Kategori: BINCANG BUKU
Notula Bincang Buku Klub Buku Petra, Ruteng.
Makan Siang Okta: Kami Membencinya Tetapi Kami Ingat Semua Hal
Kita ingat adegan-adegan dalam Makan Siang Okta dengan sangat baik! Oleh: Hermina Patrisia Nujin | Peserta aktif Bincang Buku Petra.
Haniyah dan Ala di Bincang Buku Petra
Benarkah Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga adalah sebuah novel etnografi? Oleh: Gregorius Reynaldo | Pustakawan Klub Buku Petra dan
Sang Keris: Usaha Memahami Patahan Kisah
Membaca novel berlatar budaya seperti Sang Keris adalah bagaimana memahami budaya sebagai hasil cipta, rasa, dan karsa. Artinya tidak bisa
Mengenal Punica
Punicaadalah epik historis, meski tetap ditulis dalam deklinasi berkala “praesens”, seperti epik-epik lain dalam tradisi Romawi. Oleh: Mario F. Lawi
Aib dan Nasib: Fragmen-Fragmen Ganjil dan Gairah Eksperimen
Dalam Aib dan Nasib, Mang Sota pergi membawa semua luka yang dialaminya. Oleh: Retha Janu | Alumnus Program Studi Pendidikan
Menulis Orang-Orang Oetimu, Menulis Luka
Saya menulis tentang diri saya sendiri. Di depan begitu banyak luka, riset kadang hanya dibutuhkan untuk melengkapi cerita. Oleh: Felix
Membaca Burung Kayu, Sebuah Novel Etnografi yang Sukses
Dalam novel Burung Kayu, penulis sengaja tidak mencantumkan glosarium karena punya maksud tertentu, yaitu anti-intelektualisme, seperti buku kumpulan cerpen Nadus
