Menu
Menu

Catatan-Catatan tentang Pastoral Literasi


Verba volant, exempla trahunt.
Kata-kata nasehat akan terbang menghilang, tetapi teladan atau contoh hidup menarik orang dengan kuat. Inilah prinsip yang perlu dihayati dalam pendampingan pastoral literasi. Mengapa demikian?

Anak-anak didik usia SMP cenderung termotivasi dengan pengalaman terlibat seorang pendidik. Artinya, sebelum menuntut anak-anak untuk membaca dan menulis, kebiasaan-kebiasaan tersebut perlu kita hidupi terlebih dahulu.

Dengan kata lain, pastoral literasi ad extra dalam bentuk pendampingan kegiatan literasi bagi peserta didik, harus didahului dengan literasi ad intra dalam bentuk penempaan dan pembiasaan diri untuk mencintai kegiatan literasi mulai dari diri sendiri.

Selain itu, perlu membangun jejaring kerja sama yang baik dengan berbagai pihak. Hal ini banyak membantu berkembangnya iklim literasi di sekolah. Misalnya, di sekolah ada kegiatan “Seniman Masuk Sekolah” yang merupakan program kerja sama dengan Kantor Bahasa. Kerja sama yang baik dengan Komunitas Sastra Dusun Flobamora dalam pelbagai kegiatan sastra. Dengan demikian, berjejaring merupakan hal yang penting untuk menumbuhkembangkan model pastoral literasi di lingkungan sekolah.

Kemudian, yang menjadi hal yang urgen adalah semangat pelayanan penuh dedikasi dari seorang agen pastoral literasi. Mendampingi anak-anak remaja milenial dengan pelbagai dinamika psikologis dan latar belakang hidup yang berbeda-beda mengharuskan seorang agen pastoral literasi untuk mengenal dengan sungguh karakter tiap anak dan berusaha mencari model komunikasi dan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Bukan berarti kita memanjakan anak didik dengan mengikuti kehendak pribadi mereka, melainkan dengan penuh ketelitian, kesabaran, tetapi tetap memegang prinsip yang tegas demi perkembangan diri anak-anak dan juga demi perkembangan kehidupan sekolah yang berkualitas.

Akhirnya, ada pepatah Latin yang mengatakan: qui nemo dat quot non habet; tidak ada yang dapat kita berikan, jika kita tidak punya apa-apa. Dalam konteks pastoral literasi di sekolah, kita perlu bertanya dalam diri sejauh mana saya mencintai dan menghidupi semangat literasi dalam diri saya sebelum saya membagikannya bagi anak-anak didik saya?

Semoga refleksi yang hadir dari pengalaman TOP saya selama dua tahun di lembaga pendidikan SMP Katolik St. Yoseph Naikoten Kupang ini, dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi model pastoral literasi di lembaga-lembaga pendidikan di daerah kita. Salve!


Catatan: Tahun Orientasi Pastoral (TOP) adalah momen pembinaan bagi seorang calon imam untuk belajar terlibat dalam reksa pastoral. Untuk calon imam projo Keuskupan Agung Kupang, masa TOP biasa dijalankan selama dua tahun.

Ilustrasi: Foto dari Pexels

Bagikan artikel ini ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *