Menu
Menu

hari-hari kubuat mengantuk dan kau bisa menulis puisi untuk lomba yang tak akan kau menangi; utang-utang hasil judimu tidak akan jatuh sesuai tempo;


Oleh: Muhammad Gibrant Aryoseno |

Lahir di Kulon Progo, DIY. Biasa menulis novel, cerpen, dan puisi. Karya-karyanya dapat dijumpai di beberapa media daring, termasuk di laman Instagram miliknya (@gibrantha). Novelnya Machine with a Heart adalah pemenang Wattys Indonesia 2022 kategori fiksi ilmiah.


Berapa Lama Waktu yang Dibutuhkan Manusia untuk Kehilangan Kesadaran Setelah Kepalanya Dipenggal?

Tidak ada yang tahu pasti berapa jawabannya. Kalau kau mau mengira-ngira, beberapa ahli sepakat batas maksimalnya adalah sekitar 30 detik. Oleh karenanya, maukah kau pulang dan membuka buku yang sudah menguning di rakmu? Mungkin kau hanya akan tahan di paragraf pertama. Tapi apa salahnya? Kau begitu menyukai permen Sugus rasa blackcurrant. Ambil satu saja dan buka bungkusnya. Cepat-cepatlah masukkan ke dalam mulutmu. Kau tahu betul di detik terakhirmu hanya sedikit saja manis itu sampai di lidahmu. Tapi permen itu akan tetap berada di bentuk aslinya selamanya, selama kuburanmu tidak dibongkar dan mulutmu tidak dibuka paksa. Apakah kau pada akhirnya menghubungi kawan lamamu itu, yang sudah kaujanjikan untuk bertemu? Tapi kau tidak sanggup basa-basi dan mustahil berikan obrolan panjang. Barangkali pesan “Aku akan berjumpa denganmu” atau “Kau akan berjumpa denganku” adalah cukup, ditambah “Nanti” untuk menghindari kesalahpahaman. Tidak terlalu sulit untuk menghabiskan segelas air putih dalam 30 detik. Memang, itu tidak akan mengaliri lambung atau pembuluh darahmu. Tapi kau minum manis seumur hidupmu. Jika kau dipenggal tepat tengah malam dan kau berulang tahun pada hari itu, apakah umurmu bertambah atau tidak? Setidaknya jawaban terbaikmu adalah tetap mengucapkan “Selamat” meski tak ada ujungnya. Seks 30 detik jadi tidak buruk-buruk amat di benakmu. Tuhan, apakah Tuhan masih membuka pendaftaran untuk memohon ampunan? Pertanyaan paling fundamental: Apakah kau bakal lanjut berhitung apabila kau masih sadar setelah hitung mundurmu habis di nol? Jika kepalamu dipenggal saat ini dan kau hanya punya sisa 30 detik, akankah kau hidup?

.

Catatan Hari Ini

Masa lalu tidak ditemukan
di masa lalu, melainkan
masa kini. Ia tidak mati, tapi
menghantui.

Katakan padanya, kau sudah pernah
membayangkan masa lalu
sebuah lukisan berpernis atau
sebuah pahatan telanjang. Kau ingin
memperbaikinya. Kau tidak suka
kedalaman saturasi menyembunyikan warna asli.
Kau tidak suka kelamin patungmu yang mini.
Kau menambahkan apa yang menurutmu kurang.

Kawanmu itu tergelak. Ia bertanya padamu,
“Sejarah cantik tidak?” Kau jawab, Tidak.
“Sejarah bakal cantik tidak kalau ia bisa
diubah?” Kau jawab, Tentu saja! Kemudian:
“Sejarah besok cantik tidak?” Kau jawab,
Tidak tahu. “Sejarah hari ini cantik tidak?”

Kau tidak mengetahui jawabannya, tapi
kini kau tidak menjawab tidak tahu.

.

Depresi

satu-satunya alasan
         alarmnya berbunyi
         nyaring
         nyaring sekali

begitu ingin ia mati
         begitu segera
         di tangan
                  Mu

.

Ulang Tahun ke-25

Aku mengganti jam tangan setiap beberapa bulan sekali
berharap waktu tidak cepat habis. Suatu hari, seorang
lelaki bertanya kepadaku, “Di mana kau dapatkan waktu
secantik itu?” Dia menunjuk pergelanganku. Aku jawab,
Ini anak gadis. Ini anak gadis kesayanganku. Suatu hari
nanti ia akan tumbuh dewasa. Di hadapannya, aku
seorang ayah, seorang anak, seorang yang tidak tahu
cara menjadi. Alangkah tragis, kupikir. Suatu hari nanti
ia akan meninggalkanku. Ya, setidaknya, aku sempat
mengalami bagaimana rasanya memiliki. Kemudian
pria itu menyipitkan matanya keheranan, berkata,
“Kau tidak menjawab pertanyaanku.” Aku bengong
sejenak sebelum menjawab sambil mesem, “Aku tidak
menemukannya di mana-mana, Bung. Bahkan aku tidak
sungguh memilikinya. Bahkan sampai detik ini, aku
berharap ia berulang tahun yang ke-25. Aku merayakan
                           apa yang tidak aku punya.

.

Dan waktu akan tetap merawatmu meski sigaretmu telah berubah menjadi abu

Aku meletakkan sebatang sigaret di mulutmu, membiarkannya tumbuh. Pagi ini cuacanya tidak terlalu panas dan kau bersantai di atap kafe sambil mendengarkan lagu, melihat detik lampu merah menghadapi antrian orang-orang yang hampir terlambat masuk kerja. Beberapa hari lalu kau gagal wawancara. Di kepalamu ada banyak sekali acara: prahara bahwa kau adalah manusia gagal ketika teman dekatmu menikah di usianya yang kedua puluh lima, dan mantan pacarmu baru saja diangkat menjadi direktur setelah enam tahun bekerja. Dan kubilang, ini semua hanya perihal waktu. Ingatlah aku. Ya, lihatlah jam tanganmu. Tiga sore saat ini; dan bagimu tiada yang terbuang. Perhatikan langkahmu di detik ini. Jangan sampai engkau terjengkang.

Minimarket itu akan kupaksa tutup agar tiada kesempatan untukmu membeli minuman bersoda itu selain kini, atau akan kurombak beberapa deadline di dadamu—bapak-ibumu menarik pesan mereka yang berbunyi “Pulang, Nak. Besok pagi.”; hari-hari kubuat mengantuk dan kau bisa menulis puisi untuk lomba yang tak akan kau menangi; utang-utang hasil judimu tidak akan jatuh sesuai tempo; kau masih bisa bermimpi bahkan setelah matahari pergi—agar kau bisa merapat sejenak ke tukang nasi goreng favoritmu di pertigaan jalan untuk mengisi perutmu. Akulah yang menggerakkan alam hingga sampai di kerah bajumu yang menjelma gaji serta kebutuhan bulananmu.

Hari esok adalah kemalangan dan ketidakmampuan yang membatu, tetapi sungguh tanganku akan gemetar ketika kau memutuskan untuk menilik kembali draf novel fantasimu dan mulai—seadanya—menulis bab pertama. Hari lalu adalah halaman-halaman buku yang selesai dibaca dan menunggu dirinya dimasukkan ke rak buku tua. Kau tidak boleh berhenti di museum terlalu lama. Pintu ingatan akan ditutup jam sepuluh malam. Kau ingat apa yang biasa kaulakukan jam sepuluh malam? Bermesraan denganku. Kau berusaha mereka ulang dan melucuti apa-apa saja yang salah dari hidupmu seperti pekerjaanmu sebagai editor majalah tiga tahun lalu, dan kautemukan dirimu tak mampu. Kau hanya perlu menerima bahwa hidup bukan berarti melekatkan dirimu padaku dan mencari setiap alasan mengapa kau begitu terengah-engah mengejar masa depan. Bunuh aku apa adanya. Seperti kata orang-orang: Semua akan terluka pada waktunya.

Pagi ini kau memilih mencintaiku dengan sepenuh hati tanpa menghiraukan bisingnya panggilan telepon yang belum terjadi. Kemudian kau sadari sekelilingmu perlahan-lahan menghilang: lampu hijau mulai menghitung kehidupan remajanya di jalan yang panjang; kopimu sudah tandas (hanya secangkir kecil yang tidak berperasaan); jam dinding yang semena-mena dan individualis; Rock ‘n’ Roll Suicide mulai masuk pada gimme your hands sehingga akan kubersihkan ampas-ampas kenangan yang berserakan di bibirmu yang sarat kecemasan. Akan kusampaikan berita kemenangan tentang seorang lelaki yang berhasil menaklukkan waktu dan menjadi kekasih yang begitu rela mengisi ketiadaannya hingga masa merenggutnya tiada bersisa. Dan aku akan tetap merawatmu meski sigaretmu telah berubah menjadi abu.


Ilustrasi: The Rumors (Paul Klee), dari WikiArt.org.

Baca juga:
Puisi-Puisi Dody Kristianto – Perkara Menunggu
Puisi-Puisi Adimas Immanuel – Cupio dissolve
Puisi-Puisi Widya Mareta – Kamar Pengantin


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *