Menu
Menu

Laut Bercerita, Cerita yang Menyentuh dan Detail

Sebagaimana pembaca yang lain, Febhy dibuat terharu, termenung dan merefleksi tentang kondisi saat ini, zaman di mana ia hidup; “ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan zaman-zaman para pendahulu.”

Kisah yang disampaikan dengan detail, mengalir menggunakan alur maju-mundur membuat aktivitas membaca menjadi nikmat sekali. Bagi Febhy, Laut Bercerita merupakan novel sejarah yang bagus. Data-data riset yang digunakan Leila untuk kisah ini memberikan pengetahuan yang luar biasa, khususnya bagi generasi yang tidak pernah mengalami langsung peristiwa-peristiwa seperti di tahun 1998.

“Saya akhirnya menyimpulkan, usaha seseorang sudah pasti melibatkan usaha banyak orang. Seperti Biru Laut, saat memutuskan masuk ke dalam organisasi, mau tidak mau melibatkan usaha dari keluarganya, salah satunya usaha untuk merelakan kehilangan. Mungkin pelajaran sejarah di sekolah-sekolah, sebaiknya disajikan dalam bentuk seperti ini sehingga generasi-generasi seperti kami lebih paham sejarah melalui cara-cara yang menyenangkan,” tutup Febhy.

Hasil pembacaan menarik datang dari Romo Beben yang mendapat kesempatan berbicara setelah Febhy. Menurut Romo Beben, seperti menulis novel Pulang, sebagai seorang jurnalis yang kemudian menulis karya sastra, Leila sangat detail menuturkan berbagai peristiwa. Bagi Romo Beben, ini juga menjadi salah satu pilihan yang baik; bagaimana karya seni menjadi medium untuk menyimpan penderitaan. “Bagaimana karya seni menjadi salah satu tempat untuk menyimpan kisah-kisah memilukan yang juga menjadi ingatan kolektif sehingga kisah ini tidak hilang begitu saja. Sebab, ketika orang lain turut berpartisipasi dalam penderitaan kita (salah satunya pembaca), ada semacam kelegaan yang dirasakan,” jelas Romo Beben.

Romo Beben juga mengomentari Aksi Kamisan yang masih dilakukan hingga saat ini oleh para orang tua yang kehilangan anaknya di tahun 1998. “Saya melihat aksi ini sebagai suatu monumen. Sebagai suatu karya seni, meskipun tidak dalam bentuk benda melainkan aksi untuk mengingatkan orang lain tentang peristiwa yang pernah terjadi sebelumnya. Melalui aksi ini, secara tidak langsung kita juga berharap agar peristiwa yang sama tidak akan terjadi lagi di masa yang akan datang,” tutur Romo Beben.

Bagi Romo Beben, keseluruhan yang bisa ditangkap dari pengalaman Biru Laut adalah hal mendasar tentang pengalaman eksistensial—bagaimana menjalani ketidakpastian? “Tidak ada kepastian kecuali ketidakpastian itu sendiri. Pada akhirnya yang membuat hidup Biru Laut dan kawan-kawannya ini menjadi lebih pasti adalah kematian. Dan kematian mereka menjadi sesuatu yang lebih bermakna. Ketika kau mati, kau akan lahir berkali-kali, perjuanganmu menjadi tidak sia-sia,” tutup Romo Beben.

Setelah Romo Beben, ada Jeli Djehaut yang merasa banyak sekali ingatan yang dipanggil kembali setelah membaca novel ini. Setiap penggambaran latar, tempat, peristiwa, disampaikan dengan sangat detil, termasuk tentang Seyegan. “Ceritanya sangat menguras emosi. Satu hal yang ingin disampaikan dari keseluruhan kisah dalam novel ini adalah tentang MENOLAK LUPA,” ujar Jeli.

Kisah Biru Laut, mau tidak mau membuat Jeli membandingkan kiprah aktivis-aktivis dulu dengan aktivis zaman sekarang yang sudah sangat jauh berbeda. Di tahun 2000, saat pertama kali menginjakkan kaki di Jogja sebagai mahasiswa baru, lalu bergabung dengan beberapa organisasi yang saat itu masih terjaga baik semangat gerakannya, Jeli mengaku pernah terlibat dengan beberapa kegiatan di Seyegan. “Novel Laut Bercerita ini bagus dibaca oleh generasi-generasi zaman sekarang. Selain sebagai alternatif untuk mengenal sejarah dari sudut pandang yang berbeda, juga dapat menjadi pedoman bagi mereka yang memiliki minat menjadi seorang aktivis. Yah kurang lebih seharusnya seperti apa yang dilakukan oleh Biru Laut dan kawan-kawan,” tutup Jeli.

peserta laut bercerita bincang bincang

Lolik Apung yang mendapat giliran selanjutnya menyatakan, novel ini terkesan sentimental sekali. Hal ini bisa dilihat dari hasil pembacaan kawan-kawan sekalian yang menurutnya memperkaya diskusi malam itu. Banyak kali juga ia membaca karya-karya yang resisten terhadap orde baru. Terhadap sejarah kita yang sebenarnya, yang tidak persis disampaikan secara gamblang di dalam buku-buku sejarah resmi.

Simak di bagian berikutnya…

Bagikan artikel ini ke: