Menu
Menu

Menyoal Perkembangan Tokoh

Meski berhasil bersiasat dengan struktur dongeng, ada bagian yang terasa kurang pas dalam perkembangan tokoh Lembu Sungu. Jika membaca bagaimana Sungu Lembu dibesarkan oleh Banyak Wetan, kita akan menduga bahwa kelak ia akan jadi orang yang cerdas. Namun, setiap kali ia dihadapkan pada Nyai Manggis atau Raden Mandasia, ia terlihat inferior.

Tentu saja dalam kehidupan nyata seseorang bisa relatif kurang cerdas jika dihadapkan pada tokoh lain yang juga cerdas. Namun, lebih baik kita mencari penjelasannya dari dalam percobaan kreatif Yusi sendiri.

Yusi tampaknya ingin membangun hero (Sungu Lembu) yang bisa dicintai oleh pembaca. Untuk itu, selain menempatkan pada situasi yang tidak adil dan sebagai pihak yang kalah untuk membangun empati, Sungu Lembu sebagai hero perlu memiliki sesuatu yang istimewa. Teknik itu, meski bukan barang baru, tapi sering efektif.

Problemnya ada pada relasi fungsional antara Sungu Lembu dengan Nyai Manggis dan Raden Mandasia. Fungsi Nyai Manggis adalah mentor bagi Sungu Lembu. Dalam model Propp, Campbell, atau Vogler, seorang mentor dikarakterisasikan sebagai orang yang lebih bijak dan lebih berpengalaman daripada tokoh utama. Meski Sungu Lembu telah dibekali bermacam pengetahuan dari bermacam kitab oleh Banyak Wetan, toh ia harus kurang tahu daripada Nyai Manggis karena memang begitulah “aturan mainnya”.

Berbeda dengan Nyai Manggis, Raden Mandasia adalah jenis hero lainnya. Pilihan Yusi menggunakan lebih dari satu hero menjadi soal ketika yang dipilih adalah hero katalis. Hero katalis adalah hero yang “sudah jadi”. Fungsi katalis hero adalah membantu hero Sungu Lembu untuk merealisasikan potensi dirinya sekaligus berperan mencapai tujuannya. Namun, sebagai hero yang “sudah jadi”, tentu saja Raden Mandasia punya persona hero yang lebih mapan daripada Sungu Lembu sebagai hero “dalam proses”.

Yusi mengeksposisikan Sungu Lembu kecil terlalu bagus sebagai hero “dalam proses”. Lazimnya pada sekuen ordinary world, character arc tokoh ditandai oleh masih terbatasnya kesadaran (limited awareness). Selain bagian itu, ada keterjalinan erat antara perkembangan plot dan perkembangan tokoh dalam dongeng Raden Mandasia, Si Pencuri Daging Sapi.

siasat struktur raden mandasia

Penutup

Mengulas struktur karya sastra memang kurang diminati lagi – entah karena kesadaran akan keterbatasannya, prinsip “ikuti yang terkini”, atau karena mudahnya buku-buku bajakan teori kritis diperoleh yang membuat pendekatan itu terlihat begitu ketinggalan zaman. Namun, kreativitas atau invensi bisa muncul justru dengan cara membaca kembali yang sudah kuno itu.

Ulasan tentang siasat struktur plot ini – yang barangkali agak rumit dan teknis –hendak menunjukkan betapa lihainya Yusi. Kerumitan teknis itu berhasil disembunyikan secara baik. Yang tampak di permukaan hanyalah kisah petualangan yang kita baca dengan lancar.

Secara teknis, tulisan yang baik adalah tulisan yang berhasil menggunakan sarana-sarana sastra secara efektif untuk kebutuhan penceritaannya.

Namun, tulisan yang hebat adalah tulisan yang juga berhasil memanipulasi (penggunaan) sarana-sarana sastra untuk kebutuhan penceritaannya tanpa mengorbankan kewajarannya. Ibarat bumbu masakan yang diracik membawa cita rasa berbeda, tapi berterima, setidaknya, oleh lidah setempat. Sebagai penikmat, meminjam ungkapan Sungu Lembu, saya bisa berkata: luhur sekali strukturnya, Raden. (*)


Infografis: Daeng Irman

Bagikan artikel ini ke: