Menu
Menu

Mengapa Kita Lelah Membaca Kura-Kura Berjanggut?

Marcelus Ungkang, Dosen Sastra di UKI St. Paulus Ruteng yang juga menjadi salah satu peserta Bincang Buku malam itu menuturkan faktor-faktor yang menyebabkan pembaca merasa cukup sulit menikmati dongeng Azhari Aiyub ini.

Pertama, penulis berusaha meng-cover banyak hal di buku ini (atau barangkali karena memang begitu banyak bahan yang ia miliki) maka pembaca seperti melihat sesuatu yang begitu jauh jaraknya. Usaha tersebut justru membuat pembaca kehilangan detil cerita.

Beberapa hal di dalam buku ini, bagi Marcelus, sangat tidak meyakinkan. Pada bagian-bagian tertentu ketika detil dibutuhkan, malah tidak dimunculkan oleh penulisnya. Misalnya di fase-fase krusial seperti, bagaimana Anak Haram dan Asoekaya berkomunikasi melalui permainan catur.

Perihal itu, hanya disebutkan pembukaan pertama dan kedua lalu selesai. Sama sekali tidak meyakinkan. Setelah pembaca dibuat antusias dan sangat penasaran, tidak digambarkan strategi yang dimaksud dengan terperinci. Jika pembaca yang sangat ingin tahu, hal tersebut bisa sangat membikin frustrasi.

Kedua, untuk menjawab keingintahuan tentang rasa lelah ketika berusaha menyelesaikan novel KKB ini, Marcelus memaparkan sebuah teori terkait time order dan teks orderTime order: waktu – masa lalu, masa kini, masa depan; teks order: peristiwa – bagaimana waktu diproyeksikan menjadi intensitas.

Sebagai pembanding, Marcelus mengambil contoh bagaimana Paulo Coelho bercerita dalam Veronica Memutuskan Mati. Adegan menuju bunuh diri dalam novel itu sebenarnya hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit. Tetapi Paulo Coelho membutuhkan hampir 20 halaman untuk mengisahkannya. Bagaimana waktu bisa menjadi sangat panjang, pendek, dangkal atau dalam, itu menjadi persoalan teks order.

“Azhari memiliki kelemahan pada bagian ini. Bayangkan, begitu banyak tempat yang didatangi Si Ujud, orang-orang yang ia jumpai, momen-momen penting yang dilewati, semuanya diceritakan hanya dalam satu hingga dua kalimat,” jelas Celus.

Ada bagian tertentu Azhari memang menjadikannya lebih panjang, dan itu terbaca sempurna. Yaitu pada bagian Si Ujud bertemu Laila dan bagaimana Laila menyembuhkan Setan Colombus yang Si ujud derita. Bagian tersebut dikisahkan cukup panjang dan detil, tetapi kemudian setelah Si Ujud meninggalkan Bumbu Hitam dan kembali ke Lamuri, cerita tentang Laila menghilang begitu saja.

“Tokoh yang semula dianggap penting, juga dinantikan kemunculannya kembali oleh pembaca, justru menghilang hingga akhir cerita,” ungkap Celus.

Menurutnya, jika kita membuat perbandingan lagi dengan Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi, yang memang memiliki alur dan plot cerita yang kurang lebih sama—balas dendam dan petualangan—maka kita akan menemukan bahwa teks order pada RMSPDS jauh lebih bagus. Penulis tahu, kapan suatu kejadian mesti diintensifkan, bagaimana membedakan antara waktu obyektif dan waktu psikis.

Contoh waktu psikis: seperti orang yang sedang duduk pacaran, sudah berdua hampir empat jam tetapi seolah-olah baru lima menit berlalu. Sebaliknya, orang yang sedang menunggu kabar. Baru sepuluh menit menunggu, seakan-akan sudah satu jam.

Bagikan artikel ini ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *