Menu
Menu

Bisakah memori dipisah seperti telur? Kuning telur di satu mangkuk dan putih telur di mangkuk lainnya.


Oleh: Nurul Lathifah |

Memulai debutnya sebagai penulis dengan kumpulan puisi bertajuk Apakah Membenci Hidup Sama dengan Mencintai Kematian (Penerbit Anagram, 2023). Saat ini aktif berkegiatan di komunitas kesehatan mental Borderline Personality Care Indonesia sebagai relawan jiwa. Bisa disapa lewat Instagramnya @lathifahtrisiswadi.


Matcha

Sejujurnya aku lebih suka
bulu yang hangat
Tapi
tangan kematian
yang tua dan dingin
hadir di sini
di atas kepala kucing ini
dengan mata yang menyala-nyala

Aku menuang makanan
ke mangkuk kucing
My heart’s full with aches
Tolong jangan pergi
He remained heatless and stiff
The kibble spilled every which way

.

Setelah Memecah Telur

Bisakah memori dipisah seperti telur? Kuning telur di satu mangkuk dan putih telur di mangkuk lainnya. Kau ingin merelakan kenangan buruk dari kepala dan memagarinya (hati-hati, ia melumpuhkan dan mudah disalahgunakan serupa gas air mata kedaluwarsa yang polisi tembakkan pada peserta aksi demo di Papua). Seperti saat kamu diancam akan disiram air panas atau saat jemarinya menerabas batas amanmu. Ataukah memori melekat seperti arteri pada jantung? Jika kau mencoba memisahkannya maka tubuhmu akan kehilangan fungsinya.

Masa lalu adalah PR Matematika: seperti aljabar, aritmatika pertambahan, perkalian, pengurangan, pembagian. Each time I try to solve it, I can’t help but wonder when the emotional weight will finally diminish? How many more times do I need to revisit these memories before they no longer make me feel physically ill? It’s as if they come crashing down on me suddenly and uncontrollably, like a meteor shower.

Di atas lantai kau duduk sambil mengerjakan pekerjaan rumah dengan dada yang mengepul. Kau berdoa agar masa depan memperlakukanmu dengan baik.

.

Kau Kehilangan Banyak Puisi

Tak ada meterai yang bisa
melindungimu dari tangan musibah.
Kekerasan tumpah ke jalan, rumah
sakit tak mampu menampung.
Kau ingin melepas tubuhmu, pergi
jauh menuju ketelanjangan rahasia—
yang tidak diadili sesiapa.
Masih ada lepuh di payudaramu,
bekas jemarinya yang menerabas
batas amanmu.
Kau basuh dadamu, membersihkan
sisa najis peristiwa.
Kau kehilangan banyak puisi.

Tubuhmu
banal.

.

Menjadikan Kematianmu Tanggal Merah

Aku tidak benar-benar menulis puisi.
Kata-kata raib sejak duka datang menggerogoti segenapku.
Air mata jatuh ke cangkir putih kusam
Aku tidak pernah benar-benar tahu,
apa bedanya kesepian dan kesendirian,
seperti aku tidak tahu apa arti duka dan kehilangan.

Hari-hari lepas dari genggaman.
Ibu menyisir rambutku yang mulai kusut:
aku tidak ingin ia berhenti walau rasa sakit merambati kulit kepalaku.
Bu, nanti aku janji
akan menjadikan hari kematian bapak tanggal merah,
supaya kita bisa mengambil jeda saat hidup terus berjalan.

Ibu masih menyisir.
Keheningan menyelimutiku seperti jubah yang tebal.
Di sebelah meja rias, aku masih melihat cangkir putih kusam milik bapak, tak mampu aku pindahkan.

.

Yang Tidak Membunuhmu Membuatmu Trauma

I
Orang bilang kamu harus menyimpan ice cream di dalam freezer dan hati-hati terhadap orang asing.

Aku bilang ice cream cair rasanya seperti smoothie, dan yang paling bisa menyakitimu adalah orang terdekatmu.

Seperti yang kamu lakukan padaku dulu.

II
Aku memang bukan ahli bedah
tapi
biarkanku
menggantung kerangka tubuhmu
di dalam nerakaku
yang kau buat dari tarian burukmu yang kau paksakan di atas tubuhku.

Mungkin kau tidak pernah tahu,
sejak hari itu aku berduka,
meratapi tubuh dan jiwa yang kau rebut dariku.
Duka serupa gigi taring yang siap mengoyakmu sampai habis.

III
Aku semakin tua
& trauma semakin muda
—ia akan selalu bugar dalam ingatan.
Apakah masa lalu membutuhkan kosmetik
untuk menyamarkan kerut-kerut duka dari pori kepala?

Aku adalah trauma yang tidak pernah diadili siapa-siapa.

.

Ibuku

aku tidak tahu banyak tentang masa kecil ibuku tapi aku tahu bahwa dia bermimpi bisa mengambil jurusan bahasa karena kecintaannya pada buku-buku / namun mimpi ibu padam seperti gerhana bulan sebab uang bukan sesuatu yang dimilikinya / aku tahu ikan membuatnya gatal-gatal dan ia akan membenci dirinya sendiri akibat susah fokus karena sibuk menggaruk / tubuhnya selalu tertib menjemput pagi dengan kopi hitam yang ia racik sendiri / ia selalu mengutuk jika ada sesuatu yang berantakan dalam radius pandangannya / diam-diam aku berkhayal dapat bertemu ibu saat dia masih kecil / akan kuberikan separuh gajiku untuknya melanjutkan pendidikan / membelikannya sepeda agar tidak perlu berjalan kaki subuh-subuh hanya karena tak ingin terlambat sekolah / aku akan mengajaknya bermain / ke museum / ke rumah para penulis favoritnya / ke pulau dengan air laut transparan hingga kau bisa melihat isinya / ke tempat-tempat yang ia kubur rapat-rapat dalam bucket list / aku tidak tahu banyak tentang masa kecil ibuku tapi aku tahu setiap upayanya merawat masa depan ada nyala yang hidup dan terus memperbarui


Ilustrasi: The Inner Vision: The Egg (Max Ernst), dari WikiArt.org.

Baca juga:
Puisi-Puisi Mariati Atkah – Lukisan Perahu
Puisi-Puisi Setia Naka Andrian – Surga Itu
Puisi-Puisi Adhimas Prasetyo – Kalau Dunia Berakhir


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

4 thoughts on “Puisi-Puisi Nurul Lathifah – Bisakah Memori Dipisah Seperti Telur?”

  1. biangkerox yangbaix berkata:

    Analisis Puisi: “Setelah Memecah Telur”

    Tema dan Makna:
    Puisi ini mengeksplorasi gagasan tentang trauma, memori, dan usaha untuk mengelola atau merelakan masa lalu yang menyakitkan. Tema utama adalah bagaimana kenangan buruk terus menghantui, bahkan ketika seseorang berusaha memisahkannya atau melupakannya. Metafora telur yang dipecah, dengan upaya memisahkan kuning dari putih, sangat kuat dan menyoroti keinginan untuk memisahkan kenangan buruk dari yang baik—suatu proses yang tampak sederhana tetapi, pada kenyataannya, sangat sulit dan menyakitkan.

    Bagian puisi yang menggambarkan kenangan buruk sebagai sesuatu yang “melumpuhkan dan mudah disalahgunakan” mirip gas air mata di aksi demo, sangat kuat secara politis dan emosional. Ini memberikan dimensi sosial yang luas pada trauma personal. Seperti halnya gas air mata yang digunakan untuk menekan orang, kenangan buruk juga bisa menjadi alat penindasan diri, membuat seseorang tidak bisa bergerak maju.

    Puisi ini juga menggunakan analogi PR Matematika untuk menggambarkan beban emosional masa lalu, yang tidak bisa dipecahkan atau dilupakan dengan mudah. Ada kesan frustrasi dan ketidakberdayaan dalam menghadapi kenangan tersebut, yang terus berulang tanpa solusi yang jelas. Frasa seperti *”how many more times do I need to revisit these memories before they no longer make me feel physically ill?”* menunjukkan intensitas emosional yang kuat, menggambarkan trauma sebagai sesuatu yang menguasai fisik dan mental.

    Gaya Bahasa dan Citraan:
    Bahasa yang digunakan dalam puisi ini penuh dengan metafora visual yang kuat. Metafora telur di awal puisi menciptakan gambaran yang jelas tentang keinginan untuk membagi atau memisahkan memori buruk. Namun, metafora ini segera dipatahkan dengan pertanyaan: apakah mungkin memisahkan memori tanpa merusak diri sendiri, seperti arteri pada jantung yang jika dipisahkan, tubuh kehilangan fungsinya? Ini menambahkan kompleksitas pada tema, bahwa memori, seburuk apa pun, adalah bagian integral dari keberadaan seseorang.

    Gambaran lain yang kuat adalah perbandingan kenangan dengan gas air mata dan PR Matematika, masing-masing menunjukkan kekacauan mental yang ditimbulkan oleh trauma. Ada perasaan bahwa meskipun seseorang mencoba untuk memecahkan masalah ini (kenangan), upaya tersebut sering kali tidak berhasil, dan dampak emosionalnya tetap berlanjut. Penggunaan bahasa Inggris dalam kalimat *”Each time I try to solve it, I can’t help but wonder when the emotional weight will finally diminish?”* menciptakan jeda yang menarik, menekankan keintiman dan kegelisahan yang mendalam.

    Struktur dan Bentuk:
    Puisi ini memiliki struktur yang tidak beraturan dan aliran yang bebas, tanpa pola rima atau ritme yang ketat. Bentuk bebas ini mencerminkan suasana hati yang kacau dan tidak teratur dari pembicara. Jeda-jeda yang panjang antara metafora dan deskripsi memberikan ruang bagi pembaca untuk merenung dan merasakan keputusasaan yang digambarkan.

    Penggunaan narasi yang berpindah dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris juga memberikan rasa disorientasi, yang sejalan dengan tema trauma yang tidak dapat dipecahkan. Perubahan ini menggarisbawahi dualitas dari pengalaman internal, bahwa trauma tidak hanya terjadi di satu ruang mental tetapi melintasi batasan bahasa dan persepsi.

    Kritik:
    1. Pelebaran Konteks Sosial: Meskipun puisi ini menyentuh aspek sosial (seperti referensi pada demo di Papua), konteks ini tidak sepenuhnya dikembangkan. Jika penulis ingin memasukkan dimensi sosial atau politik, hal ini bisa dieksplorasi lebih jauh agar lebih terintegrasi dengan tema personal yang dominan.

    2. Kehilangan Fokus pada Bagian Akhir: Bagian akhir puisi, dengan deskripsi tentang duduk di lantai dan mengerjakan PR, meskipun memberikan penutupan, terasa sedikit lemah dibandingkan dengan intensitas metafor di awal. Peralihan dari ketegangan emosional ke adegan yang lebih tenang terasa agak terlalu tiba-tiba.

    Saran:
    1. Pengembangan Tema Politik dan Sosial: Jika puisi ingin menyentuh trauma kolektif atau sosial, seperti yang disiratkan dalam referensi pada demo di Papua, ini bisa lebih diperluas. Menghubungkan pengalaman pribadi dengan trauma kolektif dapat menambah kedalaman dan lapisan pada makna puisi.

    2. Penutupan yang Lebih Kuat: Bagian akhir bisa diperkuat dengan memberikan lebih banyak refleksi atau perenungan yang lebih mendalam tentang hubungan antara memori dan masa depan. Misalnya, bagian tentang “doa agar masa depan memperlakukanmu dengan baik” bisa diperdalam dengan menunjukkan bagaimana ketidakpastian itu sejalan dengan trauma yang belum terselesaikan.

    Penilaian Akhir:
    “Setelah Memecah Telur” adalah puisi yang kuat secara emosional dan puitis, dengan penggunaan metafora yang brilian untuk menggambarkan trauma dan memori. Metafora telur dan arteri pada jantung menciptakan gambaran yang mendalam tentang bagaimana kenangan buruk tidak bisa dengan mudah diisolasi tanpa merusak esensi diri. Namun, ada beberapa bagian yang bisa lebih diperkuat, terutama dalam pengembangan tema politik dan penutupan puisi.

    Nilai: A-

  2. Dewi Lestari berkata:

    Saya seperti sedang membaca sajak-sajaknya Aan Mansyur. Saya tidak tahu apakah ini terinspirasi, atau memang ini adalah sajaknya Aan Mansyur.

  3. Safira Apriliani berkata:

    1. Puisi – Puisi Nurul Lathifa – Bisakah Memori Dipisah Seperti Telur?

    Ketika awal saya membaca saya sedikit kesulitan memahami konteks Bahasa nya sedikit rumit untuk di cerna, tutur kata bahasa nya seperti membutuhkan revisi supaya lebih baik untuk di baca.

    2. Ibuku

    Ketika saya membacanya saya meneteskan air mata, saya terhanyut dalam cerita, Kata-kata yg mudah di pahami dan di mengerti seolah saya yang ada di dalam peran itu dan ibu saya yang menyisir rambut.

  4. Rafuf berkata:

    ada beberapa kesalahan kata, dan penggunaan kata nya ada beberapa yg sulit di mengerti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *