Menu
Menu

Kelakuan Orang Kaya yang Tak Taat Aturan

Febhy Irene, salah seorang anggota Klub Buku Petra yang hadir pada Bincang Buku malam itu menyatakan bahwa, Kelakuan Orang Kaya merupakan buku yang sangat menarik.

Dari buku ini, Febhy menilai, ketika seseorang menulis, ia tidak harus menaati aturan-aturan kepenulisan, tetapi bagaimana tulisan tersebut memberi kesan bagi pembaca dan awet dalam ingatan. Itulah kenapa juga penting bagi penulis untuk memiliki ciri khasnya sebagai penulis. Bagi Febhy, Puthut Ea memberikan kesan yang mendalam sejak halaman pertama.

Melalui kisah-kisah Puthut, kita jadi bisa menilai bahwa tidak semua orang adalah orang baik. Puthut, membuat kita merasa sangat manusiawi. Ada orang yang begitu tulus dan baik hati, tetapi terus saja mengalami hal buruk. Semua itu diceritakan dengan singkat, padat dan jelas. Tidak bertele-tele. Ada dua cerita yang menurut Febhy memberinya kesan mendalam: Kelakuan Orang Kaya dan Sujud Syukur. Dari cerpen Sujud Syukur, Febhy merasa (bersepakat dengan Puthut) mencari rejeki adalah selingan sebab inti dari kehidupan sesungguhnya adalah bersyukur.

Setelah Febhy, saya mendapat kesempatan untuk menyampaikan hasil pembacaan terhadap kumpulan cerpen Puthut Ea ini. Bagi saya, kisah-kisah di buku ini pendek-pendek, tetapi padat, lugas, sekaligus menyiratkan banyak pesan moral. Dari pesan yang sepele hingga pesan yang penting sekali, meskipun hampir semua cerita memiliki alur yang kurang lebih sama.

Ketika membaca buku ini, saya teringat salah satu materi yang pernah saya dapatkan pada salah satu lokakarya penulisan cerpen yang dibawakan Budi Darma. Budi Darma menjelaskan konsep cerpen pada zaman Balai Pustaka/Pujangga Baru: cerpen itu pendek, cukup dibaca selama beberapa menit sambal menunggu kereta api, menunggu bis, atau menunggu giliran diperiksa oleh dokter. Yang disampaikan Budi Darma saya temukan pada cerita-cerita Puthut Ea di buku Kelakuan Orang Kaya ini. Kisah-kisah ringkas yang hanya menghabiskan waktu membaca dua sampai tiga menit.

Dari kisah-kisah ringkas itu juga, saya menyimpulkan satu hal: dunia adalah tempat yang sangat mengerikan. Jika kau ingin terus menjadi tulus seperti merpati, tanpa pernah mencoba licik seperti ular, maka kau hanya akan terus mengalami kesulitan dan dikecewakan sepanjang saat oleh orang-orang dan lingkungan di sekitarmu. Di buku ini, Puthut mencoba mengisahkan fenomena masyarakat kita dengan apa adanya, tanpa dibebani teori menulis apa pun dengan alur cerita yang njlimet sebagaimana yang sering saya temukan pada cerita-cerita lain.

Giliran selanjutnya adalah Rio yang juga hadir pada bincang buku malam itu. Kumpulan kisah “Kelakuan Orang Kaya”, adalah buku cerpen pertama yang Rio baca. Sebelumnya, ia hanya pernah membaca kumpulan cerpen Sherlock Holmes.

Rio mengibaratkan ada dua situasi yang dibutuhkan ketika membaca buku ini. Pertama, ketika kita masih sangat muda dan membutuhkan petunjuk dalam usaha menemukan jati diri, buku ini sangat tepat untuk menjadi panduan kita. Kedua, ketika kita ada di usia mapan dan sibuk mengejar materi, membaca buku ini –khususnya pada bagian II—akan membantu kita merefleksikan hidup yang sudah kita jalani. Apakah kesibukan-kesibukan yang kita jalani, dan keputusan-keputusan yang kita ambil sudah tepat bagi kita? Secara singkat, buku ini harus dibaca sesuai dengan kebutuhan pembaca. Rio sendiri menganjurkan bagi mereka yang membaca untuk mendapatkan sensasi tertentu, sebaiknya tidak membaca buku ini dulu. Kisah-kisahnya yang sederhana, bisa jadi hanya akan sekadar lewat begitu saja tanpa kesan. Seperti iklan.

Jeli Jehaut mendapat kesempatan kelima untuk berbicara. Ia memulai komentarnya tentang buku ini dengan mengisahkan penulisnya yang adalah sesama Fans Fanatik AS Roma. Puthut dikenal sebagai fans sejati AS Roma sekaligus buzzer setia yang secara tak langsung meneguhkan para pecinta klub sepak bola ini ketika mengalami kekalahan dalam pertandingan. Jeli mulai membaca Puthut dari kisah-kisahnya tentang AS Roma tersebut di blog Puthut. Saat mengetahui bahwa kumpulan kisah Kelakuan Orang Kaya akan dibahas sebagai buku kesembilan di Klub Buku Petra tahun ini, ia tentu saja sangat bersemangat.

Bagi Jeli, sebagaimana tulisan-tulisan Puthut tentang klub bola kesayangannya, kisah-kisah di dalam kumpulan cerpen ini menyiratkan hal yang sama, kaya dan miskin tidak selalu tentang harta. Ada banyak hal yang membuat kita tergolong miskin atau kaya, salah satunya kreativitas. “Kekuatan Tulisan” menjadi kisah paling berkesan bagi Jeli dari kumpulan kisah ringkas ini. Menurut Jeli, orang kaya adalah sang perempuan –yang mengubah tulisan yang dipegang si pengemis buta– dan orang-orang yang memberikan uangnya bagi pengemis buta tersebut. Kreativitas sang perempuan untuk mengubah tulisan yang dipegang si pengemis buta –dari “saya buta, silakan menyumbang” menjadi “Juve Merda” — adalah salah satu bentuk kekayaan lain yang tidak dimiliki oleh semua orang. Jeli mengakhiri komentarnya dengan mengatakan, beberapa cerita di buku ini apabila dibuat lebih panjang lagi seharusnya akan menjadi lebih menarik.

Peserta terakhir yang menyampaikan hasil pembacaannya adalah dr. Ronald Susilo. Dokter Ronald sepakat dengan apa yang disampaikan Rio sebelumnya bahwa buku ini memang harus dibaca sesuai dengan kondisi pembaca, sebab setiap kisah akan membuat masing-masing orang menangkap maksud penulis dengan sudut pandang yang berbeda-beda.

Ketika membaca kumpulan cerpen Puthut Ea ini, dr. Ronald justru tidak fokus terhadap isinya, melainkan pada teknik penulis menyampaikan cerita-cerita yang sangat ringkas dan bernas tersebut. “Barangkali tiap-tiap kita juga pernah mengalami hal yang sama akan tetapi mengalami kesulitan ketika mencoba menuangkannya dalam bentuk tulisan seperti ini. Puthut mengajarkan kita bahwa persoalan-persoalan di sekitar kita, bisa ditulis dengan sederhana,” tutur dr. Ronald.

Cerita-cerita di dalam buku ini kemudian mengingatkannya pada penulis idolanya, Putu Wijaya. Bagaimana dengan media yang sempit, penulis dapat mengisahkan sesuatu dengan lugas dan memberikan hentakan di akhir cerita. Setiap kisah di dalam buku ini memiliki klimaksnya masing-masing, meskipun hanya menghabiskan 250 – 750 kata.

Peserta Bincang Buku Kelakuan Orang Kaya

| Peserta Bincang Buku “Kelakuan Orang Kaya”

***

Tujuh orang yang hadir malam itu kemudian memberi Bintang 3,5 pada “Kelakuan Orang Kaya”. Bincang Buku selanjutnya akan berlangsung pada tanggal 30 Oktober 2019, membahas salah satu novel karya Intan Paramaditha: “Gentayangan, Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu”.

Sampai jumpa!


Baca tulisan Maria Pankratia lainnya di tautan ini. Jangan lupa, ikuti terus rekaman Bincang Buku Petra.

Bagikan artikel ini ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *