Menu
Menu

Kreativitas dan literasi memang dua hal yang berbeda.


Oleh: Joakim Kapitan |

Baru saja menyelesaikan studi S1 di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang. Tinggal di kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara. Aktif bergiat di KLIKK (Komunitas Literasi Kreatif Kefamenanu). Beberapa kali tulisannya dimuat di media online.


Beberapa waktu lalu, Komunitas Literasi Kreatif Kefamenanu (KLIKK), sebuah komunitas baru yang bergerak di bidang pengembangan literasi dan kreativitas, menyelenggarakan pentas seni yang juga melibatkan komunitas-komunitas lain di kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara. Kegiatan ini diselenggarakan pada tanggal 22 Desember 2020, selain untuk memperingati dan memaknai perayaan Hari Ibu, juga sekaligus merayakan aktus natal.

Menyenangkan karena literasi dapat memantik semangat terselenggaranya pentas berbagai macam kreativitas, baik di bidang seni tari (tradisional maupun modern), seni peran (teater dan drama), seni lukis (menggambar), seni sastra (puisi, storytelling), seni tarik suara dan bermusik, yang sudah banyak diminati oleh orang-orang muda di kota ini.

Literasi yang pada dasarnya merupakan aktivitas membaca dan menulis dimaknai sebagai kemampuan menemukan dan mengemukakan gagasan sehingga dapat menambah dan memproduksi pengetahuan demi memperluas wawasan. Dari sana lahirlah ide-ide yang merangsang proses kreativitas. Literasi dan kreativitas memang dua hal yang berbeda, akan tetapi jika dipertemukan, keduanya memiliki hubungan timbal-balik. Literasi dapat melahirkan kreativitas dan kreativitas menghidupkan literasi.

Dalam proses membaca, seseorang dapat menemukan hal baru yang kemudian menghasilkan sesuatu darinya seperti menulis puisi, menulis naskah, dan sebagainya. Sementara kemampuan berkreasi seperti menggambar, bercerita, bermain teater atau drama, serta menari dan bermusik dapat mengekspresikan ide-ide dari bacaan-bacaan tersebut. Dengan mengembangkan literasi seperti ini, komunitas memiliki harapan yang jauh ke depan untuk mebudayakan literasi bagi masyarakat, yang dapat dimulai sejak dini.

KLIKK sendiri, setiap hari, menjelang sore, mendatangi tugu taman kota Kefamenanu. Menggelar lapak buku, mengadakan kegiatan mewarnai dan membaca dongeng bagi anak-anak, bermain musik dan berbagi cerita bersama, hingga melakonkan seni peran atau teater. Ada pula kegiatan-kegiatan lain, yang dilakukan dalam rangka mengembangkan literasi, khususnya pada kesempatan-kesempatan tertentu seperti hari raya nasional atau perayaan lainnya.

KLIKK kemudian merayakan Hari Ibu dengan mengadakan pementasan. Sebelumnya, kegiatan diawali dengan perlombaan menggambar bagi tingkat SD, menulis puisi bagi tingkat SMP dan lomba storytelling untuk tingkat SMA. Pada puncak acara di hari Selasa, 22 Desember 2020, hasil lomba diumumkan, kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan kreativitas dari berbagai komunitas.

Tema kegiatan menjelang akhir tahun ini adalah, Karena Ibu. Sebuah tema yang datang dari permenungan tentang sosok seorang ibu yang begitu berharga. Seperti Bunda Maria, seorang ibu sesungguhnya adalah sosok yang selalu menjadi kerinduan dan harapan. “….Ibu, cintamu menyempurnakan diriku, doamu mengiringi langkahku, hidupku kau selimuti dengan ketulusan dan cinta seluas jagad, darimu kami belajar tentang pengorbanan tanpa pamrih, senyummu memberikan harapan.” Demikian sepenggal kalimat renungan singkat yang dibawakan oleh Sr. Margo dan Fr. Rian Sila di awal pementasan.

Refleksi tentang ibu juga tertuang dalam beberapa pertunjukan yaitu, permainan teater dari komunitas KLIKK dan drama yang dilakoni oleh anak-anak asrama putra-putri Paroki St. Yohanes Pemandi Naesle’u dan Paroki Sta. Theresia Kefamenanu. Melalui kedua mata acara tersebut, komunitas-komunitas ini menjadikan seni sebagai jalan masuk untuk memaknai literasi dan merefleksi peran ibu dalam kehidupan kita.

KLIKK berusaha hadir dengan kesadaran bahwa literasi merupakan hal penting, melalui teater dan drama, yang dilakukan secara konsisten untuk “memaknai” hal-hal yang dekat dengan keseharian kita, seperti peringatan hari Ibu ini. Drama berjudul “Aku Ingin Pelukan Ibu”, mengisahkan seorang anak yang tak pernah tahu siapa ibunya tetapi memiliki kerinduan yang besar di dalam hatinya atas kasih saying seorang ibu. Tak peduli betapa besar kekurangan bahkan kesalahan seorang ibu, bagi seorang anak, senyuman ibu adalah semangat, doa ibu adalah kekuatan, dan pelukan ibu adalah sukacita. Sementara, teater berjudul “Jemari Ibu”, menceritakan hakikat seorang ibu, yang dengan hatinya berkorban, memberikan diri untuk kehidupan anak-anaknya, tak peduli dalam keadaan apa pun. Ibu adalah sosok yang selalu memberi sebab ia mengenal dengan baik apa yang dibutuhkan anak-anaknya.

Drama dan teater tersebut ditampilkan dengan memukau perhatian para penonton, yang malam itu secara tidak sengaja merasakan pengalaman hangat kasih sayang seorang ibu. Di antara dua pertunjukan ini, hadir pula live band dari KLIKK band, Sunlight Band, TMHB band, dan paduan suara Vinsensio yang ikut memeriahkan acara malam itu. Mereka tampil membawakan lagu-lagu yang bertemakan Ibu dan Natal, beserta permainan perkusi dari barang-barang bekas. Tidak ketinggalan, tarian tradisional oleh Sanggar Sandalwood, modern dance (CDC ABG Crew dan Fatara Dance Crew), Kaka Tua Free Style dan live music DJ Sonde Bae.

Selain itu acara-acara yang telah disebutkan tadi, KLIKK juga mengadakan loka karya kerajinan tangan dan lapak buku kreatif, yang merupakan agenda utama pengembangan literasi di Kota Kefamenanu. Pementasan itu berlangsung di aula paroki St. Yohanes Pemandi Naesle’u yang dihadiri oleh para tamu undangan: perwakilan komunitas (UKM Feotnai Matani, Sahabat Kreatif Biinmaffo dan Simpang 9), para pemerhati orang muda, serta tentu saja masyarakat kota Kefa secara umum.

“Semoga kegiatan ini membuat komunitas KLIKK lebih dikenal oleh masyarakat kota Kefamenanu. Ini merupakan pementasan pertama yang berhasil diselenggarakan oleh komunitas,” demikian harapan Gonsa Siga, Ketua Komunitas Literasi Kreatif Kefamenanu ini. “Literasi kreatif harus sampai pada tahap ini agar rutinitas yang kita lakukan setiap Sabtu sore di taman kota mempunyai dampak yang dinikmati oleh masyarakat Kefamenanu dan tentu saja sesuai dengan tujuan kita yakni, menjadian literasi sebagai budaya masyarakat kota Kefa,” lanjutnya.

Johanes Vebrian Koa selaku Ketua Panitia kegiatan pementasan kreativitas ini juga mengungkapkan bahwa, “kegiatan pementasan kreativitas yang hidup dari semangat berliterasi ini adalah pentas pertama yang telah dipersiapkan sejak awal bulan Desember, dan dapat berjalan baik pada kesempatan ini. Saya mengapresiasi teman-teman dalam komunitas yang telah berusaha dengan baik dan komunitas-komunitas lainnya yang telah berpartisipasi, serta semua pihak, baik dari pemerintahan maupun masyarakat pada umumnya yang telah meberikan dukungan yang sepantasnya.”

Kegiatan pementasan kreativitas ini berlangsung dari pukul 18.00 s/d pukul 22.00 WITA dengan mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Seluruh rangkaian acara ditampilkan sesuai dengan susunannya, dan berjalan dengan lancar sebagaimana yang diharapkan oleh penyelenggara. Selanjutnya, KLIKK masih akan melakukan kegiatan pementasan kreativitas, rutinitas lapak buku, dan safari literasi.(*)


Baca juga:
– Afrizal Malna: Apa yang Bergerak di Dekat Kita?
– Menikmati Hidup yang Brengsek

Bagikan artikel ini ke: