Menu
Menu

Bag. 3

Döblin sepenuhnya sadar bahwa pengamatan sastra dan penilaian kritis, betapa pun diekspresikan dengan jelas dan dilakukan secara imajinatif, tak akan pernah menjanjikan wahyu, dan bukunya yang paling terkenal, Berlin Alexanderplatz, tak pernah berusaha berdebat, hanya meyakinkan dengan menunjukkan. Berlin Alexanderplatz adalah mahakarya yang besar dan kompleks, yang, seperti Ulysses James Joyce, yang diterbitkan tujuh tahun sebelumnya, melacak arus permukaan dan arus terpendam sebuah kota dengan mengikuti kasus pembunuhan Franz Biberkopf setelah pembebasannya dari penjara. Biberkopf adalah Ayub yang jauh-tidak-bersalah (yang kitabnya dikutip banyak kali dalam novel), subjek godaan dan kemalangan, samar-samar tertarik pada propaganda Nazi, dan tidak terikat pada siapa pun atau apa pun. “Saya tidak menyulapnya untuk bersenang-senang,” tulis Döblin, “tetapi untuk membagi eksistensinya yang keras, sejati dan mencerahkan.” Dari eksistensi tunggal tersebut, mungkin untuk membangun identitas jamak yang muncul dari deret ukur orang lain yang dipantulkan. “Seseorang lebih kuat dariku,” kata Biberkopf. “Jika ada dua dari kita, jadi kian sulit untuk jadi lebih kuat dariku. Jika ada sepuluh, tetap lebih sulit. Dan jika ada seribu, sejuta, maka akan jadi sangat, sangat sulit!”

Pada 1945, Döblin kembali sebagai pegawai pendidikan yang ditugaskan ke Jerman dari pengasingannya di Amerika, dan beberapa tahun setelahnya memberi serangkaian ceramah di mana ia berusaha menghadapi orang-orang sebangsanya yang kalah dengan citra identitas mereka yang porak-poranda. Bagi Döblin, satu-satunya cara agar Jerman dapat pulih setelah Hitler adalah dengan menemukan identitas kolektif yang melipatgandakan kebebasan pribadi dengan “objektivitas kejam”. Berbicara di Berlin pada 1948, Döblin mengatakan kepada para pendengar Jermannya: “Anda harus duduk di dalam reruntuhan untuk waktu yang lama dan membiarkannya memengaruhimu, dan merasakan sakit dan penghakiman.” Melaporkan ceramah Döblin, para jurnalis mengeluh bahwa mereka sudah terlalu sering mendengarkan argumentasi seperti itu, dan bahwa “itu tidak membantu sedikit pun meski dikatakan oleh penulis terkenal dan tamu yang jarang berkunjung.” Döblin menjawab: “Anda belum mendengarnya. Dan jikapun Anda mendengarnya dengan telinga, Anda tidak memahaminya, dan Anda tidak akan pernah paham karena Anda tak mau.” Seperti Döblin tahu, dalam sebagian besar kasus peran pencipta adalah milik Kassandra, pendeta wanita Yunani yang kepadanya Apollon memberikan karunia nubuat dengan syarat bahwa tak ada yang akan memercayainya. Kebanyakan pencipta menderita kutukan Kassandra: para pembaca tak mau mendengarkan.

Menurut sumber Homerik, Kassandra adalah putri Priamos dan Hekabe. Pengarang-pengarang setelahnya (termasuk Pindaros dan Aiskhylos) mengisahkan kepada kita bahwa ketika Kassandra dan saudaranya Helenos masih bayi, Hekabe melupakan mereka di kuil Apollon. Ketika mereka tertidur, ular-ular keramat Apollon datang dan menjilat telinga mereka: sejak saat itu, mereka mendapat karunia ramalan. Sumber lain mengatakan bahwa Apollon sendirilah yang memberi Kassandra karunia tersebut sebagai imbalan janji bersetubuh dengan Apollon. Kassandra menerimanya, tetapi setelah mereka berhubungan, Apollon minta satu ciuman tambahan; ketika ia memalingkan wajahnya pada Apollon, Apollon meludahi mulutnya, kejadian itu memastikan tidak akan ada yang percaya padanya. Selama pengepungan Troia, Kassandra memperingatkan orang-orang Troia tentang Kuda Kayu dan orang-orang Yunani dan bernubuat tentang kejatuhan kota. Kemudian, ia menjadi bagian dari rampasan Agamemnon dan melahirkan dua putra untuknya. Setelah Agamemnon dibunuh oleh Aighisthos, kekasih istrinya, Klytaimnestra, Kassandra dan putra kembarnya dibunuh oleh Klytaimnestra sendiri.

Karena Kassandra dan saudaranya dilupakan oleh ibu mereka, mitos menyatakan, mereka tidak sama seperti sisa anak-anak Hekabe yang lain. Dalam bahasa mitos, sebagai konsekuensi atas pembedaan sembrono ini, individualitas Kassandra disodorkan padanya ketika masih kecil. Ia harus belajar menghidupi dirinya sendiri dan tidak bergantung pada ajaran kakak-kakaknya. Karunia dewata yang ia terima, baik dan buruk, adalah miliknya, bukan hal-hal yang dikehendaki orang tuanya. Sendirian, ia harus mendefinisikan dirinya dan keterikatannya, sendirian ia mesti memahami orang-orang di dalam dan di balik tembok-tembok kotanya, sendirian ia mesti membayangkan “rumah” apa yang dibangun dan kisah-kisah apa yang akan terjadi di “rumah” ini—semuanya tidak berdasarkan pada apa yang dikatakan sebagai miliknya, melainkan pada apa yang ia pilih untuk diidentifikasi sebagai miliknya. Kassandra tidak berbicara berdasarkan pengetahuan yang diterima, melainkan berdasarkan imajinasi unik tentang realitas yang kemudian ia terjemahkan menjadi narasi. Anugerah Apollon membenarkan singularitas ini: bekerja dari kata-kata awam, Kassandra harus membayangkan pandangannya sendiri tentang dunia, yang tak ingin dilihat oleh kawan-kawan Troianya. Kassandra tahu, tanggung jawabnya bukan untuk meyakinkan, tetapi semata untuk menyampaikan. “Kebisuanku tak dapat menjaganya tetap hidup,” isaknya dalam Oresteia karya Aiskhylos, ketika Khoros menyalahkannya karena mengumumkan pembunuhan Agamemnon. “Bahasa Yunaniku jelas tetapi tetap tak ada orang yang percaya.” Yang dijawab Khoros: “Semua peramal bicara bahasa Yunani dan semuanya gelap.” Penyair, peramal, hanya dapat bekerja dengan sebuah bahasa bersama, tetapi ditempa dengan tajam sehingga, pada kondisi terbaiknya, tampak di hadapan para pembaca sebagai “gelap”, karena bahasa tersebut menolak penjelasan ringkas apa pun. Inilah kekayaan dan kesulitan besar sastra: ia bukan dogma. Sastra menyatakan fakta, tetapi tidak memberikan jawaban-jawaban pasti, tidak menyatakan dalil-dalil mutlak, tidak menuntut asumsi-asumsi yang tak dapat dibantah, tidak menawarkan identitas-identitas berlabel. Kata-kata Kassandra, kedalaman pandangannya, kejernihan pikirannya (karena benar secara puitis dan tak dapat disampaikan sebagai slogan-slogan sederhana) adalah apa yang melabelinya sebagai seorang pencipta, dan menghukumnya dan anak-anaknya dengan pembinasaan.

Seperti yang dialami Döblin sendiri, penyingkiran Platon terhadap semua Kassandra, terhadap semua penyair dari Republik, adalah ukuran yang sejak saat itu digunakan kembali oleh pemerintah yang tak terhitung banyaknya: diwujudkan dalam Jermannya Hitler melalui pembakaran simbolis buku-buku yang merusak pada 10 Mei 1933, termasuk buku-buku Döblin. Sebagai masyarakat, kita tahu fungsi utama para pencipta adalah untuk menerangi, terus-menerus membujuk kita, para pembaca, untuk mendefinisikan apa-apa yang kita percaya, memperluas definisi kita, dan mempertanyakan jawaban-jawaban kita, tetapi pada saat yang sama, karena takut akan gangguan dan ketidakpastian, kita berusaha merendahkan peran pencipta seperti yang dilakukan para pembual, menyamakan fiksi dengan kebohongan dan mempertentangkan seni dengan realitas politik: meludah, seperti sebelumnya, ke dalam mulut Kassandra.

Diejek, digambarkan sebagai tidak normal, diasingkan sampai mati: itulah nasib bagi masyarakat yang menghukum para pencipta sejatinya. Bahkan mereka yang dipuja, diabadikan, dan diberikan hadiah dan penghormatan, dalam banyak kasus, ditakdirkan untuk tetap tak didengarkan. Sebelum mati, Kassandra berkata kepada Khoros, kali ini menawarkan bukan ramalan tentang tragedi mereka, melainkan gambaran yang luar biasa, yang mencakup keberadaannya, yang jika diperluas, adalah juga keberadaan kita:

Inilah kehidupan
Jam-jam paling beruntung
Seperti coretan kapur
Di batu tulis di ruang kelas.
Kita tatap
Dan coba pahami.
Lalu keberuntungan berbalik—
Dan segalanya dihapus.

Mungkin tugas setiap penyair-pencipta sejati adalah untuk terus-menerus menulis di batu tulis setelah “segalanya dihapus”. Keabadian yang dituntut oleh pencipta garis apa pun yang karena alasan tak terduga menggerakkan kita, menunjukkan bahwa, di luar kehendak pembaca kita dan dalam batasan masyarakat, sastra dapat membangun realitas yang lebih tahan lama daripada daging dan batu, seperti ratapan Kassandra karena kehilangan kehidupan, atau fresko Döblin yang bermasalah tentang masyarakat di tahun-tahun sebelum das Dritte Reich.

Melarat, diasingkan, kehilangan buku-buku dan teman-temannya, Döblin menyimpulkan dalam catatannya, misinya sebagai pencipta, sebagai seseorang yang mencoba merefleksikan kembali kepada pembaca “makna asli” dari berbagai hal melalui kata-kata. Sadar bahwa, seperti Kassandra, cerita-ceritanya tidak melakukan apa pun untuk mencegah bencana sejarah, Döblin menemukan bahwa tugasnya tidak sia-sia, hanya tidak lengkap:

Ketika saya duduk di sini sekarang, saya menemukan bahwa malapetaka tidak merenggut saya, melainkan mengungkapkan diri saya. Saya diuntungkan kemiskinan. Salah satu hasil akhir dari ‘makna asli’: keadilan adalah miliknya. Bukan hanya dunia alami yang dibangun dengan sengaja, tetapi juga peristiwa, sejarah. Kedalaman sejarah yang sejati tak dapat kita akses. Dan jika saat ini tak ada tanda keadilan—dan keadilan adalah satu-satunya hal yang saya miliki sebagai akibat bencana dan penyingkapan kemiskinan saya—maka saya harus menyadari bahwa ini bukan satu-satunya dunia.

Selanjutnya, Döblin mengatakan bahwa kurangnya keadilan di dunia membuktikan keberadaan realitas lain. Ia, meski berubah, tidak sedang berbicara tentang hidup setelah mati yang teologis atau keangkuhan-keangkuhan metafisis. Ia tidak sedang mengacu pada keadaan tak terlukiskan yang berada di luar batas inderawi kita. Ia sedang berbicara tentang keterampilan, pembuatan cerita, yang darinya, ia berkata, “perlambang dan kebetulan dan tanda-tanda mengalir ke dunia yang tampak.” Döblin menyebut gerakan ini “semacam ‘pelunakan’ realitas” yang menjadi “transparan” dalam penceritaan. Label apa pun, segala realitas, tetap maupun dipaksakan, yang berupaya menyegel realitas dalam kafan dogma, dapat dilarutkan lewat penerapan kata-kata inspiratif.

“Transparansi” yang Döblin bicarakan adalah gagasan yang aneh. Bahasa, justru karena ambiguitasnya yang tak menentu, berusaha meyakinkan kita, para penggunanya, tentang akurasi dan bobotnya dengan menyatakan sendiri sebuah penegasan absolut, sistem pembekuan dunia menjadi keadaan yang tetap. Inilah hukum Baker, dalam karya Lewis Carroll berjudul The Hunting of the Snark: “Apa yang tiga kali saya katakan kepadamu adalah benar.” Tentu saja, terlepas dari asumsi populer ini, setiap penggunaan bahasa membuktikan sebaliknya: bahwa bahasa menangkap kenyataan bukan dengan mengubahnya menjadi batu melainkan dengan merekonstruksinya secara imajinatif, melalui alusi, inferensi, sugesti, melalui “perlambang dan kebetulan dan tanda-tanda” Döblin, sebagai sesuatu yang bergerak secara permanen, yang pada akhirnya tak terpahami: sesuatu yang “transparan”. Karena itulah, bahasa tak dapat melayani perintah kekuasaan, politik, agama atau komersial, kecuali sebagai katekismus pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban pasti karena, di samping pretensinya terhadap presisi, bahasa tak pernah bisa menyetujui apa pun yang tanpa batas. Kita “melihat melalui” realitas yang disampaikan bahasa, lapis demi lapis, seperti dalam pembersihan palimpsest, sehingga pembacaan cerita kita menjadi tak berkesudahan, setiap cerita merujuk ke atau menyarankan tempat-tempat yang lain di baliknya, tak pernah membiarkan dirinya berdiri sendiri sebagai kebenaran tertinggi. Dalam keterampilan: “Berdasarkan peraturan permainan, saya harus selalu berbohong. Sekarang: apakah engkau memercayai saya?”

Inilah paradoksnya. Di satu sisi, bahasa politik, yang dimaksudkan untuk membahasakan kategori nyata, justru membekukan identitas menjadi definisi statis, memisahkan tetapi gagal mengindividualisasi. Bahasa puisi dan cerita, di sisi lain, yang mengakui ketidakmungkinan penamaan secara akurat dan definitif, mengelompokkan kita di bawah kemanusiaan bersama dan cair sambil memberikan kita, pada saat yang sama, identitas yang menyatakan diri. Dalam kasus pertama, label diberikan kepada kita dengan paspor dan gambar konvensional tentang siapakah kita yang harus berdiri di bawah bendera tertentu dan dalam batas tertentu, serta pandangan tertutup yang pada gilirannya kita arahkan ke orang-orang yang tampak berbagi bahasa, agama, bidang tanah tertentu, menyematkan kita semua pada peta berwarna yang dilintasi garis bujur dan lintang imajiner yang kita bawa ke dunia nyata. Dalam kasus kedua, tak ada label, tak ada batas, tak ada tepi.

“Dalam sejarah, pada titik ini,” tulis Döblin pada 1948, “orang-orang berkewajiban untuk mengatur diri mereka menjadi bangsa-bangsa, dan bergabung dengan bangsa-bangsa lain seperti mereka. Namun pada saat kebutuhan ini diwujudkan, dan garis demarkasi antara sebuah bangsa ketiga ditarik, kebutuhan ini dicampur dengan kecenderungan untuk mengukur diri sendiri dengan bangsa ketiga dan keempat dan mendominasi mereka—meski ada yang tahu, atau harusnya tahu, betapa sedikit kita yang jadi tuan atas nasib kita sendiri. Dan sekali lagi di lautan sejarah ombak menerjang, tetapi hanya menabrak daratan untuk dikembalikan, bergelombang, ke laut.”

Döblin tinggal di Paris pada 1951, kecewa dengan teman-temannya. Enam tahun kemudian, ia kembali ke Jerman hanya untuk wafat di panti jompo di Baden-Württemberg, tetapi sesuatu dalam tulisannya menunjukkan bahwa ia mungkin tidak merasa sepenuhnya dikalahkan. Di suatu tempat dalam halaman-halaman Berlin Alexanderplatz yang beragam, Franz Biberkopf mengadakan pertemuan santai dengan seorang Yahudi Timur yang secara misterius tampak memahami pencarian Biberkopf akan identitas yang lebih dalam dan sehat, dan yang menyarankan kepadanya bahwa penyembuhan mungkin dicapai, setidaknya sebagian, melalui cerita. “Bagian terpenting bagi seorang pria adalah  kaki dan matanya,” jelas si Yahudi pengelana. “Kau harus dapat melihat dunia dan pergi ke sana.” Cerita, menurut Döblin, menggemakan klaim menyedihkan Ayub ketika hari-hari lebih baik, membantu orang lumpuh berjalan dan orang buta melihat.

Bagi imajinasi birokrasi yang membatasi, hingga penggunaan bahasa yang terbatas dalam politik, cerita dapat menantang dengan cermin-semesta kata-kata yang terbuka dan tak terbatas untuk membantu kita memahami citra diri kita bersama. Dalam ranah ideal, kota membutuhkan: pencipta yang tidak hanya membangun sesuai pesanan dan, meski bacaan dapat dikooptasi dan puisi bisa jadi propaganda, cerita yang terus menawarkan pembacanya kota-kota imajiner lain yang cita-citanya cenderung bertentangan atau melanggar cita-cita Republik resmi. Kepedulian Platon sepertinya bukan karena Kassandra dikutuk, tetapi karena kutukan itu mungkin tidak efektif dan, meski dengan kelicikan Apollon, para pembaca masih percaya kata-katanya. Mungkin, seperti Döblin tahu, iman yang waspada ini masih ada di jantung keterampilan setiap pencipta.

***

Tentang Alberto Manguel

Ia adalah seorang antolog, penerjemah, esais, novelis, editor, dan direktur Perpustakaan Nasional Argentina. Ia lahir di Buenos Aires, 13 Maret 1948. Karya monumentalnya adalah The History of Reading dan The Dictionary of Imaginary Places (ditulis bersama Gianni Guadalupi). Esai ini diterjemahkan Mario F. Lawi dari esainya yang berjudul “The Voice of Cassandra” dalam buku The City of Words (Toronto, House of Anansi Press, 2007: 5-27).


Gambar diambil dari artikel “Alberto Manguel and The Library of Babel” di tablemag.com.

Tulisan Mario F. Lawi juga dapat dibaca di rubrik PUISI TERJEMAHAN dan CERPEN TERJEMAHAN.

Bagikan artikel ini ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *