Menu
Menu

Apa Kabar Komunitas Kita?

Saya mendadak ingat beberapa komunitas saya yang kini seumpama pusara tak bernama, dan alasan kami membentuknya dulu. Aduh, mulia sekali.

Kami ingin komunitas baik kami mengubah wajah dunia, memajukan derajat literasi di tanah air, mewujudkan bumi bebas sampah, dan lain-lain. Alih-alih berkomunitas karena alasan internal (dari dalam diri, seperti anggota klub buku Jane Austen tadi), kami justru melakukannya karena melihat beberapa hal di luar harus dibenahi; apa yang saya sebut sebagai alasan eksternal.

Saya membayangkan ada komunitas lain yang dibentuk agar seorang playboy dapat berubah hidupnya. Yang bergabung adalah barisan para mantan. Bayangan macam apa ini? Atau, ada komunitas lain yang merasa bahwa masyarakat harus back to nature dan para anggotanya bersatu dalam em-el-em yang menjual produk-produk herbal. Yaaa… ujung-ujungnya dagang dan menginjak para kaki-kaki.

Maksud saya, ada banyak komunitas (untuk tidak menyebut komunitas sendiri, yang mana tidak mungkin saya lakukan) yang niatnya baik tetapi gagal berkembang karena mimpi yang terlalu besar itu tidak diawali memerhatikan kebutuhan anggotanya.

Tak jarang, pemilik mimpi hanya satu atau dua orang, mengajak banyak orang terlibat, tetapi melupakan bagian paling penting dari pembentukan komunitas yakni “kepemilikan bersama”. Para tokoh a.k.a pendirinya merasa bahwa setiap anggotanya harus bergerak ke arah yang dia/mereka cita-citakan. Yang begitu kan bikin sedih. Iya to? Bagus kalau setiap hasil diakui sebagai pencapaian bersama. Kalau tidak?

Sering rasanya kita mendengar ada orang yang angkat dada-dagu-kaki-kepala karena merasa komunitasnya (dia anggap adalah dirinya seorang) berhasil membawa perubahan. Komunitas menjadi semacam stepping stone. Batu loncatan. Kita juga sering mendengar curhatan para tokoh yang menyalahkan anggotanya karena komunitasnya hilang tak berbekas seperti air di daun talas.

Akibatnya ya, itu tadi! Keinginan mulia semacam ‘menjadi penjaga gawang kebudayaan’ atau ‘mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia’ atau ‘membuat bumi ramah anak’ atau ‘equality for all’ atau ‘antidiskriminasi gender’ atau ‘produk ini baik untuk anak dan lingkungan’ atau hal-hal yang terlampau besar lainnya, justru berakibat buruk: pecahnya komunitas, bubarnya komunitas, panjangnya daftar orang-orang yang kita anggap bersalah karena tidak mendukung. Adoh, Fergusso e.

Bagikan artikel ini ke: