Menu
Menu

Linda Loman, Citra Istri dan Perempuan

Karakter perempuan tidak terlalu menonjol dalam naskah Death of a Salesman. Dalam percakapan antara Biff dan Happy, beberapa gambaran tentang perempuan terungkap secara cukup negatif. Happy yang adalah seorang playboy menilai perempuan dari kenikmatan belaka. Ia suka main perempuan, dan mengidentifikasi perempuan dari kemungkinan apakah perempuan itu dapat disewa untuk tidur atau tidak. Biff, meskipun tidak menampilkan karakter seorang playboy, tetap saja menganggap perempuan tidak penting dalam hidupnya.

Beberapa sosok perempuan yang muncul dalam naskah ini, seperti Jenny sang sekretaris, Miss Francis, Miss Forsythe, Letta dan personifikasi perempuan lainnya kerap ditempatkan sebatas sebagai objek seks belaka. Sosok-sosok perempuan ditampilkan dalam asumsi tokoh laki-laki terhadap mereka, yaitu sebagai wanita panggilan, mucikari, model sampul majalah hingga pelacur yang bisa diajak tidur.

Hal ini misalnya tampak dalam dalam cara Happy menilai Forsythe, dan menawarkan perempuan itu untuk dipakai oleh Biff:

HAPPY: Isn’t that a shame now? A beautiful girl like that? That’s why I can’t get married. There’s not a good woman in a thousand. New York is loaded with them, kid!

BIFF: Hap, look…

HAPPY: I told you she was on call!

Dalam lanskap konsepsi tentang perempuan yang serba termarjinalisasi itu, Linda sebenarnya hadir sebagai satu-satunya sosok dalam keluarga Loman yang sadar akan realitas. Linda adalah yang paling rasional dalam keluarga yang sedang terlibat intrik. Ia tahu betul kondisi Willy. Ia tahu bahwa Willy hidup dalam ilusi antara masa lalu dan masa kini, harapan dan kenyataan. Ia yang paling tahu soal keadaan dan situasi rumah, mulai dari keadaan perabot, utang piutang dan kebutuhan hidup, hingga masalah-masalah krusial seperti percobaan bunuh diri yang kerap dilakukan Willy. Ia yang secara lantang mengeritik cara hidup dua anak laki-lakinya yang serba hedonis, termasuk kebiasaan mereka main perempuan. Ia yang meminta Biff dan Happy pergi, ia yang pertama kali sadar bahwa Willy dan anaknya tidak akan pernah dapat hidup bersama. Ia tahu bahwa ketiga laki-laki yang dicintainya memiliki cara pandang sendiri-sendiri dan kontradiktif tentang kehidupan macam mana yang harus masing-masing mereka jalani.

Dilema Linda Loman adalah upayanya untuk terus menerus menghidupkan impian Willy. Ia terus-menerus meyakinkan Willy untuk tetap tinggal bersamanya dalam kehidupan sebagai salesman, berjuang secara realistis dalam kehidupannya saat ini. Di sisi lain ia tetap saja membiarkan Willy untuk percaya bahwa anak-anak laki-lakinya sedang berusaha keras meraih cita-cita keluarga mereka. Linda yang meyakinkan anak-anaknya untuk meminjam uang dan memulai usaha seturut keinginan ayah mereka tetapi di saat yang bersamaan meminta mereka pergi, untuk menyelamatkan Willy dari putus asa yang mematikan. Meski pada akhirnya Linda harus jujur soal mobil yang sengaja dirusak Willy untuk mendapat uang asuransi kecelakaan. Ia jujur kepada Willy bahwa pihak asuransi tahu kesengajaan Willy dan tidak akan mengganti beban kerugian.

Linda Loman versi Death of a Salesman boleh jadi merepresentasikan konsep perempuan yang memiliki model peran yang terbatas dan banyak berkutat pada hal-hal domestik. Linda menunjukkan proporsionalitas sebagai seorang perempuan yang melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah secara efisien, hal yang tidak seharusnya diyakini sebagai kelaziman dalam perspektif gender tetapi dalam kenyataan kisah ini, justru menjadi nyawa dan jiwa dari keseimbangan keluarga Loman.

Meski tidak kebal terhadap impian-impian akan kemajuan yang menggerakkan masyarakatnya, Linda menunjukkan independensi yang kuat, yang membuat dirinya tetap berpijak pada realitas. Dukungannya pada Willy Loman dan kesetiaannya pada pernikahan (bahkan meski pernah diselingkuhi Willy tanpa ia tahu) melampaui sebentuk kepatuhan seorang perempuan pada budaya dominan. Ia percaya sepenuhnya pada Willy yang menyerahkan seluruh diri dan hidupnya pada determinasi ekonomi, pada budaya yang digerakkan oleh komersialisasi dan pemujaan terhadap kekayaan sebagai sumber kebahagiaan di dunia ini, tetapi tidak serta merta menjadi budak dari situasi itu. Ia menjadi satu-satunya yang sadar, hidup di sini dan saat ini dan sebisa mungkin mengendalikan keadaan.

Linda Loman adalah karakter perempuan yang spesial, yang berbeda dari citra perempuan lain yang ditampilkan dalam Death of a Salesman. Meski semua citra perempuan yang ada dalam cerita ini tentu didefinisikan oleh budaya patriarki yang kental, sosoknya memberi perbedaan: di tengah situasi masyarakat yang memuja dan merayakan materi, dengan ambisi dan kompetisi yang terarah pada kemajuan, cinta dan kesetiaannya pada suami dan keluarga menyediakan satu fokus yang lain pada nilai-nilai moral-etis melalui melodrama yang sederhana dan secara ironis menampilkan satu kualitas transenden yang melampaui seluruh alasan-alasan dari intrik yang tersebar dalam keseluruhan cerita.

Kesetiaan Linda Loman misalnya digambarkan dalam monolog berikut:

LINDA: Forgive me, dear. I can’t cry. I don’t know what it is, I can’t cry. I don’t understand it. Why did you ever do that? Help me Willy, I can’t cry. It seems to me that you’re just on another trip. I keep expecting you. Willy, dear, I can’t cry. Why did you do it? I search and search and I search, and I can’t understand it, Willy. I made the last payment on the house today. Today, dear. And there’ll be nobody home. (A sob rises in her throat.) Were free and clear. (Sobbing more fully, released.) Were free. (Biff comes slowly toward her.) Were free… Were free…

Tentu bukan sebuah prototipe, sosok Linda Loman boleh jadi adalah metafora bahwa progresivitas dalam paham modern perlu terus-menerus ditilik. Kualitas-kualitas seperti cinta, kesetiaan, pengorbanan, kekeluargaan, harapan yang kerap abai ketika semua hal berusaha dirumuskan dalam kerangka kemajuan, emansipasi, dan kemandirian individu. Kehadiran Linda Loman menegosiasi citra-citra perempuan yang negatif dan patriarki, yang tersebar dalam pikiran para tokoh pria dalam naskah ini. Selain itu, ia juga mempertanyakan ukuran-ukuran yang kerap dipakai dalam masyarakat modern seperti pendewaan hal-hal komersial di atas nilai.

Resistensi Linda terhadap konstruksi ekonomi kapitalistik misalnya tampak dalam dialog berikut:

LINDA: I cant understand it. At this time especially. First time in thirty-five years we were just about free and clear. He only needed a little salary. He was even finished with the dentist.

CHARLEY: No man only needs a little salary.

LINDA: I cant understand it.

Death of a Salesman Konflik Keluarga dalam modern infografik


Death of Salesman masih penting juga relevan untuk dibaca dan dipanggungkan saat ini, tidak terkecuali di Indonesia, minimal karena dua alasan.

Pertama, Death of a Salesman merepresentasikan dengan baik konflik-konflik keluarga di zaman modern ini. Kisah ini menunjukan betapa keluarga tidak berada dalam vakum sosial masyarakat. Konflik-konflik keluarga yang kelihatan personal ternyata juga dikonstruksi oleh perubahan-perubahan sosial-ekonomi-politik suatu masyarakat/negara, termasuk ekses-ekses dari visi modernisme yang telah melampaui batasan-batasan geografis.

Naskah ini bisa menjadi refleksi yang baik untuk melihat kembali problem dan konflik keluarga di Indonesia yang kerap dipicu oleh permasalahan ekonomi. Masalah-masalah urbanisasi, dilema-dilema perihal meninggalkan kampung halaman untuk mencari nafkah atau tetap tinggal dan mengusahakan sumber daya yang ada di kampung halaman bisa dipantulkan serta didialektikakan dengan keseluruhan isi dari naskah ini.

Kedua, Death of a Salesman mampu menghadirkan dengan cukup detil bagaimana sisi domestik sebuah rumah tangga yang di dalamnya tercakup status dan pola pembagian peran yang melibatkan laki-laki dan perempuan. Domestifikasi dan pandangan negatif peran perempuan cukup mencolok dalam pikiran para tokoh laki-laki. Ini bisa dibaca sebagai strategi untuk memunculkan isu gender dalam keluarga/masyarakat modern. Melalui sosok Linda Loman, naskah ini memberi tawaran lain soal pentingnya visi moral-etis di tengah dinamika modernisme dalam masyarakat yang bercorak kapitalistik dan developmentalistik.

Dalam konteks lokal di Indonesia, naskah ini membentangkan satu tawaran refleksi dan negosiasi terhadap cita dan citra emansipasi perempuan yang kerap bias ketika menemui dilema antara visi-visi modernisme dan kualitas-kualitas/nilai-nilai budaya setempat. Cita-cita dan citra emansipasi gender yang kerap memaki standar-standar modern (Barat) perlu terus ditimbang dan dibaca ulang dalam satu kerangka yang komprehensif dalam dialektikanya dengan konteks masyarakat dan budaya lokal.(*)

***

[1]Sulit bagi saya yang tumbuh di lingkungan yang tidak memiliki ekosistem berteater menemukan naskah ini dalam bahasa Indonesia. Dalam penelusuran saya, beberapa penulis lakon Indonesia pernah menyadur naskah ini, antara lain Asrul Sani dan Nano Riantiarno. Meski demikian, naskah yang di Indonesia lebih familiar dengan judul Matinya Pedagang Keliling ini sangat sulit diakses publik. Saya mendapat akses satu naskah bahasa Indonesia koleksi Joko Kurnain, tetapi memilih untuk tetap membaca versi bahasa Inggris karena beberapa pertimbangan. Jika menemukan naskahnya saja susah, tentu mudah ditebak kalau sama sekali belum menonton pertunjukannya. Meski demikian, naskah ini tentu dapat diperlakukan sebagai karya sastra, yang mandiri dari pertunjukannya.


Infografik: Daeng Irman

Baca juga:
– [Ulasan Buku]: Memasuki Cerpen “Singgah di Sirkus” Karya Nukila Amal
– [Ulasan Film]: Cold War: Romansa yang Terjebak dalam Politik Ideologi Negara

Bagikan artikel ini ke: