Menu
Menu

Masuk Akalkah Novel Ini? Parateks?

Setelah saya, Armin Bell menyampaikan hasil pembacaannya. Bagi Armin, semua cerita itu sebenarnya realis, tergantung dari kacamata mana dulu kita melihatnya. Ia mengaku tidak tertarik dengan novel ini sebab di bagian awal sudah tidak rasional. “Kepalanya sudah dicopot tetapi kemudian masih bisa mengamati hal-hal dan membuat keputusan untuk bertindak? Sekalipun ada kandar kilas atau apa pun itu namanya yang berfungsi menyimpan data dan sebagainya, tetap saja bagaimana itu bisa terlihat masuk akal? Ketika bagian itu sudah gagal saya terima, saya tidak teruskan (membacanya),” tutur Armin.

Armin melanjutkan, novel-novel seperti ini baik apabila menjadi referensi, khususnya bagi para penulis yang ingin belajar mengembangkan teknik kepenulisan. Buku-buku seperti ini bisa jadi sengaja diterbitkan dengan pertimbangan bahwa ada sekian banyak cara bertutur, dan setiap pembaca wajib mengenal beragam cara tersebut. Namun demikian, novel dengan kisah seperti ini tidak disarankan untuk mereka yang menjadikan aktivitas membaca sebagai sesuatu yang menyenangkan atau sekedar mengisi waktu, termasuk mereka yang adalah pembaca pemula.

“Saya pikir, Triskaidekaman memang diciptakan untuk menulis sesuatu yang hanya ditujukan untuk orang-orang tertentu. Bukan untuk pembaca umum. Dan sejauh pengalaman membaca selama ini—termasuk novel-novel terjemahan, saya tidak banyak bertemu kisah dan teknik penceritaan yang seperti ini,” tutup Armin.

Parateks

Marcelus Ungkang hadir malam itu dan mendapatkan kesempatan terakhir untuk berbicara. Celus memulainya penjelasannya dengan mengambil potongan kisah dari halaman 1-11. Menurut pengamatannya, 11 halaman tersebut lebih kepada mensimulasikan kondisi daripada menceritakan.

Aliran kesadaran manusia terbiasa mensimulasikan apa yang terjadi di kepala ketika menemukan pembicaraan yang sulit untuk pahami. “Di benak manusia, segala sesuatu itu campur aduk. Random. Kadang muncul yang ini, lalu tiba-tiba sudah memikirkan hal yang lain, kemudian muncul yang itu. Semuanya tidak saling berhubungan. Triskaidekaman menuliskan apa yang sebenarnya sedang muncul di benak kita. Ia tidak sedang menceritakannya, melainkan mensimulasikan itu. Teknik ini dimulai dulu sekali oleh James Joyce,” Jelas Selus.

Persoalan kisah dalam novel ini sebenarnya adalah penafsiran. Ada alat bantu, bukan untuk mengerti kisah dalam novel ini tetapi untuk memahami apa yang terjadi pada diri kita ketika membacanya. Jadi kita tidak akan membicarakan teks novel ini, tetapi bagaimana kita mencari cara untuk membacanya. Ada yang namanya parateks. Semacam gerbang. Jika dibagi lagi secara spasial, ada yang namanya periteks (bentuknya: tulisan yang membahas tentang karya tertentu dan bisa menjadi rujukan untuk memahami karya tersebut) dan epiteks (bentuknya: testimoni pembaca pertama, atau gambaran umum tentang karya yang biasanya kita temukan di halaman depan buku atau sampul bagian belakang).

Pada novel Cara Berbahagia Tanpa Kepala, kita dapat menemukan epiteksnya pada sampul belakang buku. Kira-kira demikian gerbang yang sengaja dihadapkan kepada kita untuk bisa masuk ke dalam cerita. Halaman 1-11 yang dimaksudkan sebelumnya adalah simulasi dari epiteks ini sehingga ketika menjadi karya, ia tidak menceritakannya, melainkan mensimulasikan kebingungan kita yang terpecah-pecah itu.

“Bagian Alfa di halaman depan novel ini juga bisa dilihat sebagai epiteks (panduan membaca). Kita bisa mengakses cerita dengan lebih mudah jika mengikuti cara tersebut. Jika coba kita kaitkan dengan cerita, lima titik Alfa ini bisa kita pahami sebagai; sebuah awal bisa lebih dari satu, yang akan berakhir pada satu Omega,” ungkap Dosen di Unika St. Paulus Ruteng ini.

Malam itu, Marcelus Ungkang juga menyinggung tentang karya-karya pascamodern. Cara Berbahagia Tanpa Kepala merupakan salah satu yang masuk di dalamnya.

“Situasi menjadi pelik ketika kita berhadapan dengan fiksi-fiksi pascamodern. Di Indonesia sendiri, diskusi tentang pascamodern masih berkutat di sekitaran pemikiran atau filsafat, belum sampai ke ranah sastra/fiksi. Setelah sekian tahun, orang menjadi skeptis karena sepertinya percakapan tentang ini tidak berkembang ke mana-mana atau segala hal pelik ini bisa dikatakan sebagai pascamodern? Ia digambarkan seperti anak kecil yang membongkar mainan, setelah terpisah-pisah, ia kemudian tidak tahu bagaimana cara menggabungkannya lagi,” tutur Celus.

Ia melanjutkan, “Ketika belakangan ini kemudian muncul fiksi-fiksi pascamodern, pembentukan epiteksnya (gerbang untuk masuk ke dalam karya-karya tersebut) tidak begitu baik. Penciptaan gerbang untuk publik, gagal total. Akses terhadap teks-teks menjadi sedikit. Analoginya seperti kita menonton televisi, kadang siarannya banyak tetapi karena kita hanya memiliki antena lama yang hanya bisa menangkap satu saluran maka kita hanya bisa menonton siaran yang itu-itu saja. Maka dari itu, pembicaraan-pembicaraan tentang teori dan sebagainya dalam kaitan dengan karya pascamodern (periteks), diskusi-diskusinya hampir tidak ada. Sedikit sekali ulasan-ulasan atau kajian-kajian tentang pascamodern yang sebenarnya dapat menjadi gerbang untuk memasuki karya-karya sastra/fiksinya. Beda dengan karya-karya modern yang dengan gampangnya kita temui, bahkan masuk ke dalam kurikulum (sinopsis, unsur intrinsik dan ekstrinsik, dan sebagainya) sehingga kita kemudian menjadi sangat familiar dengan gaya penulisan modern.”

Penjelasan Marcelus Ungkang ini kemudian ditanggapi oleh Armin Bell. Ia membahas betapa pentingnya peran periteks dan epiteks ini untuk membantu kita lebih memahami karya sastra/fiksi.

“Dunia kritik sastra Indonesia seharusnya lebih serius membicarakan jembatan penghubung ini. Teks-teks sastra yang sulit akan lebih mudah diakses oleh banyak orang tetapi tidak juga oleh sangat banyak orang. Hal ini juga seharusnya menjadi masukan penting bagi penerbit seperti Gramedia yang terus memproduksi karya-karya fiksi seperti Cara Berbahagia Tanpa Kepala atau Semua Ikan di Langit. Jika ingin mendapatkan lebih banyak pembaca, sebaiknya Gramedia juga lebih tekun mendorong hadirnya perbincangan-perbincangan atau menerbitkan referensi-referensi yang bisa membantu pembaca agar lebih mudah mengakses novel-novel tersebut,” tutup Armin.

Cara Berbahagia Tanpa Kepala diberi bintang 2,5 oleh para peserta yang hadir malam itu.

Buku selanjutnya yang telah dibahas di Bincang Buku XVIII, adalah novelet karya Sabda Armandio, Dekat dan Nyaring. Notulennya akan terbit bulan depan di Bacapetra.co. Sementara Bincang Buku XIX akan berlangsung pada akhir bulan ini, tepatnya di tanggal 30 Juli 2020 di Toto Kopi, Ruteng. Sampai jumpa(*)


Baca juga:
– Puisi-Puisi Triskaidekaman – Gaudeamus Igitur
– Afrizal Malna: Apa yang Bergerak di Dekat Kita?

Bagikan artikel ini ke: