baya yang malang itu. Kepala sekolah mengangkat tangan saat gestur si guru berpakaian olahraga hendak mencegah Sulis pergi. “Biarkan,” katanya sembari mengusap-usap kepalanya, membuang rambut-rambut terpotong yang masih menempel. Guru berpakaian olahraga mengangguk dan mendekat seolah ingin membantu tapi tak tahu harus bagaimana. Guru-guru lain yang sejak tadi berkerumun di luar ruangan, berbisik-bisik satu sama lain, hanya bergeser membuka celah kerumunan dengan sukarela agar Sulis bisa lewat. Tak ada yang berusaha menenangkan, tak ada yang mengajak bicara, Sulis hilang di antara deru motor yang terburu-buru. Para pegawai tampaknya masih belum bisa mencerna apa yang baru saja terjadi. Beberapa orang mulai memasuki ruangan kepala sekolah dan menanyakan keadaan atasan mereka itu, juga apa yang ia butuhkan saat ini.

“Cari tahu siapa dia!”

Seorang guru wanita mendekat dan mengatakan bahwa ia mengetahui siapa gerangan orang yang telah berani mencukur paksa atasannya. Katanya lagi, anak dimaksud ibu tadi adalah satu-satunya siswa yang dihukum cukur plontos oleh kepala sekolah dua hari yang lalu setelah upacara. Sebuah nama disebutkan dan melihat raut wajahnya, memori kepala sekolah tampak sedang berulang dalam kepalanya. Guru tadi juga manambahkan bahwa siswa tersebut sudah tidak masuk sejak dihukum sampai hari ini. Siswa itu meninggalkan sekolah sebelum jam berakhir, kabarnya pulang ke rumah yang jaraknya sekitar 100 meter saja dari sekolah. Kepala sekolah menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Matanya terpejam sesaat. Kemudian ia meminta para guru kembali ke ruangan mereka dan tidak usah meributkan apa yang sudah terjadi.

“Sebisa mungkin anak-anak lain jangan sampai tahu, apalagi orang-orang di luar sana. Sekolah kita adalah yang terbaik di sepanjang pantai timur,” katanya. “Dan juga…pinjamkan saya topi. Saya mau ke tukang cukur dulu.”

Kepala sekolah beranjak dari kursinya sembari mengibas-ngibaskan tangan pada kemejanya dan berjalan menuju lorong kantor. Sebagian guru tidak mematuhi perintahnya, mereka memasuki ruangan kepala sekolah berbekal sapu dan kemoceng lalu membersihkan sisa-sisa potongan rambut yang tersebar di lantai, kursi, dan perabot lain. Kepala sekolah sempat berhenti menoleh tapi tidak lama dan melanjutkan berjalan menuju pintu keluar sampai ke parkiran guru dalam diam. Ia menyapa dengan senyum beberapa siswanya yang berpapasan di rute menuju kendaraannya. Setelah sampai di samping sepeda motornya ia mengambil ponsel dari saku celana dan menelepon sebuah nomor. Kepala sekolah berbicara dengan tenang, entah dengan siapa.

.

2.

“Betul nama ibu Sulis?”

“Betul.”

“Silakan duduk.”

…..

“Ibu tahu kenapa ibu dipanggil ke sini?”

“Dibawa.”

“Maaf?”

“Dibawa. Bukan dipanggil.”

“Mohon maaf karena ibu tidak kooperatif. Kami terpaksa—”

“Dibawa. Seperti barang…”

“Ibu Sulis, dengan segala hormat, mohon lihat rekaman cctv ini.”

“Saya tahu apa yang saya lakukan.”

“Berarti ibu Sulis mengakui perbuatan ibu?”

“Harus saya jawab?”

“Harus, bu.”

“Dengan segala hormat saya mengakui perbuatan saya sebagaimana sudah sangat jelas terlihat pada rekaman cctv.”

“Kami tidak bermaksud merendahkan…kami wajib memastikan orang yang ada pada rekaman itu adalah ibu.”

Kenapa baru dilakukan sekarang? Kenapa tidak sebelum anda menangkap dan membawa paksa saya, di hadapan semua orang?”

“Ibu…ibu bisa dipenjara setidaknya enam bulan.”

“Saya akan melaporkan balik. Dengar ya, saya akan laporkan balik!”

“Kenapa tidak ibu jelaskan dulu sekarang? Mengapa ini semua terjadi dan mengapa ibu melakukannya. Saya akan mendengarkan.”

“Anda sudah tahu.”

“Ibu harus mengucapkannya. Ibu tahu kita direkam, kan?”

“Direkam? Kenapa?”

“Kewajiban kami, bu.”

“Kenapa tidak bilang di awal?”

“Ah, maafkan saya. Apakah ibu keberatan kami merekam—?”

“Sudah, sudah.”

“Lalu?”

“Orang itu lebih dulu mencukur anak saya sampai plontos! Siapa dia merasa berhak menyentuh anak saya?”

“Orang itu adalah kepala sekolah anak ibu.”

“Apa itu menjadikan dia boleh mencukur rambut anak kecil yang jelas-jelas telah menolak untuk dicukur? Hanya karena telat satu hari merapikan rambutnya anak saya harus ditertawakan satu sekolahan?”

“Saya paham ibu…”

“Tidak, anda tidak paham. Harusnya yang anda interogasi saat ini adalah orang itu!”

“Tentu ada prosedur yang harus kami lalui…”

“Prosedur anda salah! Saya sudah melapor ke dinas, juga ke kantor ini, sama sekali tidak ada tindak lanjut.”

“IBU!”

…..

“Anda tidak akan pernah bisa…melaporkan orang itu.”

“Saya…saya..”

“Ibu harus kami tahan.”

“Bagaimana dengan anak saya..”

“Anak ibu akan—”

“Berhenti berkata ‘anak ibu’, ‘anak ibu’! Dia juga anak anda!”

……

……

“Sulis…”

.

3.

Enam jam setelah ditahan di Polsek, Sulis keluar dengan muka muram. Tidak ada satu petugas pun yang ia sapa. Ia hanya keluar begitu saja setelah mengambill barang-barangnya. Di luar, kepala sekolah tampak menunggunya, berdiri sendiri di halaman Polsek yang temaram. Petang telah datang.

Kepalanya yang plontos terekspos begitu saja di udara yang dingin. Sulis sempat memerhatikan sesaat kemudian menatap mata kepala sekolah yang sudah berada di hadapannya. Katanya, ayo bicara. Yang ditanya hanya diam saja sementara kepala sekolah bergerak menuju mobilnya dan membukakan pintu penumpang sebelah kemudi. Sulis akhirnya juga bergerak mendekat dan mengisyaratkan dengan tangannya agar dibukakan pintu kursi belakang. Kepala sekolah mengiyakan dan tak lama mobilnya telah melaju di jalan besar meninggalkan Kantor Polsek di belakang mereka.

Tak sampai sepuluh menit mereka tiba di sebuah rumah makan. Segera kepala sekolah mengajak Sulis menuju salah satu meja dan mempersilakannya duduk di kursi.

“Saya tidak lapar dan tidak haus,” ucap Sulis sebelum orang di hadapannya berbicara apa-apa.

“Tentu. Setidaknya biarkan saya memesan sesuatu.” Kepala sekolah mengangkat tangannya berusaha menarik perhatian salah seorang pelayan di situ. Sulis hanya diam.

“Saya ingin bicara baik-baik.” Setelah berhasil memesan kepala sekolah membuka lagi pembicaraan mereka.

“Saya tidak ingin. Saya hanya ingin pulang, kasihan anak saya sendiri di rumah. Lagipula saya tidak bawa hape,” jawab Sulis.

“Anak ibu baik-baik saja. Dia bersama ayahnya. Sebelum ke Polsek saya sempat menemuinya.”

“Dia tidak baik-baik saja. Apalagi anda menemuinya.” Sulis kini menatap kepala sekolah, tajam dan marah. “Saya dan ayahnya sudah berpisah karena dia tidak baik kepada anak saya. Anda harus bertanggung jawab apabila terjadi apa-apa.”

“Kalau begitu saya tidak tahu mesti berkata apa lagi.” Kepala sekolah menghela napas. “Saya sudah membantu anda.”

“Membantu apa?”

“Keluar dari sel. Ibu kira siapa yang menebus ibu?”

“Tapi anda juga yang memasukkan saya ke dalam penjara.”

“Itu adalah respon kesadaran saya yang paling sadar pada waktu itu. Saya juga dirugikan di sini.” Tiba-tiba kepala sekolah menggelengkan kepalanya yang tampak ringan itu, seperti tak percaya apa yang telah menimpanya.

“Lalu bagaimana dengan anak saya?”

“Anak anda tidak bagaimana-bagaimana. Dia sedang dididik. Saya yang mendidiknya.”

Mata Sulis berkaca-kaca. “Dengan menyentuhnya? Memaksa mencukur rambutnya?”

“Jika itu diperlukan.”

“Anda tahu? Yang anda lakukan adalah penganiayaan terhadap anak!” Suara Sulis meninggi. Air matanya mengalir.

Kepala sekolah tampak panik dan memberi isyarat agar Sulis tetap tenang. Dan merespons dengan suara yang berat dan berbisik, “Saya sudah cukup bersabar. Saya tidak tahu apa lagi yang anda inginkan.”

“Saya sudah sampaikan tadi. Saya hanya ingin pulang. Jadi biarkan saya pulang sekarang.” Sulis berdiri saat seorang pelayan mendekat membawa satu nampan makanan dan minuman. Sulis menunggunya selesai menata dan pergi kemudian berkata, “Nikmati malam anda. Semoga Tuhan membalas anda seburuk-buruknya.”

.

Turun dari motor ojek, Sulis mendapati anaknya sedang terduduk menangis sendiri di teras rumah. Samar-samar tampak kepalanya yang plontos tersinari lampu lima watt yang remang-remang. Ia langsung memeluknya dan bertanya ada apa, di mana ayahnya. Anak itu menangis semakin kencang dan hanya memberi gelengan sebagai jawaban. Sulis mengajak anaknya masuk. Di dalam rumah semua pintu terbuka sampai ke pintu belakang, ke arah kandang ayam milik Sulis. Bersama anaknya memegangi bajunya, Sulis menemukan kandang ayam yang menjadi sumber mata pencahariannya porak poranda. Tak ada satupun ayam terlihat atau kokoknya terdengar. Di kepala Sulis, tak ada wujud atau suara apa pun malam itu. [*]


Ilustrasi: Woman with child (Alberto Sughi), dari WikiArt.org.

Baca juga:
Kawan Masa Lalu – Cerpen Budi Hatees
Menjadi Seekor Ngengat – Solu Erika Herwanda


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

2 thoughts on “Sulis dalam Tiga Babak”

  1. Baca Bareng berkata:

    berani. Bisakah kebiasaan memotong rambut di sekolah hilang?

    1. cerita nya sangat menarik dan pembaca merasa terhibur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *