Menu
Menu

Teater Garasi dan Estetika yang Terus Bergerak

Jika dibandingkan dengan masterpieces Teater Garasi, semisal Waktu Baktu hingga Gong Ex Machina, Peer Gynts di Larantuka jauh dari nuansa mewah, kompleks, dan tidak setegas pun sedetail karya-karya sebelumnya dalam hal garapan artistik.

Lakon ini dimainkan di area terbuka, di atas panggung berpasir. Dengan satu instalasi sederhana berbentuk kapal layar serupa pinisi yang dibuat dari bambu. Kenyataan-kenyataan produksi di Flores, waktu penggarapan karya, dan orientasinya sebagai karya work in progress mungkin berpengaruh dalam hal ini.

Di samping hal-hal teknis seputar panggung, karya ini justru menjadi menarik karena beberapa hal seputar tendensi artistik yang tidak tampak, dan kejutan-kejutan lain dalam hal bentuk yang muncul.

Peer Gynts di Larantuka memperlihatkan tendensi-tendensi yang hilang, yang mungkin kerap ditemukan seketika ketika kita melihat komposisi karya Teater Garasi.

Tendensi yang tidak ditemukan itu misalnya koreografi-koreografi yang menonjolkan tubuh, yang kerap diduplikasi dan diulang dalam ragam-ragam tempo dan level seperti pada karya Jejalan, ragam monolog atau dialog yang puitis yang mungkin dipengaruhi oleh improvisasi-improvisasi verbal Gunawan Maryanto, imaji ruang dan cahaya yang kuat dan asosiatif dengan isu lokalitas yang dibicarakan seperti dalam Tubuh Ketiga, hingga pilihan-pilihan musik sebagai sebuah teks.

Peer Gynts di Larantuka lebih memperlihatkan dinamika proses dan interaksi antara disiplin-disiplin, budaya, bahasa, sejarah keberkaryaan, dan preferensi estetika yang berbeda dari para peserta workshop.

Seniman-seniman lokal yang terlahir secara organik dipertemukan dengan seniman-seniman mancanegara yang mungkin lahir dari lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan seni dan menghidupi kesenian sebagai profesi. Mereka berdiskusi, berbagi, bertukar ide dan bentuk-bentuk kesenian yang masing-masing mereka geluti.

Yudi Ahmad Tajudin, selaku sutradara dan Ugoran Prasad selaku dramaturgi terlihat sedang bermain-main dan mencoba menguji metodologi collaborative creation yang telah dikembangkan Teater Garasi dalam satu dasawarsa terakhir di antara para performer yang tidak terbiasa dan mungkin awam dengan metodologi tertentu dalam penciptaan karya seni. Seperti kata Yudi sendiri, sebagai sebuah penciptaan dan pertunjukan, Peer Gynts di Larantuka menjadi satu tahapan riset tersendiri.

peer gynts di larantuka kegelisahan


Komposisi Peer Gynts di Larantuka seolah menegaskan kelenturan dan fleksibilitas teater sebagai sebuah bahasa. Sebagai sebuah bahasa, bentuk ditempatkan pada urutan yang ke sekian, melampaui kategori atau pun genre tertentu.

Penciptaan pertama-tama menimbang modal-modal kultural, yang mungkin bisa direkreasikan dan dibentuk sebagai sebuah ekspresi yang mewakili isu-isu yang dibicarakan.

Dalam Peer Gynts di Larantuka modal-modal kultural itu diakomodasi dalam satu komposisi yang padu. Idiom-idiom lokal seperti dendang koda, ritus-ritus di sekitar nuba nara, sole oha, tenun ikat, musik gambus, ditampilkan dalam pertunjukan tidak sebagai sebuah sajian eksotis belaka tetapi sebagai sebuah bahasa lokal-kultural yang bertaut dengan isu besar yang sedang dibicarakan.

Idiom-idiom lokal ini berpadu dengan ragam bahasa Jepang dan Sinhala yang diucapkan Micari dan Venuri, monolog tubuh Takao yang kontras dengan tubuh kultural masyarakat Flores, hingga tarian Venuri yang oleh sebagian besar penonton langsung diasosiasikan dengan tarian-tarian di film-film Bollywood yang sangat mudah ditemukan sebagai konsumsi massal masyarakat di Flores. Aktor-aktor Teater Garasi seperti MN Qomaruddin dan Arsita Iswardhani tampil secara proposional bersama aktor-aktor Flores Timur.

Peer Gynts di Larantuka mewujudkan suatu kualitas estetik yang melampaui batas-batas teritorial dan administrasi negara, melampaui batas-batas identitas, egosentrisme, dan obsesi-obsesi individual. Kualitas estetik yang sama-sama ditatap dan dituju itu menjadi penghubung sekaligus katalisator yang menjembatani dan mencairkan relasi-relasi kuasa, dan perbedaan-perbedaan dan ketimpangan di antara para partisipan yang terlibat.

Kenyataan ini sekaligus menjadi refleksi yang kuat bagi penyelenggaraan dan visi berkesenian di Flores dan NTT pada umumnya yang masih berkutat pada agenda-agenda turistik serta bisnis-bisnis yang eksotis dan mengabaikan inovasi ide, komunikasi-komunikasi intersubjektif lintas disiplin, dan pengembangan sumber daya manusia serta profesi-profesi ahli.

Sungguh pembanding yang baik bagi program-program pemerintah yang cenderung sok tahu dan merasa paling tepat sasaran.

Tahun 2016 Teater Garasi pertama kali datang ke Flores, menyinggahi Maumere dan Flores Timur. Dalam proyek Antarragam kala itu, Yudi mengaku gerah dengan stagnansi yang ia alami di Jawa.

Stagnansi itu bukan sekadar kebuntuannya dalam menemukan ide-ide artistik, melainkan juga dalam kenyataan bahwa wacana-wacana keindonesiaan yang diproduksi dalam berbagai aspek entah sosial, politik, ekonomi, dan budaya pada skala nasional secara massif hanya berkutat pada persoalan-persoalan di sekitar Jawa, jika tidak Jakarta.

Antarragam yang membawa visi unlearning bagi Teater Garasi lantas membangun kontak dan pertemuan, serta aktivasi praktik-praktik kesenian bersama dengan komunitas-komunitas lokal.

Lebih jauh, jika di masa akhir 1998, lakon End Game direfleksikan Yudi sebagai pilihan cara merayakan kemerdekaan dan kebebasan di era reformasi, yang momentual sekaligus belum selesai, yang juga serentak membuka babak baru penjelajahan artistik Teater Garasi dalam karya-karya setelahnya, publik mungkin bertanya-tanya tawaran apa yang bakal dihadirkan oleh proyek ambisius dan isu besar Multitude of Peer Gynts secara estetik, politis, maupun ekonomi, sekurang-kurangnya bagi para penonton Teater Garasi dan ekosistem kesenian di sekitarnya, di Indonesia? (*)


Foto-foto: Dokumentasi Panitia

Bagikan artikel ini ke: