Menu
Menu

Kalimat-Kalimat Panjang dalam Ibu Susu

Setelah diskusi menarik tentang mimpi, peserta selanjutnya diberi kesempatan untuk bicara. Tio menyampaikan tiga catatan penting yang ia dapatkan setelah membaca Ibu Susu. Pertama, tentang penyesalan seorang Istri Agung Met sebagai seorang istri dan seorang ibu yang pada awalnya kesulitan mengandung. Dengan segala macam ramuan yang dijejalkan ke dalam tubuhnya, ia terus berusaha dan mengalami kegagalan berkali-kali. Pada akhirnya ia bisa mengandung dan melahirkan seorang putra, tetapi ia tidak bisa menyusuinya. Kantung susunya kering.

Kedua, tentang kebijaksanaan seorang Perempuan Iksa ketika diminta ikut mengawasi pembagian bahan makanan yang menjadi permintaan pertamanya (Hal.78). Dengan tegas ia menjawab Wazir Agung, biarlah kebenaran dan keyakinan duduk bergandengan dalam neraca keberimbangan. “Saya melihat sesuatu yang relevan sekali dengan kondisi saat ini, yaitu pembagian bansos di tengah pandemik yang terus dikeluhkan masyarakat karena beberapa oknum berlaku tidak adil. Ungkapan Perempuan Iksa ini seharusnya menjadi peringatan untuk kita semua agar tetap berlaku adil sejak dalam pikiran,” tutur Tio.

Hal ketiga, masih datang dari Perempuan Iksa. Ketika Perempuan Iksa menceritakan sejarah bangsanya, keyakinan mereka tentang kemenangan terhadap perang (Hal.94). Menurut Tio, sering sekali ia merasa kurang percaya diri dalam kesehariannya, padahal sebenarnya ia memiliki kemampuan dan talenta yang bisa dikembangkan. “Terkadang pengaruh dari lingkungan sekitar membuat kita sulit mengekspresikan keinginan kita sendiri,” tutup Tio.

Armin Bell yang tidak hadir malam itu, tetapi menjadi salah satu yang mengusulkan agar buku ini dibahas pada Bincang Buku Petra, mengirimkan hasil pembacaannya melalui grup WhatsApp. Armin mengatakan, novel Rio Johan ini menjawab kebutuhannya akan buku yang ditulis dengan kesabaran yang tinggi, kemampuan menjalin puluhan bahkan ratusan kata dalam satu kalimat, dan terutama dongeng; kehidupan di ruang dalam para Firaun yang tidak banyak diketahui.

“Kita mengetahui Firaun dari sumber yang tidak banyak: kisah sengsara Yesus sebagai pengadil, tentang piramida, dan sedikit lagi, Rio menawarkan bahan lain. Rio tahu betul cara mendongeng dengan baik—bagaimana kisah yang biasa saja membuat kita betah karena dituturkan dengan sangat baik, pembabakkan yang sabar dan mengalir, diksi-diksi yang tak biasa, hal-hal yang biasanya dikonotasikan vulgar menjadi ramah, dan bagaimana menggunakan sumber-sumber cerita dengan baik untuk kepentingan fiksi,” ungkap Armin.

Hanya saja, menurutnya, berhubung gaya menulis dalam kalimat panjang tidak banyak dipakai penulis kita, buku ini barangkali akan agak tersendat dibaca pada kesempatan pertama.

Setelah membacakan kesan Armin Bell terhadap novel ini, saya kemudian menyampaikan hasil pembacaan saya sendiri. Ada perbedaan yang signifikan antara membaca di tahun 2018, dan membacanya ulang di tahun ini. Saya tidak mengalami ketersendatan dan lebih menikmati cerita. Barangkali karena saya telah membaca tulisan Rio Johan yang lain dan mulai terbiasa. Sebagaimana yang disampaikan Romo Beben dan Kaka Armin, saya mengidentifikasi kalimat-kalimat panjang tersebut sebagai soalan yang saya alami di 2018. Di masa itu, saya terbiasa membaca buku dengan tempo yang cepat, satu buku dengan ratusan halaman bisa saya selesaikan hanya dalam waktu sehari, maka ketika bertemu kisah yang kalimatnya ditulis panjang-panjang meskipun halamannya sedikit, saya agak sulit menyesuaikan diri dan memutuskan untuk berhenti membaca.

Tentang kisahnya sendiri, saya tidak mendapatkan kesan yang berarti. Saya memaknainya sebagaimana kisah-kisah perjanjian lama, yang juga dipenuhi berbagai jenis kekejaman, Raja yang munafik serta Tuhan yang sangat pencemburu. Banyak kosa kata bahasa Indonesia yang baru saya temukan dari buku ini, kurang lebih 100 kata. Meski demikian, hal tersebut tidak begitu mengganggu, saya menyesuaikannya dengan konteks kalimat yang saya baca.

Peserta selanjutnya yang menyampaikan hasil pembacaan adalah Dokter Ronald, yang mengaku merasa sangat menikmati novel ini karena dekat dengan kisah-kisah perjanjian lama. Seperti sedang membaca dongeng-dongeng lama. Ketika membaca buku ini, mau tidak mau, Dokter Ronald kembali mengingat masa-masanya di Seminari Menengah. “Ada sebuah agenda, namanya Doa Malam. Tiga puluh menit pertama sebelum doa didaraskan, kami harus membaca cerita-cerita Kitab Suci. Dan pasti yang dipilih adalah Perjanjian Lama,” kenang Dokter Ronald.

Bagi Dokter Ronald, kisah ini menjadi menarik karena didongengkan dengan baik. Entah kejadiannya betul atau tidak, berkaitan dengan iman atau tidak, tetapi pada dasarnya penulis mengisahkannya dengan sangat baik. Dokter Ronald juga mengungkapkan kekagumannya terhadap gagasan penulis untuk menulis tentang ibu susu–bagaimana ibu-ibu dikumpulkan dari berbagai penjuru negeri, mengikuti sayembara menjadi ibu susu. Membayangkan proses melihat kantung susu, memilih yang benar-benar berkualitas, benar-benar hal yang luar biasa menarik.

Tentang Perempuan Iksa, menurut Dokter Ronald, bisa jadi itu adalah pilihan penulis untuk berangkat dari sesuatu yang kontradiktif yang tidak berterima dengan kita demi menghasilkan letupan-letupan di dalam cerita. Dan itu terbukti dari komentar teman-teman sebelumnya tentang kisah di dalam novel ini.

Marcelus Ungkang hadir malam itu dan menjadi peserta terakhir yang menyampaikan hasil pembacaannya. Celus, yang tertarik juga dengan narasi panjang di dalam novel ini, menyampaikan satu pertanyaan penting, “bukan masalah panjang atau pendeknya kalimat, tetapi apakah kalimat-kalimat panjang ini menjadi kebutuhan cerita atau tidak? Artinya, itu merupakan pilihan bentuk. Terlepas dari keseluruhan bangun cerita.”

Untuk menjelaskan hal di atas, Celus kemudian memberikan satu contoh dari novel Orang-Orang Oetimu karya Felix K. Nesi. Di novel OOO, penjelasan tentang birokrasi digambarkan begitu rumit. Dari kantor A ke kantor B dulu lalu ke kantor C baru kemudian kembali ke kantor A. Penggambaran situasi dengan kalimat panjang seperti itu menjadi bagian dari kebutuhan cerita. Dari penggambaran tersebut, kita sudah bisa merasakan rumit sekali urusannya, cocok dengan birokrasi itu sendiri.

Bagi Celus sendiri, penggunaan kalimat-kalimat panjang tersebut hanya berterima hingga pada bagian “Permintaan Pertama”. Rinciannya panjang sekali. Efek yang ditimbulkan kemudian adalah ada kekontrasan dengan harapan di dalam cerita. Bahwa orang-orang di dalam kisah ini sendiri ingin sesuatu yang cepat agar mengetahui bagaimana hasilnya setelah permintaan tersebut dipenuhi? Akan tetapi, rincian yang panjang itu menyebabkan prosesnya berjalan menjadi sangat lama.

“Saya bisa terima narasi-narasi panjang itu sebab menjadi bagian dari kebutuhan penceritaan. Di konteks itu, Perempuan Iksa adalah sosok yang tidak diinginkan. Terlepas dari kalimat-kalimat yang panjang itu, dengan penggambaran Iksa sebelumnya yang buruk sekali, ia menjadi orang yang tidak diharapkan. Kemudian permintaannya justru di luar dugaan kita. Rinciannya sangat panjang. Maka kemudian kita sudahi saja membacanya, kita perlu mengidentifikasikan diri kita dengan kelompok yang tidak menginginkan Perempuan Iksa (Firaun dan Aparatusnya),” jelas Celus.

Di titik ini saya akhirnya paham. Apa yang dialami oleh saya di 2018 digambarkan sebagai efek dari situasi tersebut. Saya dan pembaca-pembaca lain yang mengalami hal yang sama, bisa jadi adalah bagian dari orang-orang di dalam cerita yang merasa rincian panjang itu seperti tak ada ujungnya. Orang-orang yang tidak menginginkan kehadiran Perempuan Iksa. Sehingga tidak heran jika saya hanya membacanya hingga bagian permintaan pertama lalu memutuskan untuk berhenti membacanya.

Celus melanjutkan, hal yang kemudian membuatnya tidak nyaman pada bab setelah permintaan pertama adalah kalimat-kalimat panjang itu lebih kepada gaya retorika. Sebuah permainan bentuk. “Jadi sebenarnya, kau bisa menyampaikan dua sampai tiga kalimat tersebut hanya dalam satu kalimat saja. Dengan maksud yang sama. Seperti pekerjaan mengulang-ulang tetapi dalam bentuk yang berbeda untuk mempengaruhi persepsi pembaca,” tutur Celus.

Bagi Celus, hal semacam itu agak membosankan sebab tidak memberikan informasi baru. Beberapa kalimat saja sebenarnya sudah bisa mewakili maksud yang sama. Beda cerita, apabila narasi panjang tersebut menyingkap kisah lain bahwa ternyata bapak dari Firaun Theb memang melakukan apa yang dikatakan oleh Perempuan Iksa. Sehingga, makna tersirat yang juga sebelumnya disampaikan Hermin tentang Karma, menjadi lebih kuat. Jika seperti itu, narasi-narasi panjang tersebut memang memberikan informasi baru. Akan tetapi ketika yang dipilih adalah gaya retorika, hal tersebut menjadi agak kurang nyaman. Barangkali pembaca-pembaca lain juga merasakan hal yang sama.

“Sebenarnya kita sedang membicarakan hal yang sama tetapi bentuk penandanya berbeda. Dalam retorika, penandanya saja yang dimainkan. Contoh: sel, penjara, rumah tahanan, lembaga pemasyarakatan, merujuk pada satu hal yang sama, kurungan,” jelas Celus.

Untuk hal-hal lain di dalam novel Ibu Susu, Celus menanggapi sebagai bukan hal yang baru, apalagi jika pembaca telah familiar dengan kisah-kisah perjanjian lama. “Penulis hanya membuat kita teringat akan kisah-kisah yang pernah kita baca sebelumnya. Itu saja saya pikir,” tutup Celus.

Demikian diskusi novel Ibu Susu pada penghujung Agustus lalu berlangsung menarik dan padat berisi. Bintang Tiga disematkan bagi novel Rio Johan ini. Bincang Buku selanjutnya akan berlangsung pada 08 Oktober 2020 membahas karya fiksi Nirwan Dewanto berjudul Buku Jingga. (*)


Baca juga:
– Puisi-Puisi Afri Meldam – Garis Air
– Dekat dan Nyaring: Selalu Ada Jalan Lain, Tak Semuanya Ada di Dalam Buku

Bagikan artikel ini ke: