Menu
Menu

Lagu-Lagu yang Bercerita

Karya-karya Black Finit juga sangat kuat karena menyimpan banyak sekali metafora, alegori, dan referensi yang menarik.

Pengalamannya di jalanan membuat ia peka terhadap situasi orang-orang di sekitarnya. Lagu Dedy Dewi yang hit adalah rekaman pengalamannya bersama seorang teman yang siang hari menjadi buruh bangunan, tetapi malam hari mangkal di lampu-lampu merah sebagai seorang waria. Dalam lagu itu ia menulis: tak ada yang salah, tak ada yang benar, hidup adalah pilihan. Orang-orang yang mengenal Black Finit akan langsung tersenyum mendengar kalimat yang sangat tipikal dengan dirinya. Black Finit, sangat menghargai perbedaan, dan pemikiran-pemikiran kritis. Ia menolak status quo dan mengidam-idamkan masyarakat yang setara. Ketika ia diminta menyanyikan lagu Bukan Puisi (2019), ia merasa lagu itu cocok dengannya. Tidak hanya secara estetis, tetapi juga politis. Nuansa yang sama bisa dirasakan di beberapa single lain seperti Bang Pello, Love is Spread Out dan lagu-lagu lain di mini albumnya bersama Revolution.

Di lagu Sadang Bui, ia menampilkan kualitas sastrawi yang dalam pada liriknya. Meskipun secara sekilas terdengar seperti sebuah lagu cinta, lagu Sadang Bui adalah salah satu kritik Black Finit terhadap kebijakan penggantian nama tempat yang dilakukan secara serampangan oleh pemerintah. Sadang Bui adalah frasa bahasa Krowe yang secara sederhana berarti bersandar (sadang), menunggu/menanti (bui).

Sadang Bui sendiri dulunya adalah nama pelabuhan di kota Maumere. Beberapa tahun lalu, pemerintah mengganti nama pelabuhan itu menjadi Lorens Say, yang mengacu pada nama salah satu Bupati Kabupaten Sikka. Bagi Black Finit, penggantian nama itu serentak menghapus ingatan kolektif, kisah historis, dan nilai kultural dari tempat itu yang justru lekat dan dekat dengan kehidupan masyarakat kota Maumere, dan Kabupaten Sikka umumnya. Baginya, nama mantan bupati tidak lebih penting untuk menggantikan nama Sadang Bui yang diberi nama oleh orang-orang kampung, bersandar dan menanti. Sadang Bui telah lebih dahulu hidup di hati dan sanubari para orang tua yang menanti anak-anak mereka pulang kuliah, para ibu dan anak-anak yang menanti para lelaki mereka yang pergi merantau, menjadi TKI di Malaysia, para kekasih lelaki dan perempuan yang terpisah jarak oleh karena bermacam-macam alasan, dari ekonomi hingga politik.

Dalam lagu itu, Black Finit menulis: sadang bui/sadang e wulan/sadang e leron/waten bui megu mai. Sadang Bui bisa berarti nama tempat, nama pelabuhan di Kota Maumere yang penuh kenangan, bisa juga diterjemahkan sebagai bersandar dan menanti. Sementara sadang e wulan bisa diterjemahkan menjadi bersandar di bulan. Kata bulan dapat diartikan secara harafiah sebagai benda langit yang bersinar di waktu malam. Namun, kata bulan dalam struktur kalimat tersebut, bisa bermakna bersandar/menaruh kerinduan selama berbulan-bulan. Selanjutnya, sadang e leron bisa diterjemahkan menjadi bersandar pada mentari. Di sini, pola yang sama diulang. Mentari secara harafiah berarti benda langit yang menerangi hari/siang. Namun padanan kata dalam kalimat tersebut bisa bermakna bersandar/menaruh kerinduan hari demi hari. Menariknya, kata wulan dan leron, sangat identik dengan persona wujud tertinggi yang ber-genus maskulin dan disebut dalam frasa Ama Lero Wulan Reta (Bapa Matahari Bulan yang Ada di Atas) yang berpasangan dengan Ina Nian Tana Wawa (Mama Bumi Tanah, yang Ada di Bawah). Syair yang mengikuti kedua syair di atas berbunyi, waten bui megu mai, bisa diterjemahkan menjadi hati menunggu kekasih datang.

Keseluruhan syair di atas memiliki kelindan makna yang dalam dan terbuka pada berbagai macam tafsir. Salah satunya bisa dibaca seperti ini: di pelabuhan Sadang Bui, seseorang berenjana, sedang menanti kekasihnya yang berada di tempat yang jauh datang/kembali. Dalam penantiannya yang panjang, hari demi hari, bulan demi bulan, ia titipkan segala kerinduannya kepada tuhan, yang jauh di langit sekaligus dekat di hati. Bait ini ditegaskan oleh larik-larik pada bait selanjutnya yang tidak kalah puitis: apu piru megu ‘e waten na’i reta dala poi tena ‘au. Kalimat ini secara sederhana berarti peluk cium sayang yang ada di hati, (ku)letakan pada bintang-bintang hanya untukmu. Yang menarik, dala atau bintang dalam kosmologi suku krowe juga berarti harapan. Bintang tidak sekedar merujuk pada benda langit semata, tetapi juga berarti seluruh cinta, doa, dan penantian sang kekasih itu ditempatkan pada harapan yang selalu bercahaya di kegelapan. Harapan yang tidak pernah pudar.

Dalam lagu Sadang Bui, Black Finit bermain-main dengan metafora, kosmologi, dan imaji visual yang kaya serta berpijak pada kearifan budaya. Ia bermain-main dengan makna konotasi sekaligus denotasi, bahasa yang arbiter sekaligus kontekstual dan imajinatif. Saya tidak tahu apakah Black Finit rajin membaca Injil, tetapi yang pasti lirik lagu ini amat puitis dan memuat tiga batu sendi penting Kristianitas: cinta, iman, dan harapan. Kultur religius yang juga turut membentuk dirinya. Namun yang pasti, ia melampaui seorang musisi: ia adalah seniman. Di tangannya bahasa yang terbatas menjadi begitu kaya dan bisa mewakilkan banyak perasaaan dan pemikiran.

Pada 26 September 2020 yang lalu, Black Finit meninggal dunia. Jenazahnya, yang diterbangkan dari Jogja, dijemput oleh seluruh rekan, teman, sahabat, dan penggemarnya di nian tana Sikka. Bandara Frans Seda Maumere penuh sesak. Massa melakukan pawai, menghantar jenazah beliau ke RSUD TC. Hilers Maumere. Tak peduli situasi pandemi Covid-19, tidak peduli harus dibubarkan polisi berkali-kali. Massa tetap solid. Semua musisi Maumere dari berbagai generasi, dari yang sering mangkal di tenda-tenda pesta, café-café, kampanye pilkada, channel youtube hingga yang keluar masuk tivi. Semua berkumpul di rumah duka, bernyanyi dan memainkan lagu-lagunya, memberikan penghormatan dan perpisahan terakhir bagi Sang Legenda. Yang sering sikut dan mencaci menjadi cair dalam satu lingkaran, yang sering mencari jalan sendiri-sendiri bergilir sloki sambil berbagi cerita.

Obrolan bersama Black Finit di acara pameran KAHE Exhibition Anak dan Rumah tahun 2019 yang lalu, membuat kami sama-sama menarik kesimpulan begini: seni menyembuhkan luka, menghantar orang menemukan dirinya, memberi keberanian untuk memaafkan dan menerima diri. Dan Black Finit kiranya telah mengalami itu. Ia ingin semua orang yang percaya pada kesenian mengalami itu. Seni memersatukan. Seni mencairkan ketegangan, menerobos sekat-sekat pembatas. Black Finit adalah salah satu yang mewujudkannya. Ia adalah seni, adalah mahakarya itu sendiri.

Malam itu, setelah menyanyikan Bawa Sertamu untuk teman minumnya, Black Finit mengulang kembali keinginan yang sudah sering sekali ia sampaikan, baik sebagai nasihat maupun curhatan. Keinginan itu sempat ia utarakan lagi ketika kami bercakap dalam sambungan telepon beberapa waktu sebelum ia pamit untuk selamanya. Katanya, setiap orang ada masanya, dan di setiap masa ada orangnya. Kalimat itu hanya bisa dikatakan oleh orang yang percaya dan berani untuk membuat sejarah. Setelah mati, kau mau dikenang seperti apa? Dengan cara yang bagaimana?

Lalu sepi. Hanya desir angin dan suara perahu motor yang kian menjauh…

Sayang, ia sudah pergi, tanpa sempat merasakan dan mengalami seperti apa ia dikenang oleh semua yang hari-hari ini berduka atas kepergiannya. Atau mungkin memang benar, semua yang ada di dunia ini, termasuk keinginan terdalam setiap manusia, hanyalah kefanaan semata-mata.

Semua kan indah pada waktunya. Semua berpijar pada waktunya. Lakukan yang kau bisa. Jadilah yang kau mau. Biar waktu yang bicara.

Selamat Jalan Wue ami du megu. Horo da’a reta seu, lape pitu! (*)


Baca juga:
Posisi Sastra di Maumerelogia IV
Puisi-Puisi Muhaimin Nurrizqy – Cinta dan Ganja

Bagikan artikel ini ke: