Empedokles – Cerpen Marcel Schwob
25 Juli 2026| | 0 CommentEmpedokles bangkit, mengulurkan tangannya, dan menyanyikan puisi Homer tentang ramuan kantong semar yang mampu mendatangkan keterlupaan.
Oleh: Rio Johan |
Lahir di Baturaja, 28 Agustus 1990. Kumpulan cerpennya Aksara Amananunna terpilih sebagai Buku Prosa Pilihan Tempo 2014. Novelnya Ibu Susu meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2018 untuk kategori Karya Pertama dan Kedua. Karyanya yang lain: novel Buanglah Hajat pada Tempatnya (2020), kumpulan cerpen Rekayasa Buah (2021), novela Karavansara (2022), kumpulan cerpen Orang Keren Tidak Menengok ke Arah Ledakan (2023).
Tak ada yang tahu kapan dia lahir atau bagaimana dia datang ke Bumi. Dia muncul di tepi keemasan Sungai Akragas, di Kota Agrigento, tak lama setelah Xerxes menghantam laut dengan rantai. Tradisi menyatakan bahwa leluhurnya bernama Empedokles: tak ada yang mengetahui hal tersebut. Berangkat dari fakta tersebut, tanpa perlu diragukan lagi, orang-orang menyimpulkan bahwa dia adalah anak dirinya sendiri, sebagaimana layaknya seorang Tuhan. Tetapi murid-muridnya menegaskan bahwa sebelum menapakkan langkah mulianya di tanah Sisilia, dia telah menjalani empat kehidupan di dunia kita, dan bahwa dia pernah menjadi tanaman, ikan, burung, dan gadis muda. Dia mengenakan jubah ungu di mana rambutnya yang panjang jatuh menjuntai; dia memiliki sebuah gelang kepala emas, dan di kakinya sepasang sendal tembaga, dan dia membawa bumban yang diikat dengan wol dan ranting pohon salam.
Dengan sentuhan tangannya dia sembuhkan orang sakit atau, di atas kereta, dia bacakan puisi-puisi Homer, dengan logat angkuh dan kepala tinggi terangkat ke arah surga. Segerombolan besar orang mengikutinya dan bersujud di hadapannya untuk mendengarkan puisinya. Di bawah langit cerah yang menerangi ladang gandum, manusia dari segala penjuru berduyun-duyun mendatangi Empedokles, lengan mereka penuh dengan persembahan. Dia membuat mereka terpana, melantunkan kepada mereka suatu gita tentang suatu kubah ilahiah yang terbuat dari kristal, kumpulan massa api yang kita sebut mentari, dan cinta, yang berisi segalanya, sebuah bola yang besar.
Semua makhluk, katanya, tidaklah lebih dari potongan yang terputus-putus dari bola cinta ini, yang kebencian telah menyusup di dalamnya. Dan apa yang kita sebut cinta sejati adalah keinginan untuk menyatukan dan menggabungkan dan menghilangkan diri kita satu sama lain, sebagaimana dahulu kala diri kita pernah hilang di dalam payudara milik bola-ilahiah yang telah terasingkan oleh perselisihan dan perpecahan. Dia mengingatkan kembali pada hari ketika keilahian yang sudah kuno akan kembali bangkit setelah jiwa-jiwa bertransformasi. Karena dunia yang kita tahu adalah buah karya kebencian, dan perpecahannya akan menjadi hasil kerja cinta. Jadi dia bernyanyi melintasi kota-kota dan ladang-ladang; dan sandal kuningannya dari Lakonia berdentang-denting di kakinya, dan di depannya terdengar suara simbal. Sementara itu, dari mulut Gunung Etna muncul gumpalan asap hitam yang membayangi Sisilia.
Bak raja surga, Empedokles dibungkus dengan ungu dan diikat dengan emas, sementara orang-orang Pythagoras menyeret diri mereka dengan tunik linen tipis, dengan sepatu dari papirus. Dikatakan bahwa dia tahu cara mengusir demam, melarutkan tumor, dan menghilangkan rasa sakit berbagai anggota badan; mereka memintanya untuk menghentikan hujan dan angin topan; dia menyulap badai di lingkaran perbukitan; di Selinus, dia mengusir penyakit dengan menyatukan dua aliran sungai di aliran yang ketiga; dan penduduk kota memujanya dan mendirikan sebuah kuil untuknya, dan mencetak koin-koin di mana wajahnya ditempatkan berhadap-hadapan dengan wajah Apollo.
Yang lain mengklaim bahwa dia adalah seorang peramal yang telah diperintahkan oleh para penyihir Persia, bahwa dia menguasai nekromansi dan mengenal khasiat tumbuhan-tumbuhan pembuat gila. Suatu hari ketika dia sedang makan dengan Anchitos, seorang lelaki gila menyerbu ke dalam ruangan, menghunus pedangnya. Empedokles bangkit, mengulurkan tangannya, dan menyanyikan puisi Homer tentang ramuan kantong semar yang mampu mendatangkan keterlupaan. Dan segera kekuatan kantong semar mencengkeram si orang gila, dan dia mematung, pedang di udara, melupakan segalanya, seolah-olah dia telah meminum racun manis yang dicampur dengan anggur bergas di sebuah kawah.
Orang-orang sakit datang kepadanya dari luar kota dan dia pun dikelilingi oleh kerumunan manusia sengsara. Para perempuan berkumpul di hadapannya. Mereka mencium ujung mantelnya yang begitu mulia. Salah satu dari mereka bernama Panthea, putri seorang bangsawan dari Agrigentum. Gadis itu akan dikuduskan untuk Artemis, tetapi dia melarikan diri jauh-jauh dari patung dingin sang dewi dan bersumpah menyerahkan keperawanannya kepada Empedokles. Tak ada yang pernah menyaksikan tanda cinta mereka, karena Empedokles mempertahankan ketiadapekaan diri yang ilahiah. Dia mengucapkan kata-kata hanya dalam metrum epik, dan dalam dialek Ionia, sementara orang-orang dan pengikutnya hanya mengenal dialek Dorian. Semua gerakan tubuhnya sakral. Ketika dia mendekati mereka, itu semata-mata untuk memberkati atau menyembuhkan. Sebagian besar waktu, dia hanya diam. Tak satu pun pengikutnya pernah melihatnya tidur. Mereka hanya mengenalnya sebagai sosok yang mulia.
Panthea mengenakan wol halus dan emas. Rambutnya ditata dengan gaya mewah Agrigentum, di mana kehidupan mengalir dengan lamban. Dadanya ditopang oleh strofium merah, dan sol sandalnya disepuh wewangian. Selebihnya, dia cantik dan tubuhnya tinggi, dan dengan ronanya yang sangat menggairahkan. Mustahil untuk pasti meyakini bahwa Empedokles mencintainya, tetapi dia jelas mengasihaninya. Memang, seembus nafas Asia membawa sampar ke ladang Sisilia. Banyak lelaki tersentuh oleh jari-jari hitam momok itu. Bangkai-bangkai hewan sampai berserakan di sepanjang tepian padang rumput dan di sana-sini tampak domba yang sudah dikuliti, mati dengan mulut menganga ke arah langit, dengan tulang rusuk menonjol. Dan Panthea merana karena penyakit ini. Dia jatuh di telapak kaki Empedokles dan dia tidak bernapas. Orang-orang di sekitarnya mengangkat anggota tubuhnya yang kaku dan memandikannya dengan anggur dan tumbuhan. Mereka melepaskan seikat strofium merah yang mencengkeram payudara mudanya, dan menggulungnya dengan perban. Dan mulutnya yang setengah terbuka ditahan oleh seperban kain dan matanya yang cekung tiada lagi memantulkan cahaya.
Empedokles memandangnya, melepaskan lingkaran emas yang mengikat dahinya sendiri dan memasangnya di kepala gadis itu. Dia meletakkan karangan bunga tanda salam kenabian di dada Panthea, menyanyikan puisi-puisi yang tidak dikenal tentang migrasi jiwa, dan memerintahkannya tiga kali untuk bangun dan berjalan. Kerumunan pun segera dikuasai teror. Pada panggilan ketiga, Panthea melangkah keluar dari alam bayangan, dan tubuhnya menjadi hidup dan bangkit berdiri, semuanya terbungkus dalam kain pemakaman. Dan orang-orang melihat bahwa Empedokles mampu menghidupkan orang mati.
Pysianactes, ayah Panthea, datang untuk memuja sang dewa baru. Meja-meja tersebar di bawah pohon-pohon di tanah miliknya, disiapkan guna memberikan persembahan kepadanya. Di samping Empedokles, para budak membopong obor besar. Para bentara memproklamasikan, seperti halnya sebuah misteri, suatu keheningan yang khusyuk. Tiba-tiba, pada titik puncak malam, obor padam dan gulita pun menyelimuti para pemuja. Sebuah suara kencang terdengar memanggil, “Empedokles!” Manakala cahaya berpijar kembali, Empedokles telah menghilang. Mereka tiada pernah melihatnya lagi.
Seorang budak yang ketakutan berkata bahwa dia telah melihat garis merah yang membelah kegelapan menuju puncak Etna. Sekalian umat yang saleh pun mendaki lereng gunung yang gersang dalam cahaya fajar yang suram. Kawah gunung yang menyala-nyala memuntahkan percik-percik api. Di tepian lava yang berpori-pori, mengelilingi jurang yang berkobar, ditemukan sandal perunggu yang telah dijilat api. [*]
*
Tentang Marcel Schwob |
Marcel Schwob atau Mayer André Marcel Schwob (23 Agustus 1867 ̶ 26 Februari 1905), adalah seorang penulis aliran simbolisme Prancis yang terkenal karena cerita pendeknya dan pengaruh sastranya pada penulis seperti Jorge Luis Borges dan Roberto Bolaño. Dia dijuluki “pelopor surealisme”. Bukunya yang berjudul Vies imaginaires (Kehidupan Imajinatif) menginspirasi Borges menulis Historia universal de la infamia (Sejarah Aib). Karya lainnya antara lain La croisade des enfants (Perang Salib Anak-anak), Cœur double (Hati Ganda) dan Le Roi au masque d’or (Raja Bertopeng Emas).
Cerpen ini diterjemahkan dari Vies imaginaires.
Ilustrasi: Studies for the Death of Empedokles (Salvator Rosa), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Pulang sebagai Takdir – Esai Giuseppe Pontiggia
– Sebelum Alfabet – Esai Italo Calvino
