Menu
Menu

Sejarah yang Tidak Ada dalam Buku Sejarah

Lolik kemudian menyampaikan pengalaman membaca buku lain yang kurang lebih mengisahkan hal yang sama: Orang-Orang Katolik III yang ditulis oleh Karl Steenbrink. Di dalamnya terdapat kisah seorang Uskup berdarah Tionghoa bernama Gabriel Manek, Uskup ke-II di Indonesia setelah Mgr. Soegijapranata. Saat terjadi pembantaian di tahun 1965, beliau saat itu berada di Eropa untuk mengurus kesehatannya. Ia menulis dari Eropa tentang dukungannya terhadap tindakan pemerintah dengan tujuan untuk mengamankan situasi Negara. Setelah melihat kekejaman rezim yang tidak manusiawi, Gabriel Manek kemudian menulis surat yang kedua dengan memasukkan unsur biblis di dalamnya, Cintailah musuh-musuhmu sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri (bdk. Lukas 6:27-36). Dalam hal ini, Lolik menyoroti kehadiran gereja ketika situasi negeri mengarah pada kengerian yang tragis. Di mana posisi gereja sebenarnya?

Setelah Lolik, giliran saya menyampaikan hasil pembacaan. Ada tiga tokoh yang menjadi sorotan saya setelah membaca novel Leila S. Chudori ini. Yang pertama di halaman 280, Asmara Jati. Bagi saya pribadi, Asmara tidak bedanya dengan saya dan kebanyakan orang lain, yang melihat perjuangan sebagai sesuatu yang pragmatis. Sesuatu yang terukur dan memperlihatkan hasil secara kasat mata. Kami tidak akan bisa memahami perjuangan-perjuangan yang intangible seperti yang dilakukan oleh Laut dan kawan-kawan. Sesuatu yang tidak terlihat.

Namun setelah itu, saya kembali ke halaman 182 dan membaca ulang apa yang dikatakan oleh Kinan kepada Laut, di situ saya sadar bahwa apa yang saya, kamu, kita semua alami saat ini merupakan hasil dari perjuangan generasi-generasi pejuang terdahulu. Salah satunya kebebasan berpendapat yang bisa kita lakukan saat ini yang justru tidak bisa dicicipi oleh mereka yang memasang badan bertahun-tahun demi mendapatkannya.

Tokoh kedua, Alex. Saya terkejut saat Om Jeli di antara kisah masa lalunya sempat menyebutkan nama Mugi, yang kemungkinan adalah Alex di dunia nyata. Mugi adalah orang pertama yang kembali dengan selamat lalu memberikan kesaksian dengan berani dan kemudian dilarikan ke Belanda. Bagi saya, Alex yang adalah orang Solor, aktivis dan fotografer serta ganteng, meninggalkan jejak yang cukup dalam. Cara Leila berkisah tentang latar belakang Alex yang berasal dari keluarga pelaut, nyanyian laut dalam bahasa Lamaholot yang sengaja disisipkan, serta hal-hal lain tentang Flores, memberikan impresi tersendiri bagi saya ketika membaca buku ini.

Tokoh ketiga, dan tentu saja sangat menjengkelkan sebenarnya untuk dibahas, Gusti. Tokoh pendukung yang jarang sekali disebutkan keterlibatannya oleh tokoh utama ini, sudah membangun kecurigaan di dalam pikiran saya sejak awal. Begitu terganggunya saya terhadap Gusti hingga ketika di halaman 178, ia dipertemukan dengan Biru Laut setelah penyiksaan, membikin saya membanting dengan keras buku setebal 394 halaman ini. Kehadiran Gusti kembali memperingatkan saya untuk selalu siaga menyalakan alarm tanda bahaya ketika menemukan tanda-tanda pengkhianatan di sekitar kita. Tidak semua orang bisa kita percaya, bahkan yang berpenampilan lugu sekalipun.

Randy menyampaikan hasil pembacaannya setelah saya. Meski sudah membaca sejak lama, tetapi setelah mendengarkan hasil pembacaan peserta lain, ia kemudian mengingat hal yang ia dapatkan dari Laut Bercerita. Ia kemudian meminjam salah satu ungkapan dalam bahasa jawa, witing tresno jalaran soko kulino, cinta lahir karena terbiasa. Demikian pula yang terjadi dengan keluarga Biru Laut. Kebiasaan makan bersama, memutar lagu The Beatles, adalah semacam ritual. Sehingga bisa kita pahami, begitu sulit merelakan cinta yang sudah tumbuh dan hidup bersama kita bertahun-tahun lamanya.

Tentang perjuangan Biru Laut dan kawan-kawan, bagi Randy, bisa digambarkan seperti ungkapan latin, ars longa vita brevis, seni itu abadi, tetapi hidup itu singkat. Bagaimana jika hidup kita diperpanjang terus, seperti dalam puisi Chairil Anwar; aku ingin hidup 1000 tahun lagi—meskipun dalam kenangan. Kita bisa memasukkan kehidupan kita yang sudah berakhir, ke dalam bentuk karya seni agar bisa hidup berkali-kali (selamanya). “Barangkali itu juga tujuan Leila menyisipkan beberapa puisi di dalam novel ini, salah satunya puisi Rendra,” tutup Randy.

Peserta terakhir yang juga merekomendasikan novel Laut Bercerita untuk dibahas di Bincang Buku Petra adalah Marcelus Ungkang. Menurut Celus, pekerjaan paling penting yang mesti dilihat dari novel ini adalah kerja penyuntingan. Melihat hasil pembacaan kawan-kawan tentang kisah sejarah yang selama ini tidak terdapat di dalam buku-buku sejarah resmi, Celus menyimpulkan, novel ini sebenarnya sudah mengantisipasi “siapa pembacanya.” Jika bisa dibaca oleh Berto dan Randy—peserta termuda pada diskusi malam itu—berarti penulis berhasil.

“Dapat kita simpulkan bahwa, terlihat sekali tujuan dari penulisan novel ini adalah memperluas jangkauan/segmen pembaca sehingga bukan lagi hal teknis yang dibahas melainkan segemen mana yang belum terjangkau oleh para penulis dengan tema kisah sejarah seperti ini,” tutur Celus.

Celus melanjutkan, “Barangkali hal ini yang menyebabkan tidak banyak hal menarik terkait teknis yang bisa dibahas dari novel ini. Nyaris tidak ada lagi eksperimen kepenulisan karena bukan itu tujuannya. Kalimat-kalimatnya sederhana, penggunaan simbol juga tidak terlalu banyak seperti yang kita temukan di novel Pulang, novel lain Leila S. Chudori. Buku ini membuat pembaca merasa intim, dari generasi mana pun,” ungkap Celus.

Di bagian akhir Celus menambahkan: “hal yang dapat dikatakan sama dari novel Pulang dan Laut Bercerita oleh Leila, bagaimana kita melihat Indonesia dari meja makan? Pada novel Pulang, ada kisah tentang meja makan orang yang diasingkan. Sementara di novel ini, kita menemukan meja makan orang yang ditinggalkan,” tutup Celus.

peserta bincang buku laut bercerita

Malam itu, di antara gelas-gelas kopi yang diracik langsung oleh Ka Tian, Barista Toto Kopi, para peserta menyematkan Bintang Empat untuk novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori ini. Bincang Buku ke-20 telah berlangsung pada 28 Agustus 2020, membahas novel Ibu Susu karya Rio Johan. Jika tak ada halangan, hasil diskusinya akan ditayangkan di Bacapetra.co pada penghujung bulan ini.(*)


Baca juga:
– Sesudah Zaman Tuhan: Antologi Puisi Nasional sebagai Dukungan di Tengah Pandemi
– Film di Hindia Belanda, Anak Kandung Modernitas

Bagikan artikel ini ke: