Menu
Menu

Membandingkan Kura-Kura Berjanggut dengan RMSPDS

Di RMSPDS, bab “Berlayar ke Barat” dikisahkan dengan sangat intensif oleh penulis. Pembaca seolah-olah ikut melakukan perjalanan tersebut bersama Sungu Lembu, Raden Mandasia dan Loki Tua.

Hal-hal seperti di atas yang tidak ditemukan saat membaca Kura-Kura Berjanggut. Semua disampaikan lebih seperti kronologi sebuah kejadian. Waktu-waktu objektifnya ditonjolkan, tetapi tidak dengan waktu psikis. Sehingga ilusi perjalanan yang ingin disampaikan penulis sama sekali tidak sampai kepada pembaca sebab pembaca tidak menemukan pengaturan yang sesuai dengan porsi yang benar.

Kapan bagian yang satu harus diintensifkan dengan pendek, kapan bagian yang lainnya mesti diintensifkan lebih panjang dan seterusnya.

Ketiga, dalam konsep filsafat, kita memahami sesuatu melalui waktu. Sebab kita mengorganisasikan waktu sebelum ada jam dan melakukan segalanya dengan pola naratif.

Menjadi melelahkan karena Azhari menggunakan teks penunjuk waktu dan penunjuk tempat. Temporal dan Spasial. Waktu yang progresif, baru beberapa kali maju, bisa mundur kembali ke belakang.

Dalam hal ini, cara tersebut tidak begitu baik untuk meta kognitif pembaca. Seorang penulis yang baik, seharusnya terampil dalam hal ini.

Ada beberapa bagian di mana Azhari cukup baik meta kognisinya. Kognisi, berpikir tentang berpikir, seperti saat ahli nujum kedua dipanggil terkait mutiara hitam. Bagian ini, Azhari terlihat mengantisipasi pembaca, apakah masih mengikuti jalan cerita atau tidak?

Keempat, penulis memang terlihat tidak begitu baik dalam mengorganisasikan tokoh. Jika dibuat struktur naratifnya, Si Ujud sebagai narator kadang terlalu banyak tahu daripada tokoh/karakter. Itu buruk!

Selain itu, sangat melelahkan bagi pembaca ketika harus menghafal nama-nama tokoh yang begitu banyak dan memahami perannya dalam cerita.

George Martin, penulis serial Game of Thrones, mengatasi kontradiksi tokoh-tokoh yang banyak dalam ceritanya dengan memenggal bab-bab berdasarkan peran tokoh-tokoh tersebut. Sehingga kemudian, sudut pandang cerita dikontrol dari sudut pandang para tokoh. Sementara di KKB, semua tokoh diambil alih oleh narator (Si Ujud).

Pada penutup komentarnya, Marcelus menyampaikan poin yang terakhir. Kelima, menurut Marcelus, pengetahuan Azhari tentang fungsi-fungsi tokoh belum terlalu bagus.

Tidak jelas masing-masing tokoh berada di posisi yang mana. Si Buduk misalnya, salah satu tokoh yang sangat menarik (Shapeshifter) dalam novel ini, dan berpotensi untuk lebih menghidupkan cerita. Sayangnya, tidak digambarkan begitu bagus oleh penulis.

Akan tetapi, membayangkan penulis mengerjakan novel setebal 960 halaman, menurut Marcelus, penulis sendiri pasti mengalami banyak kesulitan. Sangat melelahkan.

Seandainya Kura-Kura Berjanggut Dijadikan Berseri

Setelah mendengarkan leraian panjang tentang permasalahan teknis pada novel Kura-Kura Berjanggut, dr. Ronald Susilo yang juga hadir pada Bincang Buku malam itu kemudian menyampaikan hasil pembacaannya.

Kura-Kura Berjanggut sebenarnya adalah dongeng yang sangat menarik. Bagian pertama, Buku Si Ujud itu, luar biasa sekali. Namun pada bagian kedua dan ketiga, Buku Harian Tobias Fuller dan Catatan Perjalanan Jean Claude (Lubang Cacing), ia mengungkapkan bahwa, ia sepertinya kehabisan stamina untuk membaca.

Seandainya penulis memenggal tiga buku tersebut ke dalam beberapa jilid yang berbeda, mungkin akan lebih efisien dan nyaman bagi pembaca untuk menikmati dongeng panjang tentang kerajaan maritim, perompak dan bajak laut tersebut.

***

Kura-Kura Berjanggut merupakan buku kedua Penerbit Banana yang dibahas di Bincang Buku Klub Buku Petra. Setelah membaca dua buku ini, para peserta melihat ada kecenderungan bahwa buku-buku terbitan Banana adalah dongeng dengan latar sejarah yang dikemas menarik oleh para penulisnya. Tommy Hikmat bahkan menyampaikan terima kasih di akhir acara kepada penerbit ini.

Memahami Rasa Lelah yang Disebabkan Kura-Kura Berjanggut

Malam itu, Kura-Kura Berjanggut diberi Bintang Tiga oleh para peserta yang hadir; Ucique Jehaun, Armin Bell, Yani D-, Yuan Jonta, Maria Pankratia, Rio Hamu, Ajen Angelina, dr. Ronald Susilo, Tommy Hikmat, dan Febry Djenadut yang menitipkan hasil pembacaannya.

Bincang Buku edisi Delapan akan berlangsung pada Kamis, 22 Agustus 2019. Buku yang akan dibicarakan adalah Pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2018, Orang-Orang Oetimu karya Felix K. Nesi. Penulisnya akan hadir di Ruteng. (*)

——————————————————

*Sejarah Kerajaan Lamuri – tengkuputeh.com

Bagikan artikel ini ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *