Menu
Menu

Beberapa Kajian Teoretis

“Dari segi semiotika, pemilihan gambar ‘sepatu merah’ pada  sampul buku ini memiliki arti: merah = tekad, sepatu = teman jalan; sepatu merah berarti tekad melakukan perjalanan. “(Maria Pankratia).

Judul buku “Gentayangan” juga karena memiliki maknanya sendiri. Kata ‘gentayangan’ sendiri dalam KBBI, berarti: pergi ke mana-mana. Namun, menurut Marcelus, kata ini mengalami perubahan makna menjadi: berjalan tak tentu arah dan sering dikaitkan dengan hal mistis. Judul ini mewakili pengalaman ‘berjalan ke mana-mana’ pembaca saat membaca kisah, juga berhubungan dengan pilihan iblis sebagai salah satu plotters.

Tentang plotters, Redaktur Ulasan di bacapetra.co ini menyebutkan, ada empat macam plotters. Tokoh, pengarang, ideologi, dan pembaca. Dalam novel ini, menurutnya, sarat dengan pembaca sebagai plotters. Ia menjelaskan ini dengan mengajak peserta bincang buku untuk memahami etiomologi teks, yaitu ‘tenunan’. Dalam membaca novel ini, pembaca menenun sendiri kisahnya, tapi sebagian besar pembaca justru terperosok saat merajut kisah ini. Pembaca lebih memikirkan nasibnya sendiri daripada nasib tokoh.

Oleh karena itu, lanjutnya, dalam membaca cerita pembaca harus dapat mengubah act of reading-nya. Pembaca harus bisa kembali mendefinisikan aktivitas membaca sebagai sebuah tindakan. Sehingga dapat menemukan kembali cerita sebagai ‘dongeng’. Hemat saya (berdasarkan yang saya pahami dari penjelasan Marcelus), dalam membaca kisah, orang harus dapat memisahkan dirinya sebagai pembaca dan tokoh yang dibaca. Sehingga dalam proses membaca, kita tidak bersikap antipati hanya karena penulis tidak memperlakukan tokoh sesuai yang kita harapkan.

Selain act of reading, Marcelus juga menjelaskan, dalam membaca novel-novel ‘berat’ yang banyak mengandung pesan, interteks, dan rangkai cerita seperti ini, pembaca juga harus memiliki cukup amunisi referensi. Sehingga, pembaca sudah memiliki skemata yang cukup baik dalam menangkap isi cerita. Menurutnya, kemungkinan besar Maria mentok pada 17 rangkai cerita adalah karena ia kekurangan skemata, sehingga ia kesulitan mengakses jalan cerita lain. Tentu dengan catatan, Maria tidak keliru memetakan cerita.

Rating

Gentayangan adalah novel yang ditulis dengan sangat baik dan teliti. Dari sisi teknis penulisan novel ini sempurna. Hanya saja, nilai yang diberikan pebincang  malam itu bukan nilai yang sempurna (lima). Hal ini karena banyak pembaca yang merasa cerita ‘gentayangan’ tidak memiliki intensitas cerita yang menegangkan. Tidak ada konflik tokoh ‘kau’ yang benar-benar menggugah emosi pembaca.

Anggota Klub Buku Petra yang hadir malam itu: Febhy Irene (pemantik), Ronald Susilo, Marcelus Ungkang, Armin Bell, Maria Pankratia, Olik Moon, Febry Djenadut, Daeng Irman, saya sendiri, Hermin Nujin, dan Rio Hamu memberikan Empat Bintang untuk novel ini.

Bincang Buku selanjutnya akan dilaksanakan pada hari Kamis, 28 November 2019. Buku kesebelas yang dibahas Bincang Buku Petra kali ini adalah sebuah novela berjudul Surat-Surat Habel dan Veronika yang ditulis oleh salah satu anggota Klub Buku Petra, Ajen Angelina. Mari bertemu! (*)


Tulisan lain tentang pengalaman para pembaca ada di SAYA DAN BUKU. Simak juga artikel menarik tentang film di ULASAN FILM.

Bagikan artikel ini ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *