Menu
Menu

Kesulitan Mengakses Kura-Kura Berjanggut

Pada lembar ungkapan terima kasih, kita akan menemukan bahwa novel ini dikerjakan selama kurang lebih satu dekade, melewati berbagai penelitian dan diskusi yang melibatkan banyak penulis lain.

*Jika kita menilik pada sejarah, menurut T. Iskandar dalam disertasinya De Hikayat Atjeh (1958), diperkirakan bahwa Kesultanan Lamuri berada di tepi laut (pantai), tepatnya berada di dekat Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam.

H. M. Zainuddin, salah seorang peminat sejarah Aceh, menyebutkan bahwa kesultanan ini terletak di Aceh Besar dekat dengan Indrapatra, yang kini berada di Kampung Lamnga. Peminat sejarah Aceh lainnya, M. Junus Jamil, menyebutkan bahwa kesultanan ini terletak di dekat Kampung Lam Krak di Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh.

Berdasarkan sejumlah data di atas, sejarah berdirinya dan letak kesultanan ini masih menjadi perdebatan di kalangan pakar dan pemerhati sejarah Aceh. Namun demikian, dapat diprediksikan bahwa letak Kesultanan Lamuri berdekatan dengan laut atau pantai dan kemudian meluas ke daerah pedalaman.

Persisnya, letak kesultanan ini berada di sebuah teluk di sekitar daerah Krueng Raya. Teluk itu bernama Bandar Lamuri. Kata “Lamuri” sebenarnya merujuk pada “Lamreh” di Pelabuhan Malahayati (Krueng Raya). Istana Lamuri sendiri berada di tepi Kuala Naga (kemudian menjadi Krueng Aceh) di Kampung Pande sekarang ini dengan nama Kandang Aceh.

Berdasarkan sumber-sumber berita dari pedagang Arab, Kerajaan Lamuri telah ada sejak pertengahan abad ke-IX M. Artinya, kesultanan ini telah berdiri sejak sekitar tahun 900-an Masehi.

Pada awal abad ini, Kerajaan Sriwijaya telah menjadi sebuah kerajaan yang menguasai dan memiliki banyak daerah taklukan. Pada tahun 943 M, Kesultanan Lamuri tunduk di bawah kekuasaan Sriwijaya.

Meski di bawah kekuasaan Sriwijaya, Kesultanan Lamuri tetap mendapatkan haknya sebagai kerajaan Islam yang berdaulat. Hanya saja, kesultanan ini memiliki kewajiban untuk mempersembahkan upeti, memberikan bantuan jika diperlukan, dan juga datang melapor ke Sriwijaya jika memang diperlukan.

Azhari mengisahkan Kura-Kura Berjanggut dengan menjadikan Kesultanan Lamuri sebagai latar utama cerita bukan tanpa alasan. Selain penulis sendiri adalah seorang Aceh, tantangan menulis tentang bajak laut dan sejarah maritim Indonesia di pantai barat Sumatera merupakan jalan panjang yang luar biasa menegangkan sekaligus melelahkan.

Sebagian besar peserta Bincang Buku berpendapat, dongeng Kura-Kura Berjanggut karya Azhari Aiyub ini cukup menarik sebab dipadu dengan beberapa fakta sejarah Nusantara yang kian hari kian dilupakan.

Akan tetapi, bagi Rio Hamu, salah satu peserta Bincang Buku yang mendapat kesempatan kedua menyampaikan hasil pembacaannya malam itu, padatnya materi yang ingin disampaikan penulis melalui buku ini membuat Kura-Kura Berjanggut (KKB) begitu melelahkan untuk dibaca. Azhari sepertinya tidak ingin menyia-nyiakan kerja dua belas tahunnya begitu saja, sehingga semua bahan yang ia miliki dibukukan dalam novel sangat tebal itu.

Lain lagi dengan pendapat Yuan Jonta, peserta Bincang Buku lainnya. Pertama kali ia membaca KKB, ia cukup terkejut, mengapa penulis terlibat di dalam cerita sebagai tokoh utama (Si Ujud) untuk novel setebal 960 halaman?

Menggunakan sudut pandang orang pertama tunggal, penulis tentu saja harus melihat dari berbagai macam sudut pandang (Helicopter View). Penulis sudah pasti membutuhkan kemampuan bercerita yang bagus untuk mendalami karakter tokoh, perasaan-perasaan yang dialami, serta situasi-situasi yang melatari kejadian di dalam cerita.

Apa yang diungkapkan Yuan, kemudian diduga kuat menjadi kesulitan bagi Ajen Angelina dan Febry Djenadut ketika membaca novel ini. Selain narator mengambil alih seluruh cerita, alur ceritanya yang maju mundur membikin aktivitas membaca menjadi sangat tidak nyaman.

Hal yang sama diungkapkan oleh Armin Bell. “Terkait keterampilan menciptakan alur cerita, pada bagian tertentu, penulis memancing kita dengan mengisahkan waktu yang baru, kemudian tiba-tiba saja sudah ada perpindahan waktu ke masa yang berbeda dengan tidak cukup meyakinkan,” tuturnya.

Menurutnya, paragraf yang menceritakan masa baru tersebut kadang tidak cukup kuat hubungannya dengan cerita pada paragraf sebelumnya; jika ditemukan hubungannya maka justru terdapat pada bagian yang berjauhan. “Situasi ini membuat pembaca tidak muda merasa dekat dengan tokoh manapun yang ada di dalam cerita,” kata Armin.

Sementara itu, menurut Febry tidak ada tokoh yang benar-benar menjadi jagoan di dalam novel ini.

Tentang tokoh-tokoh di dalam novel. Setelah membaca Kura-Kura Berjanggut di kesempatan pertama dan menemukan kesulitan mengakses peran para tokoh, maka di kesempatakan kedua, saya mencoba membuat semacam grafis penokohan dengan memisahkannya ke dalam dua bagian.

Pertama, tokoh yang paling sering diceritakan, dalam hal ini orang-orang yang berada di lingkaran Anak Haram dan Si Ujud. Kedua, tokoh-tokoh pendukung, yang hanya sekedar lewat demi melengkapi kebutuhan cerita. Cukup terbantu dengan cara ini, karena saya tidak perlu membolak-balik halaman lagi untuk memahami cerita ketika terjadi perpindahan karakter.

Bagikan artikel ini ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *