Menu
Menu

Bag. 2

Para pencipta membentuk sesuatu menjadi ada, memberinya identitas intrinsik. Hening di sudut tempat kerja mereka, terhanyut dengan arus manusia lainnya, para pencipta merefleksikan kembali dunia dalam keruntuhan dan perubahan yang tetap, dan dalam diri mereka terpantul bentuk masyarakat kita yang tidak stabil, menjadi apa yang disebut penyair Nikaragua Rubén Darío “penangkal petir surgawi” dengan bertanya terus-menerus “Siapakah kita?” dan dengan menawarkan hantu jawaban dalam rumusan pertanyaan itu sendiri. Hal ini menjadikan pencipta sosok yang mengganggu dalam masyarakat yang mencari, dengan segala cara, stabilitas dan efisiensi untuk mencapai keuntungan ekonomi setinggi mungkin. Jorge Luis Borges, dalam utopia Swiftian yang ia bayangkan di akhir hidupnya, pada 1970, ketika ia tua dan kecewa dengan dunia, menggambarkan peran para pencipta dalam rumusan berikut:

“Kostum lain suku adalah para penyair. Seorang pria memutuskan untuk membariskan enam atau tujuh kata-kata teka-teki. Ia tak dapat menahan diri dan meneriakkan kata-kata tersebut, berdiri di tengah-tengah lingkaran yang dibentuk oleh para dukun dan orang-orang biasa ketika mereka telentang di tanah. Jika puisi tersebut tidak memuaskan mereka, tak ada yang terjadi; tetapi jika kata-kata si penyair menggerakkan mereka, mereka semua akan menjauh darinya, diam-diam, dengan ketakutan sakral. Mereka merasa bahwa ia telah disentuh oleh roh; tak ada yang akan berbicara dengannya atau menatapnya, bahkan ibunya sendiri. Ia bukan lagi manusia, melainkan dewa, dan siapa pun dapat membunuhnya.”

Döblin merasakan betapa kuat perasaan “dihukum” oleh sastra ke kondisi terendah. Dalam Petualangan Takdir, laporan perjalanan dan pengasingannya dari Jerman Hitler, Döblin menulis pengalaman keterasingannya:

Saya merasa jadi seperti tanaman yang tumbuh di tanah, mengambil sari-sari makanan di sana-sini dan tetap seperti saya apa adanya. Saya tidak pernah serius mengecek apa yang mendorong saya untuk menginginkan sesuatu. Saya didorong, dan berasumsi sembarangan bahwa sayalah yang menjadi kekuatan pendorongnya. Saya tak pernah peduli dengan klaim jadi apa diri saya, atau apa yang diinginkan atau tak diinginkan. Secara sadar, Sokrates mengajarkan: Kenalilah dirimu! Tetapi bagaimana saya dapat mengenali diri saya jika saya serentak adalah yang mengetahui dan yang ada untuk diketahui? Saya selalu memperhatikan diri, mengobservasi dan menilai hal-hal secara kritis dan mengumpulkan pengalaman, dan ketika saya sekarat saya akan melindungi diri saya dari perasaan yang saya anggap lemah. Saya aktif, bergerak di antara orang-orang selama bertahun-tahun, saya adalah orang seperti mereka, makhluk kecil, seekor mikroba yang bergerak di air bersama jutaan lainnya.

Kita harus mengajukan kualifikasi atau protes untuk karya yang menawarkan membangun realitas dari kata-kata. Hal ini menyangkut dua metode atau teori berbeda dalam mendefinisikan masyarakat dan identitasnya, dan sebagai konsekuensinya, masing-masing warganya. Sebuah teori mengasumsikan bahwa bahasa kreatif dan realitas ciptaan, kenyataannya, adalah entitas epistemologis yang terpisah, dan bahwa, jika yang pertama (puisi atau cerita) menguraikan sistem pengetahuan melalui intuisi dan analogi imajinatif, yang kedua (politik dan berbagai cabangnya, termasuk ekonomi dan hukum) melakukannya secara empiris, dan karena itu memiliki nilai praktis dan material yang lebih besar. Teori kedua menyatakan bahwa kedua entitas (sastra dan politik) saling terkait, dan penemuan cerita dan pembangunan negara bergantung satu sama lain secara menguntungkan. Döblin sepenuhnya menyadari persoalan yang sangat kuno ini.

Aristoteles, dalam buku kedua Politik, mendiskusikan tentang enam jenis sistem politik yang ia bayangkan untuk enam kasta warga berbeda, mengingatkan bahwa sistem-sistem ini memerlukan seperangkat nilai simbolik untuk berkembang; artinya, perancah simbolik yang digunakan untuk membangun kota yang akan menampung mereka. Orang pertama yang menyadari hal ini, kata Aristoteles, adalah sang arsitek Hippodamos dari Miletos, sezaman dengan Perikles yang, meski tak tahu apa-apa soal politik, dapat menggambarkan peta sebuah negara-kota yang ideal. Kota Hippodamos merefleksikan cita-cita demografik Yunani: jumlah penduduk terbatas yang dibagi berdasarkan peran yang mereka miliki dalam masyarakat. Patriarkis, karena wanita tak punya kekuatan memimpin; demokratis, dalam pengertian bahwa perkara-perkara negara diperdebatkan di depan publik; militer tetapi tidak ekspansionis, karena negara ideal menurut definisinya adalah ruang terbatas, dirancang untuk kebahagiaan bukan untuk semua orang, melainkan untuk warga terpilih yang ditakdirkan lahir di atas tanah tersebut, dan karena itu dibenarkan memperbudak orang lain bekerja bagi mereka. Untuk melayani gagasan metropolitan ini, kota dibagi menjadi beberapa bagian berbeda—para pedagang, para hakim, dan lain-lain—dikelompokkan di sekitar agora pusat. Setiap bagian pada gilirannya disusun dalam blok-blok rumah yang masih jadi model kota-kota kita saat ini. Menghadapi pola seperti ini, orang luar dapat menduga tujuan kota: pendirian entitas sosial yang terbatas pada dirinya sendiri, segregasionis dan konservatif, diperuntukkan untuk sedikit yang bahagia. Gagasan awal kita tentang kebangsaan adalah gagasan tentang privilese.

Kota yang paling terkenal dari antara kota-kota kuno ideal, Atlantis, menunjukkan konsep yang sama. Menurut Platon, kota Atlantis terletak di tengah dataran tinggi, dikelilingi oleh cincin-cincin konsentris dari tanah yang satu sama lainnya dipisahkan oleh kanal-kanal yang dalam. Inti utama cincin pertama dilindungi oleh dinding yang lebar, dan berisi kursi-kursi kekuasaan: benteng, Istana Kerajaan, dan Kuil Poseidon; dengan kata lain, kursi-kursi tentara, pemerintah, dan agama. Cincin pertama dipisahkan dari yang kedua oleh sebuah kanal yang berfungsi sebagai pelabuhan interior, yang memungkinkan akses ke bagian militer: cincin kedua, dengan barak, gimnasium, dan lintasan balap, melengkapi yang pertama. Kanal lain memisahkan bagian kedua dari yang ketiga, yang dijatahkan untuk pelabuhan utama Atlantis. Akhirnya, satu kanal terakhir membagi pelabuhan dari cincin keempat atau terluar, yang menampung wilayah pedagang. Kota Platon adalah cermin fisik dari tatanan sosial, dan baginya, seperti bagi Hippodamos, tempat utopis harus sesuai persis dengan gagasan utopis. Dengan kata lain, kota mesti merupakan refleksi dari cerita tentangnya.

Namun, bagi Platon, sementara konstruksi simbolis atau sastra harus berfungsi sebagai cetak biru kota, imajinasi sastra apa pun yang tidak mengarah pada realisasi nyata negara yang dijalankan secara sempurna tidak memiliki tempat dalam definisinya tentang masyarakat. Karena itulah, para penyair, pencipta yang membangun bukan “hal nyata” tetapi khayalan pengganti apa yang nyata, harus dibuang. Platon meminjamkan kata-kata kepada Sokrates untuk menjelaskan hal ini. Akal budi, kata Sokrates, menahan filsuf untuk menyingkirkan puisi dari negara ideal. “Kita mesti mengetahui kebenaran,” ia akui dengan agak enggan, karena ia menyukai puisi Homeros, yang juga harus diasingkan dari Republik yang diperintah dengan baik, “bahwa kita tak dapat menerima puisi di kota kita, simpanlah himne untuk para dewa dan puji-pujian orang-orang baik. Karena jika kau mengizinkan Musa yang manis dalam lirik dan epik, kesenangan dan rasa sakit akan menjadi penguasa kotamu alih-alih hukum dan hal yang, dari waktu ke waktu, dianggap terbaik demi alasan umum.” Hukum dan peraturan, demi efisiensi, menguasai kota Platon, dan puisi (sastra pada umumnya) tidak memiliki tempat di dalamnya kecuali “dapat ditunjukkan bahwa ia memberikan tidak hanya kesenangan tetapi juga manfaat.” Platon (Sokrates-nya Platon) tampaknya berpikir bahwa realitas yang diciptakan oleh kata-kata berbahaya karena bukan realitas yang diinginkan, dan merupakan kreasi imajinasi, karena menggambarkan gambaran yang sebagian besar tidak menyenangkan tentang kita dan para dewa, tidak boleh dibiarkan di dalam negara-kota yang semua ceritanya harus memperingatkan atau meninggikan. Sebagian besar waktu, penyair mengidentifikasi diri dengan dosa dan salah manusia, dan mengabaikan kualitas-kualitas lebih tinggi yang harusnya tampak membosankan untuk dibandingkan bagi pendengar mereka. Dan bahkan ketika puisi mereka menggambarkan kebaikan dan kebajikan, penyair hanya meniru kualitas-kualitas tersebut tanpa benar-benar mencapainya. Kebanyakan pembaca, Platon mengingatkan, tinggal di permukaan teks, senang dengan kemarahan Akhilles atau kecerdikan Odysseus, menikmati rasa sakit Hekabe dan pengorbanan Iphigeneia, tanpa berusaha menjangkau pencerahan yang mungkin melalui penggambaran-penggambaran tersebut. Tentang ingatan yang mewakili dan pengetahuan implisit dalam cerita, Platon (menyebut mereka sebagai tak diinginkan) menambahkan kebahagiaan dan penderitaan yang mewakili, kebaikan dan kejahatan. Menurut Platon, identitas yang diberikan oleh cerita sama labil dan sewenang-wenangnya seperti topeng yang dipakai.

Platon benar, tetapi tidak sepenuhnya. Para pendengarnya, dan ratusan generasi pembaca yang menggantikannya, pada umumnya telah mencari beberapa bentuk dalam sastra, jika bukan hiburan menenangkan, setidaknya pengalaman dunia dari tangan kedua, pelajaran tanpa tindakan dan kepuasan tanpa pencapaian. Lebih dekat dengan zaman kita, Carl Gustav Jung, dalam pembacaannya yang tajam tentang Kitab Ayub, bersikeras bahwa pemenuhan dan pembelajaran yang lebih dalam dimungkinkan melalui cerita. Menurut Jung, dalam kisah Alkitab, Tuhan menanggung risiko dengan membiarkan Ayub menjadi korban Iblis, aktor pasif penderitaan dunia. Ayub sendiri sebaliknya menghadirkan kedua sisi pertanyaan, sebagai saksi dan sebagai penerima kemurahan dan ketidakadilan Tuhan. Hanya ketika Tuhan, sebagai “pembaca” kata-kata yang Ayub harapkan “sekarang telah ditulis”, dihadapkan dengan resitasi Ayub, cerita membentuk lingkaran penuh: Allah Pencipta belajar melalui pengalaman salah satu ciptaan-Nya, melalui seorang lelaki yang cukup baik untuk menjadi “mata bagi si buta, dan kaki bagi si lumpuh.” Inilah juga pembacaan Döblin atas Kitab Ayub: bahwa, seperti Tuhan milik Ayub, setiap pembaca memiliki kemungkinan yang mencerahkan ini pada akhirnya. Tidak setiap pembaca, tentu saja, beruntung: kebanyakan pembaca memilih untuk tetap aman di sisi halaman ini. Tetapi kadang epifani terjadi. “Saya membaca,” tulis Döblin, “seperti nyala membaca kayu.” Bacaan yang sangat menyita, yang mengubah realitas adalah milik Rabi Uri dari Strelisk, yang akan membangun pengajarannya sendiri tentang kata-kata Raja Daud; milik Tulsi Das, yang akan diselamatkan makhluk-makhluk karangannya; milik teman Milena, yang akan menemukan makna selamat di dalam imajinasi Gorki; milik para pembaca Alfred Döblin, yang akan menemukan identitas mereka yang selalu berganti di dalam cermin-cerminnya.

Bagikan artikel ini ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *