Menu
Menu

Sayangnya, Andre seperti ragu untuk mengatakan bahwa ia sedang bereksperimen dalam karyanya ini.Penyair muda.


Oleh: Udji Kayang |

Editor buku menyambi penulis lepas. Penulis buku Keping-keping Kota (2019).


Identitas Buku

Judul: Kalau Begitu Kita Juduli Saja Prosa Ini Omelan
Penulis: Andre Septiawan
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: Pertama, 2020
Tebal: vi + 147 halaman
ISBN: 978-623-00-2000-1

*

Pada masa pandemi ini, jarang sekali penerbit “besar” mengeluarkan buku fiksi yang bukan cetak ulang. Lebih jarang lagi, buku tersebut dijual dengan harga murah, alias yang pada masa prapandemi adalah harga normal. Buku terbaru Andre Septiawan, Kalau Begitu Kita Juduli Saja Prosa Ini Omelan (2020), adalah salah satu dari yang jarang itu.

Andre Septiawan adalah nama baru dalam sastra Indonesia. Pada 2018, ia tiba-tiba muncul sebagai emerging writer dalam gelaran Ubud Writers and Readers Festival. Pada gelaran itu, Andre datang membawa karya debutnya, yaitu buku kumpulan puisi berjudul Suara Murai dan Puisi-puisi Lainnya (2018). Buku itu dipuji Leila S. Chudori sebagai “sekumpulan puisi naratif yang bercahaya”.

Kendati buku puisi debutnya kental akan suara dan nuansa Minang, Andre belum serta-merta dikenal baik oleh khalayak sastra Indonesia selayaknya Esha Tegar Putra, Fariq Alfaruqi, atau Heru Joni Putra. Namun, Suara Murai hanya penanda mulai. Andre belum selesai. Kalau Begitu Kita Juduli Saja Prosa Ini Omelan menunjukkan kekhasan Andre seperti dalam Suara Murai, sekaligus pada saat bersamaan menawarkan sesuatu yang lumayan berbeda.

Dari judulnya saja, pembaca bisa menduga bahwa Kalau Begitu Kita Juduli Saja Prosa Ini Omelan bukan kumpulan puisi. Hanya, puisi tidak benar-benar absen di buku baru Andre. Di halaman 1–7 terdapat “Setengah Lusin Puisi Mengamini Orang Mati”, kemudian tiga puisi lagi di halaman 84–86. Selain beberapa puisi, ada pula “semacam” drama satu babak berjudul “Bangku Kosong”. Sisanya adalah tulisan-tulisan yang boleh pembaca anggap sebagai cerpen—kendati saya sendiri meragukan itu.

Sejak awal pembacaan hingga tandas setengah isi buku, saya masih saja tidak tahu bagaimana mendudukkan buku ini. Pertama, apakah sebagai buku utuh atau kumpulan tulisan? Kedua, apakah buku ini betul-betul kumpulan cerpen—mengapa ada puisi dan naskah drama? Ketiga, mengingat suara penulis sangat kuat—seolah-olah menulis opini ketimbang bercerita, apakah ini benar-benar buku fiksi?

Tidak ada satu pun bantuan atau petunjuk untuk memudahkan saya mendudukkan buku ini. Tidak ada pengantar, baik dari penulis atau editor, yang biasanya mewakili penerbit. Tidak ada subjudul semisal “kumpulan cerpen”, “sehimpun kisah”, dan lain-lain. Sampul belakang buku pun hanya berisi sekutip paragraf dari isi buku, dan di atas kode bar buku Andre dikategorikan “literature” belaka.

Semakin jauh membaca, hingga akhirnya menuntaskan seluruh buku, saya mulai paham bahwa Kalau Begitu Kita Juduli Saja Prosa Ini Omelan adalah kumpulan tulisan dan judul buku diambil dari judul tulisan terakhir. Jika didasarkan pada kategorisasi teks secara umum, buku ini saya anggap kumpulan cerpen “dengan catatan” dan berarti juga adalah buku fiksi. Mengapa “dengan catatan”? Sebab, melalui buku ini, Andre saya kira sedang membongkar batas-batas bentuk teks, yang berangkat melalui cerpen.

Sayangnya, Andre seperti ragu untuk mengatakan bahwa ia sedang bereksperimen dalam karyanya ini, sehingga sekilas Kalau Begitu Kita Juduli Saja Prosa Ini Omelan terasa seperti teks yang brutal, tidak beraturan sama sekali, bahkan dari penjudulannya saja terasa tidak sungguh-sungguh.

Dalam hal ini, penerbit pun mesti mendapat sorotan, karena berani memberi ruang eksperimen bagi penulis sebelia Andre, alih-alih penulis yang sudah memiliki bejibun pembaca dan penjualan bukunya sudah terjamin—apalagi menjual buku pada masa pandemi ini terhitung sulit.

Yang tidak hilang dari Andre adalah gaya tutur Minang dan pemilihan diksi yang menarik. Andre sehari-hari berkomunikasi dengan bahasa Melayu Minang di Pariaman dan ketika kuliah ia justru mempelajari bahasa Inggris. Bahasa Indonesia adalah bahasa asing. Namun, justru lantaran Andre terasing dari bahasa Indonesia, ia tekun menggali-gali keindahan bahasa Indonesia, dengan bekal ketakjuban yang saya kira lebih tinggi ketimbang kita yang terbiasa berbahasa Indonesia sehari-hari.

Yang jauh berbeda dari buku sebelumnya, Suara Murai, adalah Andre lebih bawel dan tidak jarang keras. Andre menghadirkan banyak narator—saya sebut banyak salah satunya karena sulit mengidentifikasi jumlahnya—yang semuanya luar biasa bawel, melontarkan kritik terhadap hampir segala hal dengan nada cemooh dan antipati.

Antipati itu terasa misalnya dalam tulisan “Bukan Dialog dari New York”: Jika menjadi beradab memaksa kami menjadi biadab, biarlah kami lebih memilih tetap menjadi orang rimba yang taat pada aturan adat yang keramat./ Kami akan tetap bersikukuh bersikap acuh tak acuh, serta berpura-pura tak tahu-menahu pergerakan zaman yang kian maju./ Hidup kian mutakhir seolah tanpa akhir.

Antipati dalam tulisan-tulisan Andre adalah pengaruh budaya cimeeh masyarakat Melayu pesisir, khususnya Pariaman. Meski sering dipandang secara stereotipikal dan dipadankan begitu saja dengan “cemooh” yang oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai “ejekan” dan “hinaan”, cimeeh bagi masyarakat Melayu pesisir punya peran penting dalam membangun struktur wacana mereka.

Selain itu, cimeeh juga berperan sebagai filter bagi kebudayaan dari luar Minang yang dianggap tidak relevan, dan peran itu terasa sekali dalam tulisan-tulisan di Kalau Begitu Kita Juduli Saja Prosa Ini Omelan. Tokoh-tokoh Andre, kendati identitas mereka samar, hampir semuanya adalah pemeluk teguh kebudayaan Minang. Segala hal yang berasal dari luar, apa pun itu, entah pemikiran maupun produk kebudayaan massa, selalu ditanggapi secara sinis.

Budaya cimeeh masyarakat Pariaman memberi pengaruh kuat pada tulisan-tulisan Andre dalam Kalau Begitu Kita Juduli Saja Prosa Ini Omelan. Barangkali pengaruh itu hadir sejak Suara Murai, tetapi baru dalam buku ini cimeeh hadir secara percaya diri dan terang-terangan—tanpa berselimutkan keindahan puisi. Saya kira, dengan landasan budaya cimeeh inilah Kalau Begitu Kita Juduli Saja Prosa Ini Omelan sebaiknya didudukkan.

Selebihnya, Kalau Begitu Kita Juduli Saja Prosa Ini Omelan menunjukkan betapa masih ada, dan barangkali banyak, penulis dari luar pusat Indonesia seperti Andre yang masih terasing dari lingkungan sosial berbahasa Indonesia. Bahasa Indonesia seakan-akan terjebak di kepala, dan sastra Indonesia adalah ruang yang mungkin bagi Andre untuk menumpahkan apa yang selama ini tertahan.

Demikian saya kira. Kalau begitu kita sudahi saja ulasan prosa yang dijuduli omelan ini.(*)

penyair muda penyair muda


Baca juga:
– Yang Abadi dari “The King” Black Finit
– Mimpi-Mimpi Seorang Buruh

penyair muda penyair muda

Bagikan artikel ini ke: