Menu
Menu

Pesan Moral dan Kisah Sedih?

Setelah Gerson, ada Hermin yang mengaku sulit sekali menikmati novel ini di kali pertama. Tetapi kemudian ia terus membacanya dan menemukan, ada banyak pesan moral yang ia dapatkan dari buku ini.

Pertama, ia paham jika Sempati ingin memisahkan kepala dari tubuhnya karena sebagai manusia, sesekali kepala kita menginginkan hal yang berbeda dari tubuh kita. “Semacam ada pertentangan, dan kita tidak bisa melakukan apa-apa dengan itu,” kata Hermin.

Kedua, dari novel ini Triska sedang berusaha menjelaskan kepada pembaca bahwa, hidup adalah sebuah siklus dari apa yang telah kita lakukan sebelumnya (hukum tabur-tuai). Seperti Merpati yang berusaha menebus kesalahannya di masa lalu dengan menjadi M4 yang memotong kepala Sempati (memutuskan kenangan buruknya di masa lalu), atau Semanggi yang memilih bertransformasi menjadi jam tangan agar tetap dekat dengan anaknya. Semuanya sia-sia sebab sedari awal sebagai orang tua mereka telah gagal mendidik dan membesarkan Sempati menjadi anak yang bahagia. “Novel ini memang rumit sekali. Saya membayangkan orang yang bosan hidup tetapi masih tetap harus bertahan hidup,” tuturnya.

Senada dengan Hermin, Dokter Ronald yang mendapat giliran selanjutnya menyampaikan bahwa Cara Berbahagia Tanpa Kepala sebenarnya adalah kisah sedih sebuah keluarga: anak yang terlahir dari keluarga yang tidak harmonis (Sempati) akan membawa luka yang besar, sehingga saat ia tumbuh dewasa, bukan kehidupan layak yang ia cita-citakan melainkan sibuk mencari apa yang tidak pernah ia dapatkan sejak kecil dari kedua orang tuanya. “Maka dari itu, segala sesuatu yang ia (Sempati) hadapi di duna ini terlihat seperti beban yang besar. Melepas kepala barangkali bisa menjadi solusi, seperti yang Sempati lakukan,” papar pendiri Yayasan Klub Buku Petra ini.

Sementara itu ketika ditanya pendapatnya tentang struktur penulisan novel ini yang tidak berterima untuk kebanyakan pembaca, Dokter Ronald mengaku bahwa ia pun mengalami kesulitan. Novel ini mengingatkannya pada Srimenanti karya Joko Pinurbo: kalimat-kalimatnya indah dan enak sekali untuk dibaca, tetapi seperti tidak ada kisahnya. Namun demikian, karena telah dimulai dengan sesuatu yang absurd, hidup tanpa kepala, ia pun berpikir bahwa tidak perlu usaha yang terlalu keras untuk memahami novel ini. “Baca saja sampai selesai, nanti juga dengan sendirinya kita paham, penulis sebenarnya mau omong apa,” jelas Dokter Ronald.

Febhy dan Rio adalah dua peserta selanjutnya yang tidak banyak menyampaikan kesan karena belum sempat menyelesaikan keseluruhan novel ini. Febhy mengakui ini bukan novel yang mudah dibaca cepat apalagi sembari mengerjakan hal yang lain. Novel ini juga mengingatkan ia pada kesulitannya mengakses Semua Ikan di Langit karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Demikian pula dengan Rio yang berusaha menyelesaikan lima puluh halaman terakhir malam itu, sebelum mendapatkan giliran berbicara.

Keduanya menarik kesimpulan yang sama dari proses membaca yang tersendat tersebut, novel ini mengingatkan kita bahwa, sebanyak apa pun yang kita miliki, belum tentu itu bisa menyelesaikan masalah yang ada di kepala kita. Barangkali sebagaimana hal klise yang sering kita dengarkan, hanya waktu yang mampu menjawab kegelisahan-kegelisahan dalam hidup ini.

Saya mendapat giliran setelah Rio. Tidak ada ekspektasi apa pun ketika memulai membaca Cara Berbahagia Tanpa Kepala. Setelah membacanya—dengan segenap usaha agar sampai selesai—saya kemudian melihat novel kedua Triskaidekaman ini sebagai teks awal yang mesti diproses kurang lebih dua kali untuk selanjutnya sampai pada makna yang sebenarnya atau sebagaimana penuturan Berto dan Gerson, Hermin, dan juga Dokter Ronald, memahami pesan yang ingin disampaikan penulis kemudian menginterpretasikannya sesuai dengan pengalaman hidup kita masing-masing.

Bicara tentang perkembangan tokoh, saya tidak sependapat dengan Dokter Ronald. Bagi saya, melihat Sempati yang seperti itu, terjebak dengan masa lalu yang rumit, sangat menjengkelkan. Sementara, ia sebenarnya memiliki kesempatan untuk pergi meninggalkan Darnal, meninggalkan rumah yang menurutnya seperti rahim tetapi sesungguhnya hanya membuatnya tersiksa dengan kenangan-kenangan mengerikan. Triska juga mengadaptasi sebagian kisah Sangkuriang ke beberapa bagian novel ini. Saat Sempati tergolek di ranjang Merpati, mengenang ibunya hingga masturbasi, dan ketika Sempati sadar bahwa ia jatuh cinta pada M4 (yang sebenarnya adalah Merpati). (Bagian selanjutnya tentang parateks dan apakah ini kisah yang menarik?

Bagikan artikel ini ke: