Menu
Menu

Tokoh-Tokoh yang Mudah Diidentifikasi

Senada dengan yang diungkapkan oleh Rio, peserta selanjutnya, Yuan Jonta menyampaikan kekagumannya terhadap penulis Tango dan Sadimin. “Favorit!” ungkapnya.

Saat membaca novel ini, Yuan teringat pada novel Azhari Aiyub, Kura-Kura Berjanggut (KKB): Ada banyak karakter yang terlibat di dalam kisah.

Namun demikian, bertolak belakang dengan KKB, kisah setiap tokoh selesai di setiap bab dalam novel ini. Pembaca juga tidak sulit mengidentifikasi tokoh ketika muncul pada bab-bab selanjutnya.

Yuan mengakui, di bagian awal memang ia sempat merasakan kebingungan yang sama dengan Hermin, tetapi kemudian ia memahami bahwa, ada semacam kekuatan simbol yang merupakan tema besar dari novel ini. Yuan sepakat dengan apa yang telah disampaikan oleh Rio tentang Tango dan Sadimin yang menjadi titik pusat. Selain itu, jika kita perhatikan dengan seksama, ada dua Nini Randa. Yang pertama adalah seorang wanita dengan gangguan jiwa yang dipasung dan mati, bernama Nini Randa. Jenazahnya membusuk dikerubuti belatung. Sebelum ia mati, ada orok yang mengapung di tengah banjir, melalui liurnya ia mewariskan kehidupan baru terhadap bayi tersebut, yang kemudian oleh masyarakat dinamakan Nini Randa juga. “Ini bagian yang cukup surealis,” papar Yuan.

Selanjutnya, tentang Caina, Yuan meyakini bahwa ia adalah perempuan yang bunuh diri di rel kereta api. Bagi Yuan, pertanda ini jelas terlihat ketika sapi kesayangan Caina dibunuh oleh ibunya kemudian dibuang ke lumbung. Suatu hari, Caina dan Dana kembali ke sana dan menemukan bangkai sapi tersebut. Pasangan suami-isteri itu harus membersihkan bangkai hewan kesayangannya sendiri agar bisa menempati lumbung. Di kemudian hari, ketika Dana datang ke hadapan Nini Randa dan meminta bantuan untuk menemukan Caina yang hilang, jawaban Nini Randa singkat saja, dia sudah bukan milik kita lagi. Dia sudah tidak ada di sini lagi. Dia tidak akan kembali lagi. “Bagian ini seharusnya menjadi jelas bahwa, Caina memang dikehendaki mati oleh penulis sejak awal,” tambahnya.

Hal lain yang juga disoroti Yuan adalah Haji Misbah dan ketiga istrinya. Bagi Yuan, ada gap tentang bagaimana hubungan suami-isteri dilihat dari zaman ke zaman.

Istri pertama sangat menghargai martabat suami dengan statusnya sebagai haji. Ia mempertaruhkan hidupnya. Susah senang benar-benar untuk melayani suami, termasuk melakukan ritual merendam diri di kali pada pukul tiga dini hari demi meloloskan keinginan Haji Misbah yang ingin menjadi anggota legislatif. Istri kedua memang diambil sebagai amanah, salah satu bentuk ibadah. “Nah, istri yang ketiga ini yang cukup menimbulkan rasa penasaran,” tutur Yuan.

Diceritakan, istri ketiga adalah mantan PSK Nini Randa, sangat urak-urakan. Tentu pembaca ingin sekali tahu, apa alasan Haji Misbah hingga memutuskan mengambil wanita tersebut menjadi istrinya yang ketiga. Dari cara berkomunikasi saja, tidak ada ikatan emosional yang kuat. Selain itu, latar belakang keduanya sungguh berbeda. Istri ketiga bahkan mengidolakan Nini Randa, lalu kenapa dia mau menikahi Haji Misbah? “Dari sudut pandang Haji Misbah sebenarnya tujuannya jelas, agar bisa mengubah kehidupan sang istri ketiga. Tetapi bagaimana dengan motif sang wanita itu sendiri sehingga mau diperistri oleh Haji Misbah tidak dijelaskan oleh penulis,” komentarnya.

Tokoh lain yang juga menarik bagi Yuan adalah, Ozog dan Sipon. Kedua pasangan suami istri pengemis dan anak-anaknya ini menunjukkan totalitas dalam memilih jalan hidup. Tidak peduli apa profesimu, lakukan itu dan jadilah terbaik di bidang tersebut. Keluarkan seluruh potensimu di situ. Jadi sekalipun menjadi pengemis, mereka adalah pengemis yang profesional. Demikian Yuan mengakhiri hasil pembacaannya.

Sebagai mantan seminaris, dr. Ronald Susilo yang mendapatkan giliran selanjutnya membuka hasil pembacaannya dengan menyampaikan ayat dari Yohanes 8:7: “…Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu…”

Tokoh-tokoh di dalam Tango dan Sadimin menurut Dokter Ronald, membawa kita kepada permenungan yang dalam tentang pilihan-pilihan yang kita ambil dalam hidup dan sebisa mungkin memahami alasan di baliknya; dari Nini Randa yang polos hingga akhirnya menjadi seseorang yang memiliki visi dan tujuan yang berdampak besar bagi orang-orang yang putus asa di sekitarnya.

“Bahkan anaknya telah ia persiapkan menjadi PSK profesional dengan mengajarkan jenis-jenis laki-laki yang layak untuk dia tiduri. Kemudian ada Tango dan Sadimin yang bekerja keras mengolah lahan sawah yang diberikan Haji Misbah dengan mempekerjakan buruh-buruh harian yang setiap hari belum tentu bisa makan. Dari kisah Haji Misbah juga, kita akhirnya memahami bahwa menjadi orang beragama tidak lantas membuatmu suci bersih. Ada banyak perkara yang akan terus menguji keimananmu sehingga di titik tersebut kau harus mengakui bahwa, manusia tidak ada yang sungguh-sungguh sempurna,” terangnya.

Sementara itu, mengomentari tentang judul, Dokter Ronald berpendapat, judul tergantung pada penulis. “Terserah apa isinya, keputusan mutlak terkait judul adalah hak penulis untuk menentukan, lanjutnya. Dokter Ronald kemudian merekomendasikan buku lain Ramayda Akmal yakni Jatisaba yang juga kurang lebih mirip kisahnya, hanya saja tidak bertaburan tokoh seperti Tango dan Sadimin. Pada tahun 2010, Jatisaba menjadi Juara Sayembara Novel DKJ.

Sebagai yang terakhir mendapatkan kesempatan berbicara, saya merasa ada tokoh lain yang belum sempat disoroti oleh para peserta bincang buku. Dan sangat kebetulan, tokoh tersebut menjadi favorit saya dalam Tango dan Sadimin: Mono!

Bagi saya, Mono—dan bapaknya, Uwak—adalah otak di balik sepak terjang Sadimin hingga akhirnya menjadi juragan. Jika tak ada Mono, tak ada kisah Tango dan Sadimin. Bagaimana Mono mempengaruhi Sadimin, yang pada mulanya hanya seorang kuli pasir di tepi kali Cimanduy, agar mendatangi Nini Randa dan Haji Misbah untuk menuntut haknya sebagai anak dari hasil hubungan gelap mereka. Tak hanya itu, Mono juga mengusulkan Sadimin untuk memperistri salah satu pelacur Nini Randa: Tango. Dengan cara tersebut, Sadimin akhirnya mendapat status sosialnya sendiri. Ia merangkak pelahan, naik berada di titik puncak dan menjadi seorang juragan. Sementara itu, Mono tidak menuntut apa-apa dari Sadimin. Ia tetap pada posisinya, sebagai saudara, teman dan orang yang selalu siap memberi masukan jika Sadimin membutuhkan.

Bagi saya, Mono adalah gambaran orang-orang yang tidak takut kehilangan apa pun sekaligus tidak mengharapkan apa pun. Di dalam kepala orang-orang seperti Mono, hidup sama dengan berjudi. Jika menang, syukur! Jika kalah, main lagi sampai menang!

Bagian lain yang juga cukup menarik perhatian saya adalah saat Sadimin mengirimkan kepala kambing yang telah terpisah dari tubuhnya kepada Basar. Teror Sadimin kepada Basar agar segera mengirimkan paket minuman keras oplosan sebagai ganti minuman yang telah disita polisi ini, mengingatkan saya pada adegan kepala kuda penuh darah di bawah selimut Jack Woltz saat menolak permintaan Don Corleone untuk mengorbitkan anak baptisnya Johnny Fontane ke dalam film terbarunya di serial The GodFather II.

Hal terakhir yang tidak ingin saya lewatkan adalah, kepengrajinan penulis dalam menuturkan kisah. Dialog-dialog di dalam novel ini dikemas dengan sangat menarik. Kalimat-kalimatnya seolah menyimpan makna yang berlapis-lapis. Saya yakin, siapa pun yang membaca Tango dan Sadimin akan sering berhenti di tengah-tengah aktivitasnya untuk menafsirkan, menemukan interteks (keterkaitannya dengan bacaan atau film atau pun karya-karya yang sudah pernah dinikmati sebelumnya, atau hal-hal lainnya), atau juga mencoba memahami maksud di balik itu semua.

Sebenarnya masih ada banyak hal yang didiskusikan malam itu terkait karakter-karakter yang hidup di dalam novel Tango dan Sadimin. Yuan Jonta bahkan menjanjikan akan menulis ulasan tersendiri tentang tokoh-tokoh di dalam novel ini.

Para peserta menyematkan bintang empat untuk novel kedua Ramayda Akmal ini. Novel selanjutnya yang akan dibincangkan adalah Cara Berbahagia Tanpa Kepala karya Triskaidekaman. Bincang Buku XVII akan berlangsung pada hari Minggu, 28 Juni 2020.(*)


Baca juga:
– ‘Bahasa gaul’ dalam Sastra Perancis
– Cerpen: Lubang Besar di Hutan Tebu

Bagikan artikel ini ke: