Menu
Menu

Menggelisahkan Konflik dan Perang

Venuri Perera, koreografer dan penari asal Sri Lanka, menggelisahkan konflik dan perang berkepanjangan di negaranya. Di panggung, ia hadir sebagai Anitra. Sebagai penumpang gelap sekaligus sebagai natif yang menyembah dan lantas menyesatkan Peer dalam petualangannya.

Ia menghadirkan dualisme yang lain, subjek yang terhimpit dalam intrik-intrik politik yang pelik, pasar yang monopolis dan ancaman-ancaman politik ekonomi neoliberal yang menghisap dan memiskinkan bangsanya. Venuri seolah-olah menjadi representasi dari lanskap masyarakat di negaranya. Yang cemas dan gelisah, yang tereksklusi sebagai subaltern dalam beberapa dimensi sekaligus.

Ia adalah representasi negara dunia ketiga yang lain; bergulat dengan isu identitas orang luar dan dalam; Muslim, Hindu, atau Kristen sebagai yang mayoritas dan minoritas; perempuan dan budaya patriarki yang kental; dan sekali lagi cengkraman pasar.

Di lakon ini, Venuri selalu berada pada jarak yang cukup untuk melihat aktivitas Peer dan aktor-aktor lain di atas panggung, hadir bersama penonton, dan pada waktunya tampil dan membuka diri lewat satu monolog yang personal tentang negaranya.

Situasi ini seolah-olah mengakomodasi kebutuhan Venuri untuk melihat dirinya dan negaranya dari luar. Menjadikan diri asing, bertemu situasi yang baru untuk kembali menemukan posisinya di antara segala kerumitan yang ia gelisahkan, terutama perihal situasi sosial politik di lingkungan tempat ia hidup.

Jika Takao dituntut untuk kian bergerak mengikuti laju perubahan yang begitu cepat di masyarakat dan lingkungannya, Venuri memilih berhenti, mengambil jarak dan melihat kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa dijadikan tawaran respon untuk situasi yang ia alami.

Kegelisahan para seniman di atas menjadi semacam titik tolak masing-masing yang bisa dipertukarkan dan didiskusikan untuk membahasakan dan menampilkan kegelisahan yang lebih global yang dirujuk sebagai isu oleh lakon Peer Gynts di Larantuka.

Meski demikian, idiom-idom perihal kegelisahan dan kediaman di atas tak cukup dan tentu akan makin kuat jika dibaca bersama dengan konteks dan lanskap Larantuka, yang secara khusus dipilih sebagai tempat penyelenggaraan workshop dan pertunjukan tersebut.

Di salah satu bagian dalam Peer Gynts di Larantuka, narator Inno Koten seorang Imam Katolik yang malam itu berjubah putih meneriakan dengan lantang, ada pencari mutiara, pemburu gading, mente, kopi, kopra dan nabi palsu.

Kalimat pendek ini seakan membuka kembali sebuah jendela yang mengarah kepada lanskap Larantuka. Dan Flores Timur umumnya pada masa lalu. Di sana bisa dilihat sejarah kolonialisme sekaligus diselidiki praktik-praktik neokolonialisme yang mungkin masih berakar dan dijalankan oleh kolonial-kolonial lokal maupun pasar global.

Sebagai sebuah kota pesisir, kontak dan keterhubungan Larantuka dengan daerah-daerah di luar Flores seakan menjadi sesuatu yang niscaya. Penyelidikan sejarah menemukan sisa-sisa pengaruh Hinduisme Majapahit di daerah ini.

Lebih kemudian, agama Katolik masuk melalui interaksi dengan bangsa Portugis. Di dalamnya terjadi dialektika yang rumit antara tradisi yang telah lestari dalam komunitas-komunitas primodial dan agama baru yang membawa serta corak dan logika modernisme.

Dalam cerita dan pandangan Silvester Hurit, kontak antara misi Katolik dan budaya pada taraf tertentu membawa logika orientalisme yang kental. Penduduk asli dianggap primitif dan tak beradab, sehingga butuh pemberadaban melalui mekanisme-mekanisme yang dibangun secara sistematis lewat institusi agama.

Kerajaan didirikan, praktik-praktik adat dicap berhala, ritus budaya digantikan devosi-devosi keagamaan, pendidikan dilembagakan dalam tradisi Katolik, eksklusi-eksklusi dan pembedaan kelas sosial mulai ditegakkan dan diberlangsungkan.

Silvester mengalami dan mendengar cerita bagaimana korke-korke, rumah adat tempat masyarakat bermusyawarah dan situs penyembahan kepada Lera Wulan, Tana Ekan di Lewolema kampungnya dibakar dan dimusnahkan oleh kekuatan lain yang punya otoritas melebihi komunitas adat yang cenderung lebih cair dan organik. Kekuatan dan otoritas itu tidak lain tidak bukan adalah institusi gereja dan negara.

Logika kolonial sejak awal memang menempatkan tanah jajahan sebagai lahan untuk digarap, sasaran eksploitasi. Pengalaman pertemuan antara penduduk lokal dan pendatang tak lepas dari dialog yang di dalamnya menyertakan relasi kuasa yang merampas, dan menghisap.

Pencari mutiara, pemburu gading, mente, kopi, kopra, dan nabi palsu menjadi semacam frasa yang berada dalam batas antara yang eksplisit dan implisit, presentasi dan representasi, masa lalu dan kolonialisme dalam wajah baru.

Dalam terma Gramscian, hegemoni tidak akan berlangsung tanpa kerelaan dari pihak subaltern untuk dikuasai, atau paling tidak tanpa menciptakan ilusi dan mekanisme yang membuat subaltern rela dikuasai.

Dalam konteks Flores Timur, kerelaan itu bisa saja terjadi akibat kamuflase-kamuflase yang diciptakan oleh janji-janji kesejahteraan yang ditawarkan para investor asing pemilik perusahaan-perusahaan mutiara; iming-iming gaji dan negosiasi-negosiasi afektif dari pengelola-pengelola pabrik kopi; tekanan langsung dari para tengkulak mente dan kopra yang punya posisi tawar lebih kuat dalam menentukan harga; atau bahkan penghiburan-penghiburan tokoh-tokoh agama dan wakil rakyat yang meyakinkan bahwa surga senantiasa terbuka bagi semua yang menderita dan berbeban berat di dunia.

Kolonialisme wajah lama, boleh jadi telah mewujud secara baru dalam diri para investor rakus, pejabat korup, pemuka agama yang tamak, yang memegang kendali pembangunan di Larantuka, dan Flores Timur pada umumnya, yang membiarkan kota mungil itu seperti lambat sekali berubah dan bergerak, nyaris sama seperti saat terakhir kali Belanda mengangkat kaki dari kota tersebut.

Sekali lagi, deskripsi di atas mungkin berada dalam tegangan yang eksplisit dan implisit, yang presentatif dan representatif. Namun, bukankah dalam kekaburanlah neokolonialisme senantiasa bekerja?

Yang juga menarik dari Larantuka, perihal isu kegelisahan dan kediaman adalah betapa kota ini kian riuh dengan gerak perubahan di satu sisi. Tetapi di sisi lain masih sangat mudah terhubung dengan komunitas-komunitas primodial yang mempraktikan ritus, kebiasaan hidup, dan meyakini filosofi yang bercorak tradisional.

Di satu sisi, ada subjek-subjek berjiwa pengelana, yang keluar mencari kehidupan baru, yang nyata dalam diri para misionaris Katolik, politisi, tenaga kerja, kaum intelektual dan di sisi lain masih berdiam dengan cukup tenang para penjaga tradisi yang nyata dalam diri tetua adat, masyarakat yang tak punya banyak pilihan untuk bersekolah, para pewaris adat di pelosok-pelosok kampung sepanjang Solor, Konga, Adonara, atau Tanjung Bunga.

Dualisme antara penjaga dan pengelana ini, seperti mendapat kesempatan yang relevan untuk direfleksikan secara baru dan kreatif. Oleh para seniman yang terlibat dalam Peer Gynts di Larantuka dan tentu oleh publik di Larantuka melalui kehadiran dan interaksi dengan seniman-seniman asing, keseluruhan proses penggarapan, dan tampilan lakon ini yang bisa diamati secara langsung oleh publik.

Bagikan artikel ini ke: