Menu
Menu

Kolonialisme di Pulau Timor

Pada kesempatannya bicara, Felix menjelaskan, Orang-Orang Oetimu memang ditulis berlatarkan sejarah kolonialisme di Pulau Timor dan pergolakan yang terjadi di daerah yang dulu sempat menjadi provinsi paling muda di Indonesia: Timor-Timur (sekarang Timor Leste).

Felix mengakui, begitu banyak bahan yang ia temukan pada proses penelitian tentang sejarah Belanda di Timor, juga pemberontakan terhadap Indonesia yang terjadi di Timor Leste. Novel ini memang dibikin dengan tujuan menjadi pintu masuk untuk membaca kembali sejarah Timor-Timur. Namun demikian, ada banyak sekali bagian yang terpaksa dipangkas dari naskah awal karena tidak sesuai dengan kebutuhan cerita. Melewati proses yang panjang, Felix menuturkan betapa sulitnya menulis sebuah kisah dengan latar sejarah peperangan.

“Menulis buku sejarah sungguh jauh berbeda dengan menulis novel sejarah. Kalau buku sejarah, kita hanya memindahkan peristiwa-peristiwa di masa silam itu ke dalam bentuk tulisan. Lengkap dengan hari, tanggal, kejadian dan sebagainya. Sedangkan menulis novel dengan latar sejarah, peristiwa-peristiwa itu hanya merupakan pendukung terhadap kegelisahan-kegelisahan yang sebenarnya ingin kita sampaikan.”

Bagian ini akhirnya menjawab pertanyaan Jeril, salah satu peserta yang hadir malam itu. Jeril mempertanyakan peristiwa-peristiwa pergolakan yang sebenarnya cukup penting untuk disertakan di dalam Orang-Orang Oetimu—ia membandingkannya dengan novel Sentuh Papua karya Aprila Wayar, tidak ditemukan saat membaca OOO.

Sementara itu beberapa tanggapan serius datang dari dua pembaca lain, yaitu Marto Rian Lesit dan Ardi Suhardi. Setelah memaparkan hasil pembacaannya, Ardi menyimpulkan kisah Orang-Orang Oetimu ini dalam satu kalimat pendek; manusia sejatinya lahir dan hidup dalam rantai kebungkaman. Sedangkan Marto, melalui novel pertama Felix ini melihat kesusastraan sebagai penderitaan.

“Sejarah kita adalah sejarah penderitaan, hingga kita merdeka pun penderitaan tetap selalu ada. Novel Felix ini merupakan suatu bentuk ingatan politis untuk menyelamatkan kita dari kelupaan terhadap sejarah dan penderitaan yang terus kita lewati dari masa ke masa”. Ungkap Marto

Tentang tokoh, komentar menarik datang dari Vian Budiarto dan Yuan Jonta yang ikut menyampaikan hasil pembacaannya. Vian menemukan semua tokoh di dalam novel ini fungsional serta memiliki kekhasannya masing-masing. Sedangkan Yuan berpendapat bahwa, sekalipun novel OOO ritmenya cepat, pembaca masih dapat mengikuti dan menikmati cerita dengan baik. “Kita juga dapat mengidentifikasi diri kita melalui tokoh-tokoh yang ada di dalam kisah Orang-Orang Oetimu,” tutur Yuan.

Menurutnya, ini buku kedua yang dibahas Klub Buku Petra dengan latar pinggiran dan mengangkat problem lokalitas masyarakat pada tataran tertentu. Sebelumnya ada Dawuk, yang juga mendapatkan ulasan positif dari para peserta Bincang Buku.

Komentar lain tentang tokoh datang dari Indah Baharun. Bagi Indah, yang fokusnya persis sama seperti Ajen: tokoh Laura, Maria, dan Silvy adalah tokoh-tokoh perempuan luar biasa yang menjalani penderitaan mereka dengan sebaik-baiknya. “Saya kagum sebab Felix menokohkan tokoh-tokoh perempuan ini begitu luar biasa. Maria sebagai perempuan yang tidak ragu-ragu dalam mengekspresikan dirinya. Kemudian pada akhirnya Laura dan Maria mati, saya merasa itu jalan yang lebih baik bagi mereka berdua, hingga tersisa Silvy. Di sini saya justru melihat Silvy sebagai tokoh perempuan yang istimewa dari semua tokoh yang terdapat di dalam novel Orang-Orang Oetimu,” papar Indah.

Berbeda dengan Vian, Yuan, dan Indah, Jeli Jehaut yang malam itu baru bergabung kembali setelah melewatkan beberapa agenda Bincang Buku menyampaikan, dengan tempo cerita yang begitu cepat, ia cukup sulit mengakses Orang-Orang Oetimu. Selain itu, banyaknya tokoh dan kisah-kisahnya yang terlalu singkat membuatnya harus membolak-balik halaman agar bisa memahami alur cerita.

Tanggapan terakhir atau lebih tepatnya pertanyaan kepada Felix datang dari dr. Ronald Susilo. dr. Ronald menanyakan tentang proses kreatif dan kendala-kendala yang dihadapi Felix selama megerjakan novel ini.

Bintang Empat untuk “Orang-Orang Oetimu”

Felix kemudian membagikan ceritanya, mulai dari ide awal, sebenarnya ia hanya ingin menulis tentang pencuri sapi dari Timor yang merencanakan pencurian ketika terjadi Jajak Pendapat di Timor Leste; ketika ia tiba di perbatasan dengan sapi curiannya, ia ditanyai paspor dan visa sebab saat itu Timor Leste telah terpisah dari Indonesia. Penuturan Felix ini mengundang gelak tawa para peserta malam itu. Ironi sekali.

Selanjutnya, bicara tentang kiat menulis, bagi Felix adalah suatu kebohongan besar jika kita sendiri tidak memiliki kebiasaan membaca yang baik. “Suka baca buku dulu!” demikian tegas Felix kepada semua yang hadir. Selain itu, tidak usah takut menerbitkan buku sendiri. Kita harus punya karya yang buruk dahulu, sehingga suatu saat bisa memiliki karya yang baik. Koreksi-koreksi kecil yang datang dari orang lain bagi karya buruk tersebut sebenarnya sangat membantu kita dalam mempelajari hal-hal teknis dalam menulis.

Yang terakhir, untuk segala jenis karya yang ingin kita tulis, HARUS DISELESAIKAN. Deadline menjadi hal penting di sini bagi seorang penulis. Jika tidak menentukan waktu bagi diri sendiri untuk menyelesaikannya, tentu saja tulisan tersebut tidak akan pernah selesai. “Tulis saja, baik atau buruk, selesaikan lalu kirim ke media atau terbitkan sehingga kita punya waktu untuk pikirkan hal lain dan tulis lagi,” tandas Felix.

Malam itu, Bintang Empat diberikan kepada novel Orang-Orang Oetimu oleh para peserta yang hadir. Bincang Buku edisi khusus ini ditutup dengan sebuah lagu dan deklarasi untuk saudara/i kita di Papua yang masih terus mengalami konflik berkepanjangan hingga saat ini. Deklarasi ini dibacakan oleh Jeril Ngalong, diiringi lagu “Tanah Papua” karya Edo Kondologit dari kawan-kawan Rumah Baca Aksara.

Terima kasih tentu saja tidak cukup untuk kebersamaan dan solidaritas yang telah terjalin sejak masa persiapan hingga akhirnya Bincang Buku edisi khusus ini dilaksanakan. Semoga kita semua diberkati dalam kerja-kerja kreatif kolektif selanjutnya. Sampai jumpa pada Bincang Buku Edisi IX, membahas kumpulan cerpen Kelakuan Orang Kaya karya Puthut Ea. (*)


Foto: Orind Vitroz

Bagikan artikel ini ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *