Puisi-Puisi AW Priatmojo – Menunggu Lampu Lalu Lintas
10 Oktober 2021| | 0 CommentDi depanku, mata lampu merah selalu.
Oleh: AW Priatmojo |
Lahir di Bekasi, 23 April 1993. Menulis cerpen dan puisi. Karya-karyanya telah dimuat di media massa. Kini tinggal di Solo dan aktif di Nyalanesia, sebuah platform pengembangan literasi di Indonesia. Bisa dihubungi melalui surel [email protected].
Daftar Belanjaan Tahun 2020
Sebelum kota menutup dirinya, kau menulis
daftar belanjaan untuk kita:
1. Mi Instan
Beberapa pertanyaan
tak pernah selesai untuk dihidangkan.
“Apakah sudah semestinya kita berbelanja?”
Kau baru saja berhenti kerja. Namun di meja,
di hadapan kita, hanya tersisa mimpi-mimpi
yang kedaluwarsa.
Kau masih khusyuk menulis daftar belanjaan.
Sedang di luar, hujan turun seperti tagihan
kartu kredit tiap bulan. Air hujan menggenangi
lantai rumah. Lalu tumbuh sulur-sulur yang
menjerat kaki kita.
Kau berhenti menulis, setelah terdengar
suara “sluurp” dari rumah sebelah. Mereka,
tidak seperti kita, cakap mengubah sulur
dan genangan hujan jadi mi instan.
Aku masih sibuk dengan pertanyaan lain
yang tak bisa kuhidangkan:
“Kelak, apakah sulur-sulur ini akan menjerat
leher kita juga?”
2. Makanan Beku
Malam telah begitu tua dan kota telah
kehilangan selimutnya. Hari demi hari,
satu per satu jendela di gedung-gedung
bertingkat telah memadamkan cahaya.
Orang-orang telah mengungsi, dari
jendela-jendela apartemennya,
ke jendela-jendela kapal udara.
Kita, masih di meja.
Melawan dingin yang membekukan kepala.
3. Masker
Di bawah langit yang muskil ini, kota tablo.
Sepi membasahi jalanan. Menitis pada karat
besi jembatan. Menghapus tapak-tapak
pedestrian.
“Kehilangan adalah satu-satunya
keniscayaan di masa depan,” katamu.
Kursi yang meringkuk.
Debu pada pigura.
Harum lumut.
Jamur pada meja.
4. Kertas
Di atas meja, kau mengambil selembar kertas baru
dan menuliskan daftar belanjaan untuk tahun 2021.
.
Menunggu Lampu Lalu Lintas
1. Garis Penyeberangan
Beberapa hal diciptakan untuk menyelamatkan.
Garis penyeberangan menghindarkan
langkah-langkah kaki dari bahaya. Lampu
lalu lintas mengubah mata menjadi merah
untuk menenangkan jalanan yang marah.
Seperti gema, pertanyaan-pertanyaanku hanya
membentur tembok keraguanmu. Mencipta gaung
di kepalaku.
Aku adalah pohon yang memilih menjatuhkan
diri ke arah berlawanan dari rumahmu. Menimpa
tiang listrik dan memadamkan lampu-lampu jalan.
Tapi kesedihan, kautahu, lebih menyala
dalam kegelapan.
2. Simpang Jalan
Di depanku, mata lampu merah selalu.
Kau menghilang ke dalam simpang jalan
yang telah mengisapmu. Lalu tikungan,
kaca-kaca kendaraan, dan papan-papan
reklame menyembunyikan bayanganmu.
Dari jalan-jalan yang telah kaulalui,
tumbuh tembok dan portal besi.
3. Lampu Hijau
Aku mulai menghitung mundur:
3
2
1
Bunyi klakson pecah mewarnai udara.
Kendaraanku siap berlari, tapi aku telah lupa
cara mengemudi.
.
Pergi Berburu
1. Menyiapkan Perbekalan
Nyenyat itu telah menungguku.
Juga ngengat. Atau tajam jarum
pada embus angin dan serangga penyengat.
Di Dandaka, semestinya aku
yang menanggung sunyi. Tapi kau
berkeras menjadi merpati.
Dalam belantara keterasingan ini,
kau melihat denyaran
yang begitu kau inginkan.
Kilau pada belati. Atau kembang api?
Aku mengejarnya, membungkus kilau itu,
tapi kudapati ketiadaanmu.
2. Mengejar Buruan
Bulu-bulu berlumuran darah.
Dari langit, jatuh ke tanah.
Bertebaran pada suatu jalan,
memandu langkahku menuju
Argasoka: tempat kau cemas menunggu.
Jatayu mungkin telah tersungkur.
Tapi ia yang melenyapkanmu
takkan pernah bisa kabur.
3. Membidik Buruan
Di Alengka, kau takkan berhenti berpuisi.
Meski kutahu kau jeri kehilangan bait-bait itu lagi.
Lirih suara —lalu muncul gempa waktu
Tubuhmu larut bersama kilas cahaya _—keluar dari museum dalam ingatanku
Sementara kau menanggung sunyi itu sendiri,
panahku telah mengarah ke Alengka.
Bersiap memangkas jarak kita.
4. Membuat Perapian
Rinduku api yang berkobar.
Bunyi angin memuai. Bau kulit terurai.
Hiruk pikuk bermigrasi ke dalam sebuah peti mati.
Seekor wanara melompat-lompat.
Menghimpun kayu bakar, menyiapkan api yang besar.
Dari balik api kau muncul menemuiku.
Api yang takluk pada kesucianmu.
.
Daftar Menu untuk Ibu
1. Jenang Abang Putih
Di panci, Ibu menanak doa.
Asap mengepul, menghantarkan harapan-harapannya.
Jenang putih adalah Ayah.
Ibu menyiram gula merah,
dan jenang itu adalah dirinya.
Meja makan adalah tempat segala harapan ditanam.
Tempat segala ingatan diperam.
2. Gudeg
Kenangan mengapung di antara santan
dan nangka muda. Meresap ke dalam
telur rebus, hingga aku hanyut ke kota.
Meresap juga di daging ayam restoran cepat saji
atau dalam minuman di gerai kopi.
Doa-doa ibu menyusul ke kota.
Mengepul bersama asap kendaraan bermotor.
Berebut tempat dalam kereta
saat jam pulang kerja.
3. Lemper
Harum cacahan daging ayam menguar
dari lembar-lembar buku catatan keuangan.
Angka-angka di dalamnya lengket seperti ketan.
Aku mengganti angka
dalam buku
menjadi kata jangka:
jarak terjauh antara aku dan Ibu.
Aku ingin membungkusnya dengan daun pisang
dan merekatkannya dengan batang
lidi pada kedua ujungnya.
Kujadikan bekal tiap berangkat kerja.
4. Wajik
Aku membangun rumah dari beras ketan
yang dinding-dindingnya menguarkan bau pandan
dan ingatan-ingatan rekat di meja makan.
Istriku mengaduk kuali di atas tungku
dan kukatakan:
“Aku melihat Ibu pada nyala api itu.”
Ilustrasi: Street in Krumau – Egon Schiele.
Baca juga:
– Puisi-Puisi Mutia Sukma – Pasar Gede
– Puisi-Puisi Ilham Rabbani – Membaca Perbatasan
– Puisi-Puisi Rachmat Hidayat Mustamin – Delapan Sekuen
