Menu
Menu

Babad Tanah Jawa dalam Raden Mandasia, Si Pencuri Daging Sapi

Yusi mengakhiri dongeng panjangnya ini dengan menulis bahwa pada akhirnya Sungu Lembu menulis kisah hidupnya secara lengkap dan memberinya judul “Babad Tanah Jawa”.

Jika pada malam itu Jeli Jehaut tidak ikut hadir pada Bincang Buku, peserta yang lain akan menganggap Babad Tanah Jawa hanyalah cara Yusi memberikan kejutan pada akhir dari kisah perjalanan Sungu Lembu tersebut. Sampai Jeli menyampaikan pengalamannya membaca Babad Tanah Jawa bertahun-tahun yang lalu. Perbincangan malam itu menjadi semakin menarik.

Dikisahkan bahwa di antara kerajaan-kerajaan yang pernah dituliskan oleh para pendahulu di tanah Jawa, terdapat sebuah kerajaan bernama Gilingwesi dengan Pemimpinnya bernama Prabu Watugunung. Watugunung memiliki seorang istri bernama Dewi Shinta.

Pada suatu hari Dewi Shinta yang telah diperistri Watugunung, mendapati bahwa ternyata suaminya adalah putranya sendiri, yang dahulu pergi dari rumah dan tidak ditemukan kembali. Itu terlihat dari bekas luka pada kepalanya. Ternyata anak tersebut telah tumbuh menjadi laki-laki yang sakti.

Dewi Shinta tidak memberitahukan perihal tersebut kepada Watugunung. Ia mulai memikirkan cara untuk melepaskan diri dari Watugunung. Dewi Shinta kemudian mengajukan sebuah permintaan: Keluhuran Watugunung akan semakin sempurna jika ia memperistri Bidadari Suralaya. Watugunung menyanggupi permintaan tersebut dan berangkat ke Suralaya untuk mempersunting Bidadari.

Singkat cerita, pada perjuangannya mendapatkan Bidadari di Suralaya, Watugunung tewas bersama anak-anaknya yang ikut membantunya berperang melawan para dewa.

Mendekati akhir dari novel ini, ketika Sungu Lembu kembali ke Gilingwesi demi menyampaikan pesan terakhir serta permintaan maaf Raden Mandasia kepada ibunya, kita akan menemukan Dewi Shinta yang menceritakan cikal bakal Perang Gerbang Agung yang sengaja dilakukan oleh Watugunung bersama anak-anaknya.

Dewi Shinta mungkin tidak menyebutkan dengan gamblang siapa yang ia maksud pada cerita tersebut. Tetapi Sungu Lembu tentu saja tidak sulit memahaminya. Pada akhirnya, perang terjadi demi memenuhi permintaan tidak masuk akal dari istri tercinta. Watugunung harus memperistri Putri Tabasum dari Gerbang Agung. Untuk mendapatkan Putri Tabasum, tentu saja Watugunung harus menaklukan Gerbang Agung. Jalan satu-satunya adalah berperang.

Watugunung dan ke-27 anaknya musnah di medan perang, sementara Dewi Shinta memutuskan bermeditasi sembari membakar diri bersama adik perempuannya Dewi Landep. Karma yang ditakutkan, berakhir di sini.

Perjalanan Menaklukkan Diri Sendiri

Satu hal menarik yang kemudian disepakati dan menjadi kesimpulan oleh semua yang hadir malam itu: Armin Bell, Ronald Susilo, Marcelus Ungkang, Mantovanny Tapung, Gerry Alamani, Dodo Natal, Tommy Hikmat, Jeli Jehaut, Yuan Jonta, Ajen Anjelina dan saya sendiri adalah bahwa Raden Mandasia, Si Pencuri Daging Sapi merupakan kisah tentang perjalanan manusia menaklukkan dirinya sendiri.

“Bicara tentang motivasi, seringkali sebuah motivasi yang besar justru tumbuh dari emosi yang negatif. Seperti dendam,” demikian Yuan Jonta menceritakan hasil pembacaannya. Lihat saja, saking ingin memenggal kepala Watugunung, Sungu Lembu rela mengakrabi salah seorang anaknya, Raden Mandasia. Bahkan melakukan perjalanan hingga ke Gerbang Agung.

Atau, bagaimana Sungu Lembu menjadi sangat gemar membaca demi bisa mendekati ayahnya, Lembu Kuning; Nyai Manggis yang merasa sangat menderita kehilangan seluruh keluarganya dan dijual ke rumah bordil, yang kemudian menghantarkannya menjadi seorang juragan rumah judi yang terkenal dan disegani. Raden Mandasia nekat menjelajahi separuh dunia, mengajak Sungu Lembu dan Loki Tua hingga mengorbankan hidup seorang Kasim, demi bertemu Putri Tabasum.

Semua yang dilakukan di awal dengan sangat terpaksa, tetapi kemudian dihadapi dengan iklhas, akhirnya memberi pelajaran hidup yang sangat berharga. Kita ditempa terlebih dahulu demi menghasilkan yang terbaik. Terbentur kemudian terbentuk.

Ada banyak hal yang sebenarnya dibicarakan oleh kesebelas orang yang masuk dalam Tim Bedah Raden Mandasia, Si Pencuri Daging Sapi malam itu. Seperti, kemampuan Yusi menghadirkan tokoh-tokoh yang luar biasa dengan fungsinya masing-masing yang tidak akan dilupakan begitu saja oleh pembaca.

Bahkan tanpa perlu menyediakan bagan garis keturunan para tokoh utama—seperti yang digunakan Gabriel Garcia Marquez di Seratus Tahun Kesunyian, semua tokoh dalam dongeng Yusi ini dengan mudah ‘diikuti dan diingat’ pembaca, termasuk Watugunung yang memiliki 27 orang anak, 26 di antaranya adalah kembar dengan nama yang tidak mirip satu sama lain.

Selain itu, ketika membaca novel ini, pada beberapa bagian yang terkesan vulgar dan mencengangkan, kita justru dipertemukan dengan pengalaman seksualitas yang berbeda; setiap tokoh yang melakukannya, menjalankan seksualitas dengan bahagia, perempuan dan laki-laki, merayakan tubuhnya dengan gembira.

Tetapi, yang terutama, jika Sungu Lembu tidak memutuskan pergi dari Banjaran Waru, cerita ini tidak akan ada. Keputusannya menjadi laki-laki yang kuat, cerdas, diimbangi dengan kemampuan indra perasa yang hebat, sikap berani dalam segala situasi, memberikan kesan tersendiri bagi semua pembaca.

raden mandasia si pencuri daging sapi literasi

| Peserta Bincang Buku Petra edisi April 2019 di LG Corner Ruteng


Peserta Bincang Buku Petra edisi April 2019 memutuskan bahwa Raden Mandasia, Si Pencuri Daging Sapi ini layak diberi lima bintang. Untuk sementara waktu menjadi buku terbaik yang dibahas Klub Buku Petra tahun ini.

Bincang buku selanjutnya akan berlangsung pada hari Sabtu, 25 Mei 2019, di LG Corner Ruteng. Kali ini sebuah novel dari Penulis Indonesia Timur, berjudul Sentuh Papua. Novel ketiga yang ditulis Aprila Wayar. (*)

Bagikan artikel ini ke: