Puisi-Puisi Hidayatul Ulum – Berkirim Pesan Lewat Mimik Dedaunan
10 Desember 2024| | 0 CommentsJika dedaunan tertiup kencang/ Bisa kita artikan sebagai kegelisahan// Jika dedaunan berubah warna/ Hubungan kita pun demikian adanya …
Oleh: Hidayatul Ulum |
Alumni Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Malang. Perempuan yang akrab disapa Hida ini dapat dihubungi melalui akun Instagram @hida_adenanthera. Single Pantofel (Perahu Litera, 2017) adalah buku antologi cerpen pertamanya.
Sapi Ungu
Di antara gerombol sapi putih
Aku ingin menjadi sapimu yang ungu
Ketika sapi-sapi lain mengunyah rumput
Terus-menerus mengisi perut
Aku lebih memilih berhenti
Dan membuatkanmu sebuah puisi
Ketika sapi-sapi lain buang angin sesuka hati
Buang hajat di sana sini
Aku lebih memilih menceramahimu bahaya ekologi
Gas-gas metana dari tai-tai
Di antara gerombol sapi putih
Bisakah aku kau pilih?
Aku ingin menjadi sapimu yang ungu
Sapi yang tidak hanya mengunyah dan mengunyah
Menggemukkan lambungku
K, 09 Oktober 2024
.
Jika Pohon Rindu Bisa Telepati
Pada jalan mana itu? Lupa aku
Jalan yang aspalnya diciumi kapuk-kapuk gugur
Berjelapak, menganggur
Padahal bisa saja siapa pun memungut sebagai isi kasur
Seingatku, di duniamu juga ada, bukan?
Pohon randu yang tinggi menjulang
Berdetak di mungil hutan
Sebagai jantung pepohonan
Di belakang rumahku
Ada juga pohon randu
Tiap memandangnya, kuharap ia terhubung
Dengan pohon randu di duniamu yang luhung
Mungkin kita bisa mengganti namanya
Mengubah huruf a menjadi huruf i
Membayangkan keduanya bisa telepati
Kita saling berkirim pesan
Lewat mimik dedaunan
Jika dedaunan terangguk pelan
Bisa kita artikan sebagai kedamaian
Jika dedaunan tertiup kencang
Bisa kita artikan sebagai kegelisahan
Jika dedaunan berubah warna
Hubungan kita pun demikian adanya
Jika tiada angin, tiada gerakan
Kita patut curiga, sebab bagaimana pesan tersampaikan?
Dan jika dedaunan gugur di pelataran
Bukankah sudah saatnya… rindu kita luruhkan?
Mari, Sayang
Mari kita atur pertemuan
K, 21-22 November 2024
.
Bukan Labirin di Kreta, tapi Labirin Kita
Tidak seperti Daedalus dan Icarus,
aku tersesat di labirin—pikiranku sendiri
Andai sejak awal kubawa benang, mungkin aku bisa lega hati
Meniti jalan melingkar, kembali pada terang
Sebab di sini gelap menggerayangi, hidup penuh misteri
Di sini tak kutemukan bulu-bulu burung
Yang bisa kurangkai dengan lilin sebagai sayap
Bagaimana akhirnya aku bisa terbang?
Dan keluar sebagai jiwa selamat
Namun
Namun, kadang aku merenung
Patutnya tetap tepekur
Tugur dalam syukur
Kau tahu aku hidup
Kau tahu aku bernama
Kau bahkan ingat jalan yang kutempuh
Karena kau orang yang kupilih mengekalkannya
Meski kini aku tersesat
Dalam labirin berlapis dinding ingatan,
sekalipun yang paling kelam
Kau tahu aku ada
Sibuk merunut keping cerita kita di dalamnya
Kau tahu aku punya tujuan
: mencari letak keabadian
Namaku, nama yang tersemat padaku
Terima kasih telah kaubawa terbang
Kau rangkai dengan pernik tanggal
Pada bidang papan ketikmu, yang abjad-abjadnya telah kau hafal
Kau tetap rendah hati, meski matahari
Lenganmu bersayap kehangatan
Menggantikan sayap bulu-bulu burungku yang mustahil
Kutemu-terbangkan dari sengkarut curam labirin
Namaku, nama yang kaubawa itu
Terima kasih telah kau kenang
Kau rangkai di luas awan
Huruf-hurufnya kapital
K, 22 November 2024
.
Pilihan: Hari yang Tinggal atau Hari yang Tanggal
Sebelum beranjak dari pertemuan kita yang terakhir kali
Angin berembus mengirim sehelai daun kecil yang tertangkap tapak tanganku
Isyarat mungil semesta, ingin aku membawamu pergi bersama ingatan dan cerita
Tentang cerah cuaca, angin yang senang bermain-main, dan pohon-pohon ceria; seperti kita
Aku ingat kau berpenampilan sederhana, tapi tidak dengan tatapanmu
Aku menerjemahkannya sebagai bahasa yang rumit kupahami
Sebab tiada kata, frasa, kalimat, atau wacana yang dapat kubaca
Aku takut pada akhirnya hanya mengada-adakan makna yang sebenarnya tiada
A19
A20
A21
Gedung-gedung mengepung kita hari itu
Meski namamu berdiri pongah di ujung lidah
Ketidakberanianku lebih tegas mencegah
Kubiarkan kesempatan lewat tanpa kutangkap
Sebab suaraku tiba-tiba tercekat, sapa terasa tak tepat
Kita pun menjadi asing bagi satu sama lain
Dan masing-masing kita punya pilihan
Memilih abadikan lembar hari dalam ceruk memori
Atau membiarkan waktu mengerik paragraf demi paragrafnya
hingga tak dapat terbaca lagi
Tapi, bila kau sepertiku, ingin hari itu abadi dan bertahan
Yakinlah hari itu akan tinggal dan tak pernah tanggal
Setajam apa pun mata pisau yang ia gunakan
Tenanglah, Sayang
Waktu memang penuh keremangan
Kita kerap dibiarkan gamang
Meraba-raba, buta aba-aba
Kata Sophocles: waktu adalah dewa yang lembut
Namun, waktu bisa tetap tajam dan merenggut
Jadi, biar aku memberimu ruang aman di sini bersama sehelai daun kecil
Karena selamanya … aku ingin kau kekal dalam syair
K, 20 dan 26 November 2024
.
Kau yang Kusitir dalam Sajak
Bercerminlah pada genang kecil sajakku
Ia akan memantulkan lembut sosokmu
Bercerminlah selama kau mau
Selamilah bila perlu
Tidak
Aku tidak bercermin pada sajakku sendiri
Karena setiap kali menatap refleksi diri
Bayanganmulah yang terpantul kembali
Namun, ada yang bilang sajakku adalah cermin
Atau barangkali juga jendela
Dari jiwaku yang punya kedalaman
Sumur kata-kata
Tidak juga
Aku selalu merasa hanya kau yang di sana
Di dalam cermin yang kutatap sebelum memoles bedak
Bermukim sebagai sosok yang setia dalam benak
Pekan bergulir detak, kau terus kusitir dalam sajak
Lapis makna pelan kutetak, titian cegak bagi jauh jarak
Sebab lihatlah, sayapku tak sanggup mengepak
Rindu kepadamu terlalu memberati pundak
K, 26 November 2024
Ilustrasi: Tree and House (Amedeo Modigliani), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Puisi-Puisi Wisława Szymborska – Autotomi
– Puisi-Puisi Zulkifli Songyanan – Nyaris Lewat Tengah Malam
– Puisi-Puisi M. Aan Mansyur – Cara Lain Membaca Sajak Cinta

Puisi tentang pohon rindu itu sangat menggambarkan kerinduan yang selalu ingin dicurahkan satu sama lain bagi pasangan yang terhalang jarak