Menu
Menu

Isi cerpen “Suatu Hari di Rumah Idrus” ini sederhana saja. Tentang Idrus, seorang penulis yang mengisahkan kedatangan salah satu tokoh dalam tulisannya, kepada istrinya.


Oleh: Ajen Angelina |

Buku pertamanya berjudul “Surat-Surat Habel dan Veronica” (Basa Basi, 2019). Dosen di Universitas Katolik St. Paulus Ruteng. Anggota Klub Buku Petra.


“Suatu Hari di Rumah Idrus” adalah cerpen Armin Bell yang disiarkan pertama kali di Radar Selatan, edisi 8 Juli 2019.

Saya tertarik mengulas cerpen ini karena (1) Armin Bell adalah penulis cerpen berpengaruh di Manggarai, (2) tema besar yang diangkat cerpen ini sesuai dengan bidang saya yang seorang perawat jiwa. Mari kita mulai dengan kisah dalam cerpen ini.

Isi cerpen Suatu Hari di Rumah Idrus ini sederhana saja. Tentang Idrus, seorang penulis yang mengisahkan kedatangan salah satu tokoh dalam tulisannya, kepada istrinya. Sekilas kisahnya memang sederhana, tetapi kita akan dibuat berpikir terutama mengenai kondisi Idrus.

Idrus adalah penderita gangguan jiwa. Skizofrenia tepatnya. Hal itu didukung oleh halusinasi visual yang dialaminya dan obat yang selalu diberikan sang istri, Ratna; Namun telah beberapa bulan terakhir ini mereka sesekali datang—sejak saat itu, Ratna rutin memberi obat-obat yang didapatnya entah dari mana; katanya, “Kau tak lagi mampu membedakan fiksi dan hidup yang sesungguhnya.” (par. 18).

Tidak dijelaskan secara detail apa yang menyebabkan Idrus mengalami gangguan jiwa. Dari cerita saya menyimpulkan beberapa penyebab.

1. Harga Diri Rendah

Di awal cerita Idrus mengisahkan ketidakmampuannya mengupas mangga atau mengerjakan pekerjaan rumah. Dia juga tidak bekerja dan memutuskan menjadi penulis.

Anggap saja Idrus ini tinggal di NTT, menjadi penulis tidaklah seagung menjadi PNS. Apalagi menjadi penulis adalah pelariannya karena tidak mampu melakukan hal lain. Bisa saja dia merasa tertekan karena tidak mampu menjadi kepala rumah tangga dengan pekerjaan yang lebih menjanjikan dan membanggakan istrinya.

Namun sayangnya, sang istri tidak pernah memuji sama sekali; “Pernah kuduga istriku yang cantik itu menyesali keputusannya melarangku ke medan perang. Dugaan saja, oleh karena tak sekalipun dia membaca karanganku meski menikmati hasilnya.” (par. 3).

Harga diri merupakan salah satu dari konsep diri. Carl Roger mengungkapkan, untuk mencapai aktualisasi diri yang stabil (kongruen) seseorang harus memiliki ideal diri, harga diri, dan citra diri yang positif. Sebaliknya jika seseorang memiliki ideal diri, harga diri, dan citra diri yang negatif maka kondisi itu membentuk aktualisasi diri yang tidak stabil (inkongruen).

Harga diri adalah bagaimana seseorang menilai diri, ideal diri, cita-cita, dan keinginan, dan citra diri adalah gambaran tentang diri melalui bentuk fisik. Harga diri rendah terjadi ketika seseorang tidak mencapai ideal diri baik menurut dirinya sendiri maupun standar yang berlaku di masyarakat atau merasa citra tubuhnya tidak bagus (terlalu gemuk, terlalu pendek, kukit hitam, dll.).

Dengan kata lain harga diri rendah merupakan suatu kondisi ketika seseorang merasa dirinya tidak mampu dan rendah di mata orang lain karena tidak dapat mencapai ideal diri dan merasa tidak puas dengan citra diri. World Health Organitation (WHO) mengungkapkan bahwa harga diri rendah kronis dapat menyebabkan masalah gangguan jiwa seperti skizofrenia. Orang yang harga diri rendah kronik cenderung mengasingkan diri hingga kemudian berhalusinasi.

Dalam cerpen ini, tampak jelas bahwa masalah pada peran gender tidak hanya menjadi masalah bagi perempuan tapi juga laki-laki.

2. Kegagalan Peran

Peran (social concept) merupakan bagian dari konsep diri yang berarti bagaimana tugas dan kedudukan kita di kehidupan sosial. Peran kita bisa sebagai Ayah, ibu, istri, suami, anak, Ketua RT, dan sebagainya. Jika seseorang merasa memiliki peran yang baik dalam masyarakat maka, dia akan membentuk konsep diri yang baik. Vice verca.

Dalam cerpen dapat dilihat bahwa Idrus merasa perannya tidak terpenuhi, terutama peran sebagai kepala keluarga. Sebagai kepela keluarga, dia harus punya pekerjaan tetap dan mapan agar diakui dan dinilai mampu menghidupi keluarganya. Ketidakmampuan memenuhi tugas itu membuat seseorang bisa saja menjadi rendah diri, terutama jika punya konsep diri yang negatif.

Dalam cerpen diceritakan bahwa Idrus bekerja sebagai penulis. Itu bisa jadi profesi yang menjanjikantoh Idrus bisa menghidupi 4 anaknyatetapi perannya sebagai pemberi nafkah tidak diakui istrinya. Ratna, adalah seorang perfeksionis dan mungkin punya obsessive-compulsive disorder atau OCD, tergambar ketika dia mengurutkan buku milik Idrus dari A-Z; bagi mereka yang perfeksionis segala sesuatu harus tampak sempurna dan jarang memuji orang lain. Idrus bisa jadi merasa dia tidak begitu mampu menjadi suami yang membanggakan istrinya. Hal itu mempengaruhinya sehingga menulis cerpen tentang Wartini yang gagal menjadi istri dan mencari-cari suaminya.

Cerpen ini menegaskan banyak hal termasuk bagaimana kita harus selalu memberi pujian pada orang yang kita sayangi dan tidak memberatkan mereka dengan segala tuntutan hidup.

Saya tutup tulisan ini dengan qoute dari Carl Roger: “Manusia itu menakjubkan seperti matahari terbenam jika kau membiarkan mereka seperti apa adanya. Ketika aku melihat matahari terbenam aku tak pernah mengatakan ‘coba kalau warna oranye sebelah kanan sedikit lebih muda’. Aku tidak pernah mengontrol matahari terbenam. Aku menyaksikannya dengan kekaguman sampai dia benar-benar hilang.” (*)


Pre order novela “Surat-Surat Habel dan Veronica” karya Ajen Angelina telah dibuka. Akan ditutup tanggal 15 Oktober 2019. Informasinya dapat dilihat di tautan ini atau menghubungi Ajen Angelina via facebook.

Bagikan artikel ini ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *