Menu
Menu

Di Banda Neira, ke Benteng Belgica dan Istana Mini

Pertama kali menginjakkan kaki di bekas tanah pengasingan Banda Neira, tempat ini berhasil mengantar saya menuju bayangan masa silam yang membekas bersama malam, yang ditulis menjadi kisah-kasih oleh kalam, sehingga abadi menjadi sejarah dan kenangan.

Bagi saya Banda adalah sejarah, Banda adalah puisi, Banda adalah surga pala, dan Banda tidak akan selesai dibicarakan maupun ditulis, karena Banda adalah simbol dari karya sastra yang sulit diterjemahkan ke dalam bahasa kita sehari-hari tetapi dapat dirasakan serta didengarkan sebagai orkestra alam yang tercipta dari ombak, angin, kapal, dan lirik kidung perdamaian.

Bekas-bekas perjuangan, pembantaian, perbudakan, perkebunan, perdagangan dan hal-hal lampau yang asing, masih terekam dengan jelas ketika kita melihat tatanan dan bangunan yang memenuhi sebagian besar Kepulauan Banda, terutama Banda Neira. Menurut warga setempat, puing-puing sejarah itu dikelola oleh yayasan Des Alwi.

Namun tempat-tempat bersejarah itu mulai bergeser fungsinya dan kurang dipedulikan, baik oleh yayasan Des Alwi, pemerintah, maupun juga masyarakat setempat. Rumah Iwa Koesoemasoemantri, Sutan Sjahrir, dan Dr, Tjipto Mangoenkoesoemo sudah ditempati beberapa keluarga layaknya rumah pribadi, walaupun dengan dalih mereka adalah keluarga yang mengelola tempat tersebut. Yang seharusnya dijadikan cagar budaya, lambat laun tercecer, terbakar, dan menjadi abu yang beterbangan.

Di hari kedua kedatangan, saya memutuskan melakukan perjalanan menuju Benteng Belgica. Di sepanjang jalan saya merasakan nuansa zaman kolonial. Puing-puing bangunan di Banda Neira masih tetap berdiri meski usianya telah berabad-abad dan terlihat sedikit renta. Nuansa itu lebih seram ketika saya masuk ke dalam Benteng Belgica. Langsung terlintas bayangan pada para budak yang hilir-mudik mengangkut pala.

Di dalam benteng ada beberapa ruangan besar. Rasa penasaran mulai timbul. Saya masuki satu per satu sembari memotret. Entah hanya ilusi atau kenyataan, tiba-tiba saya mendengar suara teriakan-teriakan dan suara pedang berbenturan di salah satu ruangan. Saya melihat sekeliling dan sadar, di dalam benteng saya hanya seorang diri. Saya penasaran dan memutuskan masuk ke dalam ruangan, gelap gulita di dalamnya. Baru tiga langkah menuju ruangan tersebut, tiba-tiba terdengar bunyi lain. Saya kira ada yang bermain musik di luar. Ternyata gawai saya yang berbunyi, sebuah panggilan dari seorang teman. Ia hendak menyusul ke Belgica. Setelah berbicara sebentar di telepon lalu mematikannya, saya kemudian memasuki ruangan.

Ternyata tidak ada apa-apa di dalamnya. Hanya suara kelelawar dan tetesan air dari atas ke bawah. Beberapa saat kemudian, Viano, kawan yang tadi menelepon, datang dan mengabarkan bahwa saya terkunci di benteng sejak tadi. Edian! Untung saja Viano datang dan membantu membukakan pintu gerbang benteng.

Dari benteng, bersama Viano, kami menuju Rumah Bung Hatta. Di sana, kami bertemu dengan Oma yang merawat rumah dan segala perabotan. Saya diajak berkeliling oleh Viano. Di belakang rumah, saya melihat beberapa bangku sekolah lama dan satu papan tulis. Masih tertera tulisan kapur Bung Hatta di papan tulis itu:

Djatoeh bangoennja negara ini sangat tergantoeng dengan bangsa ini sendiri makin poedar persatoean dan keperdoelian Indonesia hanjalah sekedar nama dan gambar seoentaian poelaoe di peta.

Sebenarnya saya tidak boleh mengambil gambar di sekitar Situs Pengasingan Bung Hatta ini, tetapi karena saya datang bersama Viano, maka saya diizinkan untuk melakukannya. Selepas mengambil gambar, saya dan Viano melanjutkan perjalanan ke Istana Mini.

Istana Mini dibangun pada tahun 1622, pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen. Istana Mini merupakan Istana Keresidenan yang pertama di Hindia-Belanda. Desain Istana Negara di Bogor menyerupai Istana Mini. Saya diantar Viano ke satu ruangan, di salah satu jendela ruangan itu ada tulisan serupa sebait sajak yang ditulis dengan bahasa Perancis.

Quand viendra t’il le temps que formera mon Bonheur?
Quand frappera la cloche qui va sonner l’heure,
Le moment que je reverai les boards boards de ma patrie,
Le soin de ma famile que j’aime et que je benis?

1 Septembre 1831,
Charles Rumpley

Kapankah tiba waktuku untuk mencapai kebahagiaan?
Kapankah lonceng berbunyi sebagai penanda waktuku,
untuk kembali melihat kampung halamanku,
untuk kembali kepada keluarga yang kucintai?

1 September 1831,
Charles Rumpley

Ketika saya ingin memotretnya, seketika angin kencang dari luar menerjang jendela yang sedang terbuka sehingga menyebabkan jendela menutup dengan keras. Dengan santai, saya membuka kembali dan menodongkan moncong lensa ke jendela untuk mengambil gambar tulisan tersebut, tapi angin kencang kembali datang dan menutup jendela tersebut. Sampai tiga kali berturut-turut. Saya bilang ke Viano, sepertinya saya tidak boleh ambil foto, arwah yang punya tulisan ngambek! Kami meninggalkan ruangan itu. Saya keluar sembari tertawa karena meski nyaris gagal, saya akhirnya berhasil mendapatkan foto yang saya inginkan.

Dari Istana Mini, saya bertukar cerita dengan Viano tentang sebait sajak yang ditulis di jendela. Saya tertarik dengan kisah yang ditulis dan direkam lewat kata-kata seperti kisah Rumpley.

Kisah ini dikenal melalui goresan cincin pada kaca jendela di salah satu ruangan Istana Mini hingga menjadi satu bait puisi kerinduan akan kampung halaman dan keluarganya. Rumpley bunuh diri dengan mengaitkan tali pada kerangka lampu gantung. Mereka yang pernah meluangkan waktu bertandang ke Banda Neira, tidaklah asing dengan ceria ini. Banyak dari mereka datang untuk mengunjungi Istana Mini dan mendengarkan sekelumit kisah Charles Rumpley, seorang berkebangsaan Perancis yang bekerja pada VOC.

Menurut kabar yang beredar, Rumpley ditugaskan mengurus administrasi dan distribusi pala. Kesibukan Rumpley, membuatnya tidak bisa pulang ke Perancis. Ditambah lagi dengan sulitnya keluar dari Kepulauan Banda karena kepulauan kecil di timur Hindia-Belanda itu dikepung lautan luas. Kisah bunuh diri Rumpley, bagi saya, bukanlah sekadar tontonan semata lalu dilupakan begitu saja. Decitan cincin Rumpley di kaca jendela di salah satu ruang Istana Mini Banda Neira telah mengajarkan kepada saya tentang bagaimana semestinya saya bersyukur dan mencintai kampung halaman.

Sayangnya sampai hari ini belum ada yang mengetahui apa yang melatarbelakangi Rumpley melakukan bunuh diri. Pun saya selalu berpikir bahwa tidak mungkin hanya karena stres atas kesibukan bekerja, ia lalu bunuh diri. Saya menduga bahwa ada hal lain yang cukup misterius terkait peristiwa ini, terutama soal psikologi Rumpley sendiri saat itu.

Saya berdiskusi tentang Rumpley dengan Sergius Sutanto, penulis novel biografi yang pernah sama-sama mendapat kesempatan beasiswa Residensi Penulis Indonesia oleh Komite Buku Nasional. Dia menduga, di masa-masa itu ada peraturan bagi para budak dan pekerja yang melakukan pelanggaran atau ketahuan berzina akan mendapat hukuman mati. Dugaan ini, membuat kami menerka-nerka bahwa kemungkinan Rumpley pernah melakukan salah satu pelanggaran tersebut. Namun, semua itu masih dugaan, belum ada yang mengetahui dan meneliti kebenarannya secara pasti.

Bagi saya, Rumpley adalah seorang penyair yang mendadak terkenal setelah kematiannya. Saya tidak pernah membayangkan apabila kehidupan penyair hari ini lebih tragis dari Rumpley, atau bagaimana jika kita adalah Rumpley? Tapi yang pasti, sebait puisi Rumpley akan abadi, terus dibaca sepanjang zaman kehidupan manusia, selama cagar budaya itu masih diperhatikan oleh pemerintah maupun oleh masyarakat setempat.

Selama di Banda Neira, saya merasakan keterasingan yang aneh, yang barangkali juga dialami orang-orang terdahulu yang pernah diasingkan di Pulau Banda Neira.

Namun demikian, saya tetap merasa senang sebab bisa bertemu dengan kawan-kawan seperti Memed, Agung, dan Rahmad sebagai pelipur keterasingan tersebut. Saya juga bertemu dengan beberapa pemilik perkebunan pala. Salah satunya, Pak Tua Poengky Van Den Broeke–turunan ke-13 dari generasi Van Den Broeke, pengelola kebun pala pertama di kepulauan Banda. Dari beliau saya mendapatkan banyak kisah soal pengelolaan pala, mulai dari zaman nenek moyangnya hingga zaman sekarang, serta fakta-fakta tentang harga pala Banda hari ini, yang menurun drastis dan mulai jarang diminati oleh pasar rempah internasional.

Pemilik kebun pala lainnya adalah Bu Ningsih. Beliau tinggal seorang diri di Neira karena suaminya sudah meninggal. Bu Ningsih berasal dari Palembang dan belum pernah pulang ke Palembang selama 40 tahun, semenjak pertama kali tiba di Banda untuk tujuan liburan. Anak-anaknya ada di Palembang dan belum pernah datang berkunjung. Ketika saya berpamitan pulang ke Surabaya, tak ada lain yang dikatakannya selain: “kapan balik ke sini lagi?” Sembari meneteskan air mata. Entah kenapa beliau menganggap saya seperti anaknya, padahal kami baru bertemu dua kali di area kebun beliau sambil makan roti kenari yang diolesi selai pala sembari membincangkan berbagai macam hal.

Sebagai penutup, saya teringat pesan Sutan Sjahrir sebelum beliau benar-benar meninggalkan Tanah Pengasingan Banda Neira dan meneruskan perjuangan kemerdekaan; “Jangan Mati Sebelum Ke Banda!”. (*)

Ilustrasi: Puisi Rumpley di Istana Mini, Banda Neira.


Baca juga:
LAUDE – PUISI-PUISI SALVATORE QUASIMODO
SEMALAM, CINTAKU – PUISI-PUISI JAHAN MALIK KHATUN

Bagikan artikel ini ke: