Menu
Menu

o my dear, berdoa saja tidak bisa/imagine how more downfall you’re gonna meet at this point/o my poet, apa kau bahkan tahu apa itu menderita?


Oleh: Putri Ainiyah Tubulawa |

Lahir dan besar di Maros. Mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Hasanuddin. Anggota Komunitas Velma. Tertarik dalam bidang penulisan khususnya puisi sebab mendapati puisi sebagai medium yang sangat fluid untuk menyampaikan sesuatu.


mengudaralah, jemari

apa jari-jari ini
hanya bisa menjamah beberapa hal
saklar lampu
kepala kucing
sela-sela rambut orang terkasih

apa deburan ombak tak hanya lepas dari batu karang yang licin
apa ia meninggalkan kepalan tangan
sendiri dengan gemetar dan dingin

apa dedaunan di musim yang belum datang
tak menerbangkan topi seorang anak
yang jari-jarinya sibuk menggenggam es krim
dan punggung tangan ibunya

di jalanan yang lengang atau ramai
ada suara kendaraan atau pepohonan
apa orang-orang menunggu hijau lampu
dan menyeberang jalan
di waktu
yang boleh
mereka jamah

jari-jari ini
hanya bisa menjamah beberapa hal
percikan
di puncak
kembang api

pecahnya
lenyapnya
senyap dan gemuruhnya

saat ini
genggamlah malam benderang ini saja

seraya langitnya masih menyala

.

rapuh

peganglah saja tanganku sekarang. semua ini rapuh, sayang. sebentar lagi kau sempro dan meninggalkan dedaunan berjatuhan ini, jalanan ke kedai ayam yang jauh sekali dari kelasku bareng May. walau aku gak tahu kamu seringnya lewat mana. May sepertinya mau S2 di eropa. kan kubilang semua ini rapuh. tiba-tiba saja pemandangan yang kau lihat di tripmu berbulan-bulan lalu akan dialihkan ke pengalaman orang lain. kuliahmu selesai. trip eropamu waktu itu juga. kita bergegas dari ruang kecil ini. dunia ini terlalu sesuatu.

.

bintang-bintang

kita akan menemukan bintang-bintang jatuh dari pepohonan yang tidak begitu tinggi. kita merindukan senyum bapak guru bahasa indonesia saat SMA, hangatnya seperti pemandangan kota-kota tua di eropa yang tidak kita deserve. seperti dulu kita benar-benar hanya anak SMA. hanya perlu mencari alasan bolos karena Sabrina tidak suka kelas salah satu guru bahasa inggris, bukan karena kita disetirin Yudha ke biro psikologi fakultas tempat Syahiqa sekarang kuliah, atau boleh juga karena Keysha memang craving ice cream matcha.

beberapa ingatan tetap hidup, seperti memandang dari jendela tua. bersihin kek jendelanya. buram. insignifikan. but you can’t help but look.

sejuk uni eropa dan hangat bapak guru

abadi membadai dalam kepalaku.
kontradiksi-kontradiksi sialan. ada malam-malam dimana aku takut kena kepribadian ganda.

.

stop your daydreaming, it’s not so romantic to be farrr far away from the crowd

kopi kemanisan dan kemahalanmu sebentar lagi dingin

jika kamu belajar dengan benar, ayah dan kakakmu akan membelanjakanmu apa pun yang ada di dunia ini, seperti kwetiau kaki lima 17 ribu alih-alih kwetiau yang sangat enak dari solaria itu. mungkin ajaran ibumu untuk hidup dengan cukup sudah menginterupsi puisimu

that happens, too
don’t worry
apa kita menginginkan kemewahan lain selain terbiasa dengan penderitaan—maksudku
kwetiau 17 ribu

kau tak bisa berdoa kucing jantan yang kau sayangi itu tak berkelahi dengan kucing jantan
lainnya seperti juga kodok-kodok tidak usah disiksa dan dimakan oleh hewan yang lebih besar

o my dear, berdoa saja tidak bisa
imagine how more downfall you’re gonna meet at this point

o my poet, apa kau bahkan tahu apa itu menderita?

.

i think brown is a new soft blue

he’s exactly like what i’ve always imagined? jalan dengan playful but still calm, do you even get it? how can you be full of life but still look… calm? where do i even start? kakinya sengaja dihentak lurus ke depan, pelan, kind of slow. very soft. dia jalan di belakang sekitar dua temannya, paling belakang, i don’t know him and he doesn’t even know that i exist but hellooo? i feelll like i’ve always known? like yes of course, you’re going to be yang paling belakang, a perfect spot for listening mindfully to whatever your two friends joke or rant about? si tahu tuh gue. but i take sok tahu for now, for what is this situation? why did i happen to have a class on a random monday at a random 11 am that turned out to be supposedly 30 minutes earlier? and all that brought me to lihat-lihat iseng ohh lucunya ini foto-foto digantung di koridor ih ada Farhan this and that then i turned my head to the right and there… you are?

dia hentak kakinya pelan, senyum tipis hadap ke bawah, wkwk do you think your walk is fun,
too? do you think you’re cute, too? or are you just as kind, as a morning blue sky illuminated by a ray of sunlight as i’ve always thought you are? you’re kidding, do i know your previous life? may i?

.

maybe in another life i can buy very ribboned black ballerina shoes

maybe in another life, i can buy very ribboned black ballerina shoes and wear it today
somewhere in a thailand culinary alike place with 3 or 4 of my friends and we just keep on
laughing in between our strolling around steps and noodles or fried-something spoons and we
go straight to somewhere somewhere somewhere i don’t know and doing something something something i can’t imagine

maybe in another life i can buy very ribboned black ballerina shoes and wear it because i wish in another life, ruang tamuku yang berdebu tak membuat dadaku sesak dan dadaku benar-benar lega setelah petak lantai terakhir selesai disapu dan dipel dan angin yang datang
bersama hujan sedari pagi tadi tak meniup-niup debu dan bulu kucing ke tempat-tempat yang
sulit kuperhatikan karena pencahayaan ruangan yang remang. namun bagaimana jika aku
menyesal jika menyalakan lampu karena akan terlalu terang sementara masih banyak petak
lantai dan jejak kaki yang perlu dibersihkan, dibersihkan terus-menerus sampai pada akhirnya aku dapat menyelesaikan hal-hal yang kurencanakan hari ini
atau
dari
dulu.

it’s okay,

it’s just in this life.

in another life i can buy very ribboned black ballerina shoes and feel enough about my own
journey

.

selamat malam

aku menyimpan sepucuk surat di antara dua matamu. matamu. puisi yang tak perlu kau baca.
dongeng tengah malam tentang kemenanganku hari ini. kau bisa langsung tidur saja. lagu dan
puisi akan diputar ke satu kota sebagai gantinya! akan kulakukan semuanya sendiri. aku bisa.
aku selalu melakukannya. aku tak kenal studio rekaman terkenal, aku hanya akan meletakkan
pita-pita kaset di sudut dan tengah kota mulai besok pagi. satu kota! satu dunia! bayangkanlah. orang-orang akan menari dan melompat. seisi kota akan mengenalmu. matamu. mereka menari bersama pita-pita yang menyala dan membangunkan gedung-gedung dan bintang-bintang yang menemani di atasnya. kereta sinterklas akan membawa bunyimu menuju kotak yang dibungkus rapi sekali. entah ke mana. entah rusa dan keretanya dari mana. tapi bunyimu nyata. dan matamu. engkau nyata. kita harus meletakkan pita warna merah di atas kotak untuk itu. dengan simpul yang besar. dengan langit malam biru yang baik sekali. bintang-bintang boleh tak bersinar lagi karena matamu sudah boleh terpejam. matamu, mata indahmu, pejamkan saja. malam hanya perlu baik, agar bisa tetap dirasakan hatimu. malam natal sudah membawa cinta ke banyak tempat kemarin, kotak sudah dibungkus, pita sudah disimpul. hari sudah berakhir. dan bahkan tidak ada yang perlu dimulai. seperti halnya sesuatu yang dibawa mataku dan matamu. pejamkan saja. kita bisa langsung tidur saja. semoga malam yang baik menghangatkanmu lama. selamat malam.


Ilustrasi: Waterfall (Arshile Gorky), dari WikiArt.org.

Baca juga:
Dadang Ari Murtono – Membayangkan Tuhan Menginap di Swiss-Belhotel
Andi Batara Al Isra – Suara Letupan Setelah Perang
Michele Mari – Puisi-Puisi Cinta untuk Ladyhawke


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

24 thoughts on “Puisi-Puisi Putri Ainiyah Tubulawa – O My Poet, Apa Kau Bahkan Tahu Apa Itu Menderita?”

  1. Moh Fauzi berkata:

    Ceritanya menyentuh hati banget

  2. Nadhif berkata:

    puisi nya sangat bagus, dengan gaya bahasa dan suasana/imaji yang diberikan memberikan perasaan emosional untuk pembaca

  3. Ami jaya berkata:

    Sangat menyentuh hati… terus lah berkarya

  4. raraluv berkata:

    puisinya itu menyentuh hati bangtt plss!:)

  5. raihan palika berkata:

    wow this is so amazing

    1. Inayah berkata:

      balik kesini karena gamon sama selamat malam.

  6. Rahmi berkata:

    bagussss bangett suka bngt Ama puisi nya

  7. Renn berkata:

    Puisi ini terasa seperti seseorang yang sedang berbicara dengan dirinya sendiri—atau mungkin dengan orang yang tidak akan pernah mendengarnya. Seperti percakapan yang hanya terjadi di kepala, penuh rasa ingin tahu, kagum, dan sedikit perasaan “kok bisa sih?”

    Bagian pertama menangkap momen kecil yang sering terlewatkan: cara seseorang berjalan, posisi mereka dalam kelompok, bahkan ekspresi wajah yang hampir tidak disadari. Tapi buat si penyair, hal sekecil itu bisa terasa berarti banget. Kayak ada koneksi yang nggak jelas, seolah-olah pernah kenal di kehidupan lain. Rasa ingin tahu yang campur antara kagum dan bingung ini terasa nyata banget—kadang kita memang melihat seseorang dan merasa, “loh, kok gue kayak udah tahu dia dari dulu?”

    Lalu masuk ke bagian kedua, yang terasa seperti sebuah renungan kecil tentang “hidup lain.” Kayak lagi membayangkan versi lain dari diri sendiri—yang lebih ringan, yang bisa menikmati hari tanpa beban, yang nggak perlu pusing sama hal-hal yang mengganggu di dunia sekarang. Ada keinginan untuk merasa cukup, untuk merasa “selesai” dengan keresahan yang entah datang dari mana.

    Bagian terakhir ini yang paling terasa kayak dongeng sebelum tidur. Ada ketenangan di dalamnya, tapi juga sedikit kesepian. Kayak seseorang yang sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri, dan nggak apa-apa juga. “Aku bisa. Aku selalu melakukannya.” Ada kekuatan di situ, tapi juga ada perasaan “ini semua sebenarnya berat, tapi yaudah, nggak ada yang perlu mulai dari awal lagi.” Seolah-olah dunia bisa terus berjalan tanpa harus ada yang benar-benar berubah—dan itu baik-baik saja.

    Puisi ini penuh dengan momen kecil yang terasa besar. Cara melihat seseorang berjalan, membayangkan hidup lain yang lebih ringan, sampai akhirnya menerima bahwa hidup yang sekarang ya… begini adanya. Rasanya sangat manusiawi, karena bukankah kita semua pernah merasa begitu?

  8. sekar berkata:

    keren bgt puisi nya, sangat menginspirasi

  9. Ayuu berkata:

    Bagus banget keren

  10. Arfiansyah berkata:

    Sangat bagus

  11. Ahmad berkata:

    bagus banget puisinya

  12. dede berkata:

    terdiam sejenak , bisa bisanya ngmong “apa kau bahkan tau apa itu menderita” 😭

  13. Ryuzen berkata:

    Mantap sih

  14. firiraa_ berkata:

    Kerenn 🤗 sangat² menyentuh hati 🥺👍

  15. Ikul berkata:

    I love it

  16. Ryan berkata:

    Keren banget kak, teruss berkarya yaa!!

  17. Nazwa n berkata:

    Bagus banget dan dapat di faham

  18. irfab berkata:

    kurang menarik

  19. ranii berkata:

    sukaaa banget sama puisinya, bener-bener kerasa sampe hati waktu bacanya

  20. anisazahra berkata:

    bgs bgtttttt sukaaa amaa puisinya

  21. afifah berkata:

    puisi nya sangat bagus, aku suka

  22. Vander berkata:

    Begitu menyentuh hati

  23. Moch. Nasikhun Amin berkata:

    Suka banget sama puisinyaaa.. so pure, very demure

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *