Menu
Menu

Aib dan Nasib, Situasi Batas dan Cara Kerja Emosi

Tibalah giliran saya untuk menyampaikan hasil pembacaan. Saya sepakat dengan hal-hal yang telah diungkapkan para pembaca sebelumnya, tetapi sedikit berbeda pandangan dengan Hermin soal pemilihan bentuk fragmen.

Penyajian cerita dalam bentuk fragmen justru memikat dan tidak menimbulkan kebingungan. Saya menemukan bahwa Aib dan Nasib memiliki pola yang sama dalam setiap sub bab ceritanya. Sebagai contoh, setelah bercerita tentang Boled Boleng, akan ada cerita tentang Mang Sota, dan seterusnya bergilir ke tokoh-tokoh yang lain.

Sebagaimana tertera dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata aib dan kata nasib memiliki definisi yang berbeda. Meski demikian, sukar menemukan perbedaan makna kedua kata tersebut dalam novel ini. Aib seolah-olah adalah nasib itu sendiri. Sebaliknya, nasib mau tak mau adalah aib bagi mereka. Saya melihat Aib dan Nasib sebagai novel yang lebih banyak bercerita tentang situasi batas manusia yakni penderitaan para tokoh. Mereka menderita hingga tiba pada titik pasrah dengan keadaan. Hal ini dapat digambarkan secara gamblang dalam novel, misalnya pada beberapa kalimat seperti, “diterima saja, ini sudah kehendak Gusti Pangeran” atau “ya terima saja, jadi isteri memang begitu, nanti juga lama-lama Kartono pasti cinta.”

Para tokoh ini tidak memiliki keberanian untuk keluar dari situasi batasnya. Mereka tidak punya daya-upaya untuk berubah. Setiap tokoh dalam fragmen hanya menyodorkan kisah pilu penderitaan. Hemat saya, Minanto gagal membungkus rangkaian penderitaan tersebut menjadi sesuatu yang dapat ditertawakan. Berbeda dengan beberapa kisah yang pernah saya baca, misalnya dalam Cerpen Pilihan Kompas 2019; walaupun kisahnya menyayat para tokoh, pada akhirnya, mereka sampai pada puncak rasa syukur terhadap kehidupan melalui narasi dan dialog-dialog yang layak ditertawakan. Seturut pemikiran saya, kisah yang baik akan menggambarkan tokoh-tokoh yang telah “selesai” dengan penderitannya tersebut. Alhasil, bukan lagi keluhan yang keluar, melainkan lelucon-lelucon getir.

Hal lain yang menarik perhatian saya yakni “cara berpikir” para tokoh jika dihubungkan dengan teori “law of attraction” atau hukum tarik-menarik. Teori ini memang masih dianggap sebagai pseudoscience artinya sesuatu yang diyakini benar, akan tetapi belum dapat dibuktikan dengan metode ilmiah. Teori ini mempercayai segala hal yang kita pikirkan, baik itu positif atau negatif, adalah hal-hal yang juga akan terjadi pada kita. Itulah yang saya amati dalam novel ini. Situasi batas yang terjadi membuat para tokoh cenderung memikirkan hal-hal yang lebih buruk. Kekuatan berpikir negatif itulah yang malah menarik mereka kembali masuk dalam situasi yang jauh lebih pelik.

Jika ditanya soal siapa tokoh yang paling berkesan, saya akan memilih Mang Sota. Hemat saya, dialah tokoh yang paling menderita dan ingin sekali saya bantu. Saya cukup menyesal bahwa di akhir cerita, ia memilih pergi tanpa menyelesaikan apa pun. Ia pergi membawa segala luka yang dialaminya.

Cara Kerja Emosi

Berikutnya, Lolyk mendapat giliran untuk mengutarakan hasil pembacaanya. Ia mulai dengan membagikan kesan umumnya setiap kali membaca karya sastra, baik itu novel atau pun puisi.

Hal pertama yang muncul adalah pengalaman emosional, berkaitan dengan apa yang ia rasakan, sebelum melangkah ke pengalaman bernalar. Apabila “menyentuh” secara emosional, maka karya satra tersebut akan terus dibacanya. Beberapa bulan lalu, Lolyk coba membaca Aib dan Nasib, tetapi setelah menyelesaikan dua halaman awal, mahasiswa pascasarjana STFK Ledalero ini merasa novel ini kurang menarik. Artinya, bagian pembuka karya sastra tersebut tidak mampu menyentuh pengalaman emosionalnya sehingga ia memutuskan untuk berhenti. Namun, ketika novel ini dipilih untuk dibincangkan Klub Buku Petra, Lolyk pun berusaha menyelesaikannya.

Setelah tuntas dibaca, ada beberapa hal yang menjadi komentarnya, antara lain soal fragmen-fragmennya yang padat dan pas. Mereka otonom, mandiri, dan tidak terbebani oleh tuntutan sosial, pesan moral, atau kebermanfaatan juga hal-hal yang bersifat politis. Selain itu, fragmen-fragmen dalam novel Aib dan Nasib ini semacam saling kejar. Hal tersebutlah yang membuat nasib menjadi sebelas dua belas dengan aib. Entah disadari atau tidak , ketika berbicara aib berarti kita sedang membincangkan tentang nasib. Dalam hal ini, nasib semacam mengalami penurunan makna.

Malam itu, Lolyk membingkai pembacaannya dengan kerangka perbandingan teori sastra modern dan postmodern. Muatan karya sastra modern sarat akan tuntutan nilai, aturan sosial, nasihat moral seperti apa yang harus dilakukan dan dihindari. Sebaliknya, sastra postmodern lebih bersifat otonom artinya tidak terikat pada konveksi moral atau tuntutan sosial. Demikianlah, Aib dan Nasib bagi Lolik, adalah salah satu contoh karya postmodern; “Minanto bercerita dengan apa adanya, tanpa dikejar unsur manfaat. Itulah yang membuat buku ini menarik.”

Pada akhirnya, Lolyk melihat penulis berusaha menawarkan sesuatu yang baru melalui fragmen-fragmen yang dibuat berdasarkan masing-masing tokoh. Tentang kelemahan-kelemahan yang telah disampaikan para pembaca lain, Lolyk merasa bagian-bagian itu dapat dimaklumi sebagai bagian dari kesalahan teknis.

Maria menjadi peserta keenam yang menyampaikan hasil pembacaannya. Tidak jauh berbeda dengan apa yang telah disampaikan oleh peserta bincang buku lainnya, ia mengutarakan rasa empatinya terhadap tokoh-tokoh perempuan dalam novel ini, misalnya kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan Kartono terhadap Gulabia, atau cara menggambarkan kesengsaraan Eni sebagai perempuan. Sebagaimana Yuan, moderator bincang buku kali ini mempertanyakan tentang cara pandang penulis terhadap perempuan. Ia juga kerap menjumpai pandangan serupa di novel lain.

Menurut Maria, pada beberapa kebudayaan, perempuan menjadi gambaran kepasrahan dan sosok yang menanggung kesengsaraan. Mengambil perbandingan kisah Sodom dan Gomora, buku ini baginya terkesan sadis karena hanya berisi kisah-kisah jahat dan memilukan.

Marcelus Ungkang menjadi peserta terakhir yang diberi kesempatan bicara malam itu. Celus sendiri belum sempat menyelesaiakan buku tersebut. “Saya (akan) agak cepat berhenti membaca jika saya cepat tahu teknik yang dipakai penulis.”

Selanjutnya, Celus memberi tanggapan soal emosi sebab secara kebetulan beberapa waktu belakangan, ia sedang mendalami kajian emosi baik dalam film maupun karya sastra. Celus menyinggung tentang Cliffhanger atau model ending cerita yang bersifat menggantung. Audiens disilakan menafsir sendiri kelanjutan cerita. Di sanalah akan terbangun tensi penonton.

“Jika ditelusuri seturut kajian psikologi, tensi selalu dibangun ke arah depan. Tensi diciptakan oleh antisipasi, prediksi, dan ekspetasi. Ketiga hal inilah yang menarik kita untuk terus menonton atau membaca, sebab model itu memang dirancang untuk maju ke depan. Dalam konteks ini, manusia memang butuh ketidakpastian. Dari segi kajian emosi, bentuk novel dengan fragmen yang singkat seperti ini, cenderung akan terus dibaca,” ungkapnya.

Celus Ungkang menghubungkan emosi dengan proses kreatif penciptaan karya sastra dan film. Saat ini, data perilaku penonton telah dikembangkan menjadi salah satu unsur penting proses pembuatan sebuah karya. Misalnya, pemanfaatan kajian tentang big data yang memanfaatkan data perilaku penonton ketika memilih jenis film, kapan film tersebut diberhentikan, dan sebagainya.

Celus menutup komentarnya dengan menanggapi kajian tentang fiksi postmodern. Menurut Celus, fiksi postmodern bisa jadi adalah sebuah bentuk reaksi terhadap karya-karya modern. Dalam fiksi modern pembaca dihadapkan pada pilihan agar suatu karya dibaca untuk ditafsirkan, sementara fiksi baru menolak untuk ditafsirkan. Pembaca dihindarkan dari kemampuannya menghasilkan sesuatu yang total, sehingga dari segi pilihan bentuk, memilih menulis fragmen menjadi sebuah kecenderungan.

Ditambahkannya, di beberapa tempat (di luar Indonesia), orang-orang menggunakan jenis sastra postmodern untuk melawan bentuk mainstream karya sastra modern. Sementara untuk konteks Indonesia, kemunculan jenis sastra postmodern patut dipertanyakan kiblatnya. Apakah memang betul, ia muncul sebagaimana spirit postmodern, menentang pengarusutamaan sastra modern di Indonesia? Ataukah kemunculan tersebut hanya merupakan fenomena ikut tren atau ikut arus saja?

Menutup diskusi malam itu, Maria sebagai moderator melemparkan pertanyaan tentang siapa tokoh pilihan masing-masing. Tak disangka, Yuan memilih Susanto. Menyambung pertanyaan Dokter Ronald tentang tokoh antagonis, protagonis atau tokoh sentral dalam novel ini, bagi Yuan, Susanto adalah biang kerok. Dialah tokoh antagonisnya. Lebih jauh lagi Yuan menjelaskan bahwa si biang kerok ini merupakan satu-satunya tokoh yang punya pengaruh signifikan, tetapi tidak dijelaskan secara rinci kisah dan latar belakangnya.

Sementara Lolyk menjatuhkan pilihan pada Boled Boleng. Walaupun bodoh dan dicap tidak baik oleh masyarakat, dia menunjukkan jati dirinya tanpa kepura-puraan. Maria tetap memilih tokoh perempuan yakni Eni, yang hidup dengan segala dilema dan kesengsaraannya sebagai perempuan. Saya dan Dokter Ronald tetap pada pilihan awal yakni memilih Mang Sota. Sayang sekali, jaringan yang buruk membuat Hermin tidak sempat menyebutkan tokoh pilihan. Selain Hermin, Celus juga tidak mengungkapkan tokoh pilihannya karena ia belum selesai melahap buku tersebut.

Aib dan Nasib karya Minanto memperoleh bintang 4 dalam diskusi malam itu. Selanjutnya, buku yang akan dibahas di Bincang Buku Petra ke-27 adalah Sang Keris karya Panji Sukma, pemenang Kedua Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2019.(*)


Baca juga:
Cerpen Yuan Jonta – Mimpi Ular
Dawuk: Kalajengking dan Ular dan Kita

Kirim tulisan via surel ke alamat: redaksi@bacapetra.co.

Bagikan artikel ini ke: