Menu
Menu

Marto, Kristian, Yanti dan Lomba Cerpen ODGJ

Dari mana mengetahui informasi tentang Lomba Cerpen ODGJ dan apa motivasi mengikuti lomba ini?

MARTO: Informasi tentang lomba cerpen ODGJ saya ketahui dari media sosial. Beberapa teman mengirimkan informasi lomba ini via Whatssap grup dan pesan pribadi. Saya tertarik mengikuti lomba ini karena bagi saya isu atau tema yang diangkat menarik. Selanjutnya saya menyadari bahwa lomba ini dapat menjadi salah satu kesempatan belajar yang baik.

KRISTIAN: Informasi tentang Lomba Cerpen ODGJ saya dapatkan dari seorang teman. Mulanya sekedar ingin berpartisipasi dan mengolah tantangan menulis.

YANTI: Saya mengetahui informasi tentang Lomba Cerpen ODGJ ini dari halaman Klub Buku Petra di Facebook. Motivasi mengikuti lomba ini adalah ingin ikut meramaikan, dan, tentu saja berharap cerpen saya dibaca dan lolos kurasi.

Apa yang kalian ketahui tentang ODGJ?

MARTO: ODGJ, Orang dengan Gangguan Jiwa. Saudara-saudari ini mengalami gangguan jiwa, artinya penderita mengalami gangguan dalam fungsi sosial dengan orang lain, serta dalam hal fungsi kerja sehingga tidak produktif. Gangguan jiwa biasanya diikuti gejala misalnya, delusi, halusinasi, paranoid, ketakutan berat yang disebut gejala psikosis. Kebanyakan orang cenderung menyederhanakan pengertian tersebut dengan menyebut penderitanya sebagai gila karena adanya dampak penderita yang cenderung berubah tempramen dalam waktu singkat. Informasi tentang kesehatan jiwa sendiri tidak begitu  berkembang karena kentalnya stigma dalam masyarakat. Orang malas mencari informasi yang benar tentang penyakit ini karena sudah telanjur mencap penderitanya sebagai orang gila. Seringkali saudara-saudari penderita gangguan jiwa ditangani dengan dengan cara tidak manusiawi seperti dipasung, dijauhi secara sosial, dan tidak mendapatkan penanganan yang layak. Padahal dengan pemahaman yang baik dan penanganan yang layak saudara-saudari penderita gangguan jiwa dapat dibantu proses pemulihannya.

KRISTIAN: Puncak gunung es yang telah lama terabaikan.

YANTI: Bagi saya, ODGJ adalah orang yang hidup dalam dunianya sendiri, dan mereka merasa bahagia saat berada di dunianya tersebut.

Ceritakan proses menulis cerpen bertema ODGJ yang akhirnya terpilih sebagai pemenang lomba ini!

MARTO: Cerpen Nadus dan Sembilan Roh yang Merasukinya sebenarnya terinspirasi dari kisah nyata. Pada tanggal 28 September 2019, saya berkesempatan untuk berlibur di Elar, Manggarai Timur. Sehari setelahnya saya bertemu dengan seorang penderita gangguan jiwa yang sering datang meminta makanan di rumah salah satu keluarga saya. Dia sendiri sering tidur di daerah di sekitar rumah bahkan pernah tidur di dalam dumtruk. Dia seringkali tidak diperhatikan masyarakat pun banyak anak muda yang menjahilinya. Kadang ia dilempari dengan plastik makanan dan bungkusan rokok, ia dibuat mabuk, lalu mereka lari setelahnya. Keesokan harinya, tanggal 30 September, seorang pemuda lain di daerah itu tiba-tiba mengamuk menyerang oto kol dan juga warga yang tinggal di sekitarnya. Dia mengklaim bahwa dirinya dirasuki 9 roh: 2 roh Soekarno dan Hatta dan 7 roh lainnya adalah roh jenderal (walaupun pengetahuan tersebut sebenarnya merupakan pengetahuan yang keliru). Peristiwa tersebut menggegerkan warga Elar termasuk saya pribadi. Pengalaman perjumpaan dengan dua penderita gangguan jiwa inilah yang kemudian menjadi bahan utama penyusunan cerpen Nadus dan Sembilan Roh yang Merasukinya. Sebelum menulis naskah ini, cerita tersebut sudah saya ceritakan kepada beberapa orang teman. Merekalah yang kemudian mendukung dan memberi beberapa masukan dalam proses penulisan. Meskipun sudah lama melakukan riset terkait isu ODGJ, cerpen tersebut akhirnya saya tulis dengan terburu-buru karena kelalaian saya sendiri. Alhasil ada banyak hal yang menurut saya pribadi masih kurang, perlu perbaikan dan akhirnya tidak sempat disunting. Saya baru berhasil menyelesaikan naskah cerpen di hari terakhir deadline pengumpulan naskah.

KRISTIAN: Kesenangan mengamati dan pengalaman pernah bertetangga dengan ODGJ selama belasan tahun, juga pembacaan terhadap teks-teks Freud dan M. Foucoult yang akrab memberi kerangka dasar fiksi imaginatif yang kemudian dibangun sehingga menjadi cerpen Seru Serangga Dalam Diriku.

YANTI: Sebelum menulis cerpen yang awalnya belum ada judulnya ini, saya membuat daftar pertanyaan tentang hal apa saja yang harus saya tulis. Lalu muncul jawaban-jawaban seperti: pertama, menulis tentang anak yang mamanya memiliki kelainan jiwa yang kerap di-bully orang; kedua, menulis tentang anak-anaknya yang kehilangan perhatian, kasih sayang, dan kehadiran mamanya karena mamanya kerap bepergian dan jika di rumah pun mamanya tidak bisa mengurus anak-anaknya (kadang ia harus dipasung karena dinilai mengganggu ketenteraman orang lain); ketiga, menulis tentang mitos mengenai kelainan jiwa: (a) karena tidak pernah melakukan ritual adat di mata air maka ia mendapat kutukan dan mengidap kelainan jiwa, (b) karena melupakan salah seorang kerabat yang sudah lama meninggal sehingga ia mendapat kutukan dan mengidap kelainan jiwa; keempat, menulis tentang keluarga yang setelah pergi ke orang pintar dan melakukan penerawangan mulai melakukan ritual adat berupa membawa hewan ternak seperti babi ke kuburan, rumah adat, atau mata air untuk melakukan ritual adat supaya orang yang mengidap kelainan jiwa ini bisa sembuh; kelima, menulis tentang bahagianya anak-anak melihat mamanya sembuh dan bisa menjalani hidup seperti dulu walau tetap ada rasa khawatir penyakit mamanya bisa kumat kapan saja. Setelah mendapat jawaban-jawaban tersebut, saya mulai menulis cerpen yang paragraf pertamanya dimulai dengan jawaban yang kelima. Sebelum menulis Nian Ina Ema Bulakan, saya telah membaca banyak artikel tentang ODGJ, cerita pengalaman keluarga yang mendampingi ODGJ, dan juga cerita pengalaman ODGJ sendiri yang telah sembuh dari beberapa sumber terpercaya di internet, yang pada umumnya berada di luar NTT.

Ceritakan tentang mimpi atau cita-cita terkait dunia kepenulisan yang telah dijalani?

MARTO: Saya memiliki mimpi kecil terkait kegiatan menulis yang selama ini telah saya jalani, bahwa dengan menulis saya mampu mengabadikan peristiwa penting, unik dan berharga dalam kehidupan saya secara pribadi, juga dalam kehidupan masyarakat luas. Dalam hal ini masyarakat yang ada di NTT, bahwa dengan menulis saya mampu menyuarakan banyak hal.

KRISTIAN: Bisa terus menulis karya-karya sederhana yang layak untuk dibaca.

YANTI: Cita-cita sejak awal menulis adalah ingin membuat buku, baik itu novel, kumpulan cerpen, atau buku kumpulan puisi. Namun menulis puisi bukan hal yang mudah bagi saya, maka saya telah melupakan cita-cita untuk membuat buku kumpulan puisi. Saat ini saya masih berjuang agar suatu saat nanti bisa membuat buku kumpulan cerpen dan novel.

Harapan untuk dunia kepenulisan di NTT?

MARTO: Harapan saya bagi dunia kepenulisan di NTT adalah semakin banyak orang giat membaca dan menulis. Selain itu, semakin banyak penulis NTT yang menulis banyak hal tentang NTT, baik hal-hal positif, maupun menulis ketimpangan-ketimpangan sosial politik, ekonomi, dan lain-lain. Bahwasanya menulis membantu para penulis sendiri dan banyak orang di NTT menjadi lebih bebas hak-haknya, dan mampu mengekpresikan banyak hal.

KRISTIAN: Semoga dari tahun ke tahun lahir Dicky Senda, Mario F. Lawi, dan Felix Nesi yang lain dari Nusa Tenggara Timur.

YANTI: Semoga makin banyak bermunculan penulis-penulis muda dari NTT dan semakin banyak orang yang tertarik untuk menulis dan berkarya.

Bagaimana dengan harapan terhadap pengarusutamaan isu ODGJ dan penanganannya?

MARTO: Saya berharap Isu ODGJ akan menjadi percakapan yang luas. Adalah lebih baik jika semakin banyak orang mengakrabi isu tersebut sehingga setiap orang memperoleh tambahan pemahaman tentang ODGJ. Seperti yang telah saya ungkapan sebelumnya, pemahaman yang baik akan membantu para penderita ODGJ mendapatkan perhatian sehingga stigma yang sebelumnya berkembang dalam masyarakat tidak membuat ODGJ  dipandang sebelah mata lagi.

KRISTIAN: Semoga suara mengenai mereka bukan lagi bisikan dari pinggiran, melainkan teriakan lantang yang diamini semua elemen masyarakat.

YANTI: Semoga semakin banyak pihak yang peduli pada ODGJ dan tidak lagi melakukan diskriminasi terhadap ODGJ. Dan juga, semoga semakin banyak Klinik Jiwa yang dibangun untuk menangani pasien yang mengalami gangguan jiwa, sehingga keluarga ODGJ tidak lagi memasung pasien dan membuang banyak biaya untuk melakukan kesia-siaan seperti memakai dukun untuk menyembuhkan pasien. (*)


Baca juga: SIAPA YANG MENYURUHMU MASTURBASI?

Kirim tulisan ke: redaksi@bacapetra.co.

Bagikan artikel ini ke: