Menu
Menu

Tempo Cepat Orang-Orang Oetimu

Marcelus Ungkang yang menyampaikan pembacaan selanjutnya kemudian menerangkan dua hal yang ia temukan ketika membaca OOO.

Pertama, tempo yang terasa cepat saat membaca Orang-Orang Oetimu sebenarnya dapat dijelaskan dengan salah satu konsep sederhana dari naratologi, yaitu “event”. Untuk disebut “event”, ada beberapa kondisi yang perlu dipenuhi, seperti irrevesibility atau ‘tidak dapat dikembalikan ke keadaan semula’. Event yang dimaksud dapat kita lihat dari kematian-kematian yang terjadi sepanjang kita membaca novel ini. Ada lima kematian yang harus kita lalui, selain kisah-kisah penderitaan lainnya (tentang ini, Marcelus Ungkang menyiapkan ulasan khusus).

Kedua, dari segi bentuk, beberapa bagian dalam penataan teks Orang-Orang Oetimu sebenarnya perluasan dari teknik pengembangan paragraf, yaitu tema-tema. Teknik ini, di antaranya, berkaitan dengan urutan penyajian informasi lama dan baru. “Sebagai contoh, ketika Laura bertemu Am Siki, bagian selanjutnya mengelaborasi karakter Am Siki”, jelas Marcelus.

Setelah mendengarkan pembacaan dari dr. Ronald, Ajen, dan Marcelus Ungkang, acara diselingi dengan dramatic reading dari kawan-kawan Komunitas Teater Saja. Vian, Indah, Egi, dan Rini memilih kisah Linus—salah satu tokoh menarik di dalam novel OOO—untuk dibacakan malam itu.

Sebagaimana Saeh Go Lino yang diminta kesediaannya untuk menciptakan atmosfer Orang-Orang Oetimu melalui tata panggung Saenhana Am Siki, Komunitas Teater saja melalui Vian, Indah, Egi, dan Rini menghadirkan Linus yang menyebalkan di tengah Orang-Orang Ruteng yang datang mengikuti Bincang Buku VIII malam itu.

Bermacam-macam reaksi datang dari para peserta ketika menyaksikan dramatic reading dari kawan-kawan Komunitas Teater Saja, seperti menertawakan kekonyolan Sarjana Ekonomi tersebut yang sebelumnya memiliki cita-cita menjadi seorang Tentara, hingga rasa penasaran apakah benar Linus yang menghamili Silvy padahal di bab sebelumnya ia diceritakan impoten, dan lain sebagainya.

Setelah dramatic reading, sesi selanjutnya, Bincang Karya bersama penulis. Orang-Orang Oetimu merupakan novel pertama Felix K. Nesi setelah kumpulan cerpennya yang terbit lebih dulu di tahun 2016. Novel perdana Felix ini sempat diikutkan pada Sayembara Novel DKJ di tahun 2016, sayangnya hanya masuk 25 besar. Mengalami pergantian judul sebanyak tiga kali dan revisi berkali-kali, naskah teakhir berjudul Orang-Orang Oetimu akhirnya diikutkan pada Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta di tahun 2018 dan keluar sebagai Pemenang Pertama.

Pembaca yang Terlibat

Sebagaimana tradisi Bincang Buku di Klub Buku Petra, para peserta akan diberikan kesempatan untuk membagikan hasil pembacaannya kepada peserta yang lain. Malam itu, para peserta dipersilakan membicarakan apa saja yang ditemukan di dalam novel sementara Felix hadir untuk mendengarkan, sekaligus menanggapi jika perlu.

Kesempatan pertama diberikan kepada Ucique Jehaun. Sebagai pembaca yang selalu terlibat sangat dalam dengan bacaan-bacaannya, Ucique tampil mengejutkan, baik bagi sang penulis maupun juga bagi para peserta lainnya. Ucique menangis ketika membicarakan Laura, perempuan yang menyaksikan kedua orang tuanya dieksekusi mati, diperkosa tentara, dan ditinggalkan begitu saja di jalanan; menyusuri hutan hingga ke perbatasan, Laura akhirnya terdampar dan ditemukan orang-orang Oetimu.

Bagi Ucique, perasaannya ketika membaca kisah Laura yang cukup memakan banyak halaman tersebut seperti mabuk perjalanan yang sangat panjang. Ia cukup menyesal, kenapa setelah melewati banyak penderitaan dan sudah menjalani hidup yang lebih baik, Laura justru memutuskan untuk bunuh diri dan meninggalkan anaknya yang masih bayi?

“Saya mengerti juga kalau dia mau bunuh diri, tapi di dalam hati saya berpikir, aduh akhirnya dia mati seperti ini. Kenapa tidak mau siapkan dulu ASI eksklusif untuk anaknya selama enam bulan ke depan, biar mama-mama tetangganya Am Siki nanti yang bantu menyusui anak itu,” ungkap Ucique dengan wajah sedih yang disambut gelak tawa para peserta yang hadir.

Namun demikian, Ucique mengaku, di bagian tersebut perasaan mabuk perjalanan yang tadi disebutkan seperti berakhir begitu saja. Seperti mabuk lalu muntah sampai puas sehingga tak ada lagi yang terasa sesak di dada. Lega.

Sementara itu, bagi Kaka Ited, sudah saatnya generasi Indonesia membaca bacaan-bacaan seperti Orang-Orang Oetimu. Bacaan dengan kisah-kisah yang sangat dekat dengan kita sehingga membuat kita begitu terlibat di dalam cerita. Satu hal yang kemudian menjadi pertanyaan menarik disampaikan Kaka Ited: apakah generasi-generasi setelah 90-an yang tidak pernah mengalami peristiwa-peristiwa yang menjadi latar sejarah di dalam novel Orang-Orang Oetimu bisa menerima kisah ini?

Baca bagian selanjutnya: Kolonialisme di Pulau Timor

Bagikan artikel ini ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *