Menu
Menu

Kalau Kesadaran Awal Sudah Keliru

Di sebuah forum komunitas, saya menemukan satu alasan yang saya sukai sungguh.

“Mengapa bergabung di komunitas?”
“Makin tua kita, makin banyak kehilangan teman-teman lama. Jadi harus nambah teman-teman baru, biar saat tua beneran gak kesepian!”

Mammamia. Itu indah sekali. Yang saya bayangkan, pemilik jawaban itu benar-benar mencintai kehadiran dirinya di dan bagi komunitas. Kesadaran terutama adalah dia tak ingin sendiri (saat tua beneran gak kesepian), yang berarti apa pun yang terjadi pada komunitasnya adalah hasil kerja bersama.

Tanpa kesadaran seperti itu, banyak komunitas baik yang akan kelelahan karena merasa sudah berbuat banyak tetapi perubahan yang diharapkannya tak kunjung terjadi. Mereka mengumpat: “Gila. Saya harus buat apa lagi supaya mereka bisa cerdas? Buku gratis, sudah. Komunitas kami turun ke jalan dan ikut bersihkan sampah, sudah. Bikin tagar #stopdiskriminasi sudah. Harus buat apa lagi?” Saya sedih mendengarnya.

Maksud saya, jika suatu saat hendak bergabung di komunitas, mulailah dengan keyakinan bahwa yang ingin kau perbaiki atau yang semestinya bahagia adalah dirimu sendiri, Rossalinda. Mulai dari sana dulu. Dalam percintaan juga begitu, bukan?

Kadang-kadang kau harus jungkir balik mengubah standarmu sendiri agar kau bahagia karena akhirnya hubungan kasih-mengasihi itu langgeng adanya. Dengan melihatmu berubah, kesayanganmu juga pasti perlahan melakukannya. Kalau tidak, hubunganmu mungkin akan berakhir secepat gerak cahaya. Atau kita hanya akan jadi penggerutu.

Contoh Gerutuan:
Sa su kasi buku gratis, kamu tir baca. Sa su bikin hastag #pungutsampah tapi tir ada yang ikut.

Kemungkinan Jawaban:
Helooo… Kaka dorang su baca banyak ka tida sehingga bisa bikin pedoman bagus untuk kegiatan mulia itu. Kaka dorang buang sampah pada tempatnya ka tida? Atau hanya pungut sampah yang kita buang sendiri sembarangan beberapa hari sebelumnya?

Itu satu hal. Hal lain adalah—juga saya baca di forum yang sama dengan jawaban yang indah di atas tadi: “Satu alasan yang sebenarnya orang ngga mau akui kenapa mereka ikutan klub… adu GENGSI bro, alias buat PAMER.”

Tuan Deo e. Sa begini ju ka? Bisa jadi. Maksud saya, meski tidak akan pernah mau saya akui, tetapi saya sesungguhnya menikmati ‘dikenal’ sebagai orang komunitas.

Sehingga kalau ada yang tanya “su buat apa” atau “su bawa dampak apa untuk sekitar” dan saya menyadari bahwa saya belum berhasil mewujudkan visi dan misi hebat kami, dengan senang hati saya akan bilang: “Hei, yang penting kami su mulai e. Kau sendiri buat apa?” Lalu saya hidup happily ever after karena curriculum vitae saya semakin panjang. Siapa tahu suatu saat jadi caleg. Pukultuju e.

Semacam Catatan Akhir

Mengingat kembali The Jane Austen Book Club, saya ingat peristiwa beberapa tahun silam. Kami memutuskan membuat klub buku. Niat awalnya sungguh remeh. Biar ada teman ngobrol setelah baca satu buku. Dan itu menyenangkan. Menambah panjang daftar CV adalah bonus. Meningkatkan kecerdasan literasi di sekitar kami adalah mimpi yang (terlalu) besar.

Sederhana saja pada mulanya. Menyenangkan diri dengan bergosip tentang tokoh dalam cerita dan para penulis yang menciptakan mereka. Lalu belajar sesuatu dari sana.

Sekarang, klub buku yang dulu bernama Petra Book Club itu berubah menjadi Klub Buku Petra. Yang menjadi payung BACAPETRA.CO ini. Entah beberapa tahun lagi akan menjadi apa, kami ingin bersenang-senang. Siapa tahu kegembiraan itu akan ikut membuat orang lain senang. (*)

Bagikan artikel ini ke: